Beranda Keislaman Ibadah Membicarakan Lagi Poligami dari Perspektif Fikih Dan Tasawuf

Membicarakan Lagi Poligami dari Perspektif Fikih Dan Tasawuf

Harakah.id Poligami adalah isu yang mungkin belum selesai dibicarakan, atau bahkan tak akan pernah selesai dibicarakan. Artikel ini akan melihat permasalahan tersebut melalui perspektif fikih dan tasawuf.

Dalam bayangan banyak orang, sebuah pernikahan merupakan ikatan antara satu lelaki dan satu perempuan, serta didasari oleh cinta dan keinginan untuk menghabiskan hidup bersama dalam suka maupun duka hingga tua. Namun faktanya, konsep pernikahan bagi beberapa orang tidaklah mutlak seperti itu. Ada poligami, yang merupakan istilah umum untuk menyebut pernikahan yang terdiri dari satu suami dan lebih dari satu istri. 

Pembahasan masalah poligami ini pun masih sangat hangat untuk dibahas, karena dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat ada yang pro dan ada juga yang kontra. Terlepas dari itu penulis hendak menjelaskan poligami dari sisi yang beda, yakni dari sisi Fikih dan dari sesi tasawuf. 

Jika dilihat dari segi fikih, secara khusus, masalah poligami  telah diatur secara tegas  dalam syariat Islam. Hal ini merujuk pada al-Quran surat An-Nisa’ 3. Berdasarkan ayat tersebut, pada dasarnya poligami ini diperbolehkan. Namun demikian harus memenuhi syarat-syarat untuk melakukan perkawinan semacam ini. Di antaranya syarat itu, seseorang tidak boleh menikahi atau berpoligami lebih dari empat orang istri, bersikap adil terhadap istri-istri dan ketentuan-ketentuan lain yang dapat di rujuk di berbagai kitab-kitab fikih. Karena apabila seorang suami hendak melakukan poligami karena adanya sesuatu dalam perkawinannya tersebut. 

Dan hukum kebolehan ini bisa berubah sewaktu-waktu karena adanya motif bagi seseorang yang berpoligami bertujuan untuk memuaskan hawa nafsu semata. Ketika kita hendak mengharamkan poligami secara mutlak, maka kita akan bertentangan tentang hukum Allah yang menghalalkan poligami ini. Ketika Allah telah melegalkan praktik ini kepada masyarakat. Tidak serta merta dapat dipahami bahwa poligami sangat dianjurkan dalam agama Islam. Perlu diperhatikan bahwasanya ayat ini Cuma menjelaskan kebolehan bukan anjuran untuk berpoligami. 

Menurut M. Quraish Shihab beliau menegaskan bahwa ayat ini, tidak membuat satu peraturan tentang poligami, karena poligami telah dikenal dan dilaksanakan oleh syariat agama dan adat istiadat sebelumnya. Ayat ini juga tidak mewajibkan poligami atau menganjurkannya, dia hanya berbicara tentang kebolehan poligami, dan itu pun merupakan pintu darurat kecil yang hanya bisa dilalui ketika diperlukan dengan syarat-syarat yang sudah dijelaskan di atas.  

Memang dalam tata aturan hukum yang melegalkan atau melegitimasi poligami ini sangat rentan tentang penyalahgunaan kebolehan ini. Namun, dalam tradisi Islam, sudah ada rambu-rambu lain yang mengatur segala hal yang berkaitan dengan aspek dalam. Yakni, sebuah ilmu yang selama ini kita kenal dengan ilmu pembersihan hati (Tazkiyah an-nafs)

Jika dalam fikih adalah memuat hukum-hukum praktis, maka ilmu tazkiyah an-nafs yang lebih masyhur dikenal ilmu tasawuf adalah ilmu yang memuat etika dari hukum yang diterapkan. Dengan mempelajari ilmu seseorang akan paham tentang bagaimana sikap seseorang dalam menghadapi sebuah hukum. Untuk itu sangat diperlukan cabang keilmuan lain untuk mendukung persoalan-persoalan bersangkutan. 

