Beranda Keislaman Akidah Memaknai Takdir dalam Kehidupan yang Kita Jalani, Menemukan Manisnya Iman

Memaknai Takdir dalam Kehidupan yang Kita Jalani, Menemukan Manisnya Iman

Harakah.id Memaknai takdir dengan benar akan membuat kita merasakan manisnya iman.

Di dalam kehidupan yang kita jalanin, sering kali kita menemukan hal-hal yang terjadi pada kita dan mungkin hal tersebut adalah sesuatu yang tidak diinginkan. Bahkan terkadang apa yang tidak pernah terbesit dalam hati dan pikiran kita pun dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa kita mengetahui dan mungkin tanpa kita dapat mempersiapkan nya.

Hal tersebut terjadi karena merupakan salah satu bukti bahwa Allah maha mengatur segala nya, Allah maha berkehendak atas segala sesuatu yang ingin ia kehendaki. Dan Allah tidak perlu mendiskusikan nya kepada manusia terlebih dahulu atas apa yang ingin Allah berikan kepada manusia, baik itu ujian maupun nikmat kehidupan yang mungkin saja nikmat yang Allah berikan sebenernya merupakan suatu ujian bagi diri kita.

Dalam hadits (Tirmidzi : 2070)  Rasulullah SAW bersabda :

لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ

“Seorang hamba tidak dikatakan beriman sampai dia mengimani tentang takdir yang baik dan takdir yang buruk, sampai dia mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin akan meleset darinya, dan sesuatu yang tidak ditetapkan atasnya tidak akan mungkin mengenainya.” (H.R Tirmidzi )

Keimanan seseorang dapat dipertanyakan apabila ia tidak mengimani ada nya takdir yang baik dan juga takdir yang buruk bagi dirinya. Seseorang harus percaya bahwasannya segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah dan tidak ada satupun yang meleset dari apa-apa yang sudah ditetapkan Nya. Apapun yang menjadi garis takdir seorang hamba, maka takdir tersebut akan menemui nya tanpa salah sasaran.

Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman mengenai kekuasaan nya atas segala sesuatu

الَّذِيْ لَه مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَّلَمْ يَكُنْ لَّه شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَه تَقْدِيْرًا

Artinya : “ Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(-Nya), dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat “  (Q.S al Furqan : 2)

Pada hakikat nya takdir sendiri bersifat mutlak, namun ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa ada takdir yang dapat diubah dengan cara berikhtiar dan berdoa. Adapun takdir yang bersifat mutlak di sini adalah kematian dan kelahiran. Dan contoh takdir yang dapat diubah (mubram) ketetapan nya ialah musibah.

Walupun demikian ada kemungkinan takdir dapat diubah, kita sebagai manusia tidak pernah tahu menahu bahwa apakah memang yang terjadi pada diri kita itu merupakan takdir yang tetap (mualaq) atau memang takdir yang diubah  (mubram) dari ketetapan awal  dengan adanya ikhtiar serta doa yang kita jalanin.

Ketetapan takdir sendiri sebenernya masih menjadi sebuah perdebatan di kalangan para ulama. Adanya perbedaan cara pandang antara kaum Mu’tazilah dan kaum Asy’ariyah dalam memandang suatu takdir. Kaum mu’tazilah beranggapan bahwasannya setiap yang Allah tetapkan untuk kita merupakan satu hal yang mutlak dan tidak ada sesuatu apapun yang dapat mengubah nya termasuk berdoa dan berikhtiar. Karena menurut mereka doa sendiri merupakan suatu hal yang memang seharusnya dilakukan oleh semua umat Islam dan itu merupakan satu hal ibadah yang umum, bukan untuk mengubah adanya ketetapan Allah yang diberikan kepada kita.

Beda halnya dengan pemahaman kaum Asy’ariyah yang berpendapat bahwa doa dan ikhtiar itu dapat mengubah ke mungkin takdir yang tidak baik menjadi takdir yang baik. Misalnya, adanya doa penolak bala dan lain-lain. Hal tersebut diyakini bahwa itu dapat mengubah sesuatu ketetapan Allah yang Allah berikan kepada kita, suatu musibah, maka dengan adanya doa tersebut dengan ikhtiar yang kita jalani kita berharap bahwa takdir yang buruk itu berubah menjadi takdir baik, walaupun memang sebenernya tidak ada daya dan upaya apapun yang dapat melawan kekuasaan Allah.

Apapun yang Allah tetapkan kepada hamba nya niscaya itulah yang memang terbaik yang Allah berikan kepada kita. Dan kita sebagai manusia hanya perlu bertawakal serta bersyukur atas apa yang sudah Allah tetapkan kepada kita. Allah tidak akan memberikan suatu ujian kepada manusia di luar batas kemampuan nya. Dalam artian bila kita diberikan suatu cobaan atau musibah oleh Allah SWT maka percayalah bahwa kita dapat melewati nya dengan baik. Dan tidak pula Allah memberikan cobaan terhadap hamba nya melainkan Allah mencintai hamba nya tersebut.

Jadi, apapun yang Allah kehendaki bagi diri kita niscaya kita akan menemui apa yang memang sudah menjadi ketetapan kita. Tugas kita hanya beriman kepada Allah serta beriman kepada ketentuan baik maupun takdir buruk. Dengan demikian, hal tersebut dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah dan membantu kita untuk mendapatkan kelezatan keimanan berkat kesabaran yang kita lakukan dengan cara lapang dada menerima atas apa-apa yang menjadi kehendak Allah terhadap kehidupan kita.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...