Jika kita sudah melihat bagaimana dari sisi fikih terkait poligami (ta’addud az zaujat) alangkah baiknya kira juga melihat poligami dari sisi yang lain, yakni ilmu tasawuf. Tidak diragukan lagi bahwasanya perkawinan itu ibarat seperti pisau bermata dua. Jika dipegang oleh yang benar maka akan mendatangkan kemanfaatan. Sebaliknya, ketika dipegang oleh orang yang salah maka akan menimbulkan bahaya.  

Dalam kaidah ulama tasawuf, jika seseorang ada yang dapat menerima petunjuk dari al-Quran dan sunah Nabi, maka ia pasti juga menerima petunjuk dari Allah yang lebih khusus dari dalam qalbnya sendiri setalah mu’min bil-llah. Jika dikorelasikan dengan poligami para ulama tasawuf punya prinsip, poligami harus benar dijalaninya. Yaitu dengan cara memperoleh petunjuk dari Allah melalui hatinya, dalam menentukan boleh tidak poligami. 

Menurut Imam al-Ghozali dalam Kitab al-Ihya ‘Ulum ad-Diin, manfaat dari adanya perkawinan itu ada lima, pertama adalah manfaat anak. Kedua terjaga dari gangguan setan. Ketiga, menentramkan hati. Keempat, meluangkan waktu untuk mengurusi persoalan rumah tangga. Kelima, sebagai sarana memerangi hawa nafsu. Sedangkan dampak buruk dari perkawinan  adalah mudah terjerumus dalam perbuatan haram salah satunya itu menjadikan pembolehan poligami sebagai alat untuk memuaskah syahwatnya, dan disibukkan dengan keluarga sehingga melupakan ibadah kepada Allah. 

Adapun dua sisi yang melingkupi perkawinan ini belum terkait dengan konsepsi syahwat. Menurut pandangan Imam al-Ghozali, menjelaskan bahwasanya syahwat itu diposisikan sebagai pendorong yang menjadi lantaran wujudnya tujuan-tujuan perkawinan. Karena hal itu cuma bersifat sebatas pendorong, maka penggunaan syahwat tidak boleh melebihi dosis yang telah ditetapkan untuk mewujudkan keharmonisan rumah tangga. Ketika konsep ini menjadi patokan dalam berumah tangga dan memperhatikan lima manfaat yang telah di ungkap oleh Imam al-Ghozali. 

Dengan adanya hal itu para pelaku perkawinan tidak terjerumus ke dalam dampak buruk perkawinan. Misalnya melakukan poligami hanya bertujuan untuk memuaskan syahwat saja. Fenomena ini harus perlu disoroti daripada tata aturan tentang perkawinan lebih-lebih dalam hal poligami. Untuk mengawal itu semua dibutuhkan ilmu keagamaan yang utuh (fikih, tasawuf, ilmu zahir dan ilmu batin) kepada setiap orang agar mereka senantiasa terkontrol dalam aturan nilai yang baik dari tujuan-tujuan semu, seperti Syahwat. Karena sebagaimana pandangan umum dalam konsepsi tasawuf, segala hal yang buruk itu berasal dari ajakan hawa nafsu. 

REKOMENDASI

Mendamaikan [Kembali] Hisab dan Rukyat, Dua Metode Penentuan Awal-Akhir Bulan Dalam Penanggalan Hijriyah

Harakah.id - Hisab dan Rukyat adalah dua metode yang masyhur digunakan untuk menentukan awal dan akhir dalam penanggalan Hijriyah. Termasuk dalam...

Secercah Kisah Imam al-Bukhari dan Bapaknya; Catatan Singkat Sorogan Buku “Commentary of Forty Hadiths...

Harakah.id - Imam al-Bukhari adalah salah satu ulama yang kontribusinya tidak lagi bisa kita pertanyakan. Kitabnya, Sahih al-Bukhari, adalah kitab sahih...

Apakah Boleh Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang Pinjaman Dari Rentenir?

Harakah.id - Apakah boleh membayar zakat dengan uang pinjaman dari rentenir, maka sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena dia bukan tergolong orang...

Teologi Pembebasan dan Konsep Kebertuhanan dalam Pemikiran Hassan Hanafi

Harakah.id - Teologi pembebasan memang merupakan gagasan yang sudah cukup lama bergulir. Tapi demikian, gagasan lontaran Hassan Hanafi ini terbukti memang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...