Beranda Gerakan Membicarakan Lagi Pribumisasi Islam, Agama Sawah Agama Laut Ala Gus Dur

Membicarakan Lagi Pribumisasi Islam, Agama Sawah Agama Laut Ala Gus Dur

Harakah.id Pribumisasi Islam mungkin merupakan satu tawaran konsep yang paling populer dari Gus Dur. Dalam pribumisasi Islam, Gus Dur mengandaikan satu pertemuan yang harmonis antara doktrin dan tradisi masyarakat.

Di Indonesia, tak sedikit orang yang menganggap Kiai Abdurrahman Wahid [Gus Dur] sebagai fenomena yang merisaukan. Tak lain, karena sikap dan berbagai keputusan yang beliau diperlihatkan, baik ketika pra ataupun pasca istana. Dari sana, muncul kemudian kritik dan tanggapan negatif yang dilemparkan kepadanya.

Di sisi lain, bagi sekelompok orang, Gus Dur tak ubahnya seorang wali yang segala tindak tanduknya hanya bisa disikapi dengan kata “iya”. Sakralisasi pemikiran dan keyakinan bahwa Gus Dur adalah orang yang paham akan “apa yang terjadi di masa depan” adalah salah satu bentuk peng-“iya”-an tersebut. Walaupun, secara rasional beberapa tindakan yang dipilih Gus Dur tidak sesuai dengan pola pikir mereka. Tapi mau bagaimana lagi? Sebagai cucu Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari dan putera Kiai Wahid Hasyim, Gus Dur tetap mendapatkan kepercayaan kaum santri sebagaimana kepercayaan mereka kepada seorang kiai. “Ini masalah barokah”, kata mereka.

Salah satu yang menjadi ciri bagi segumpalan pemikiran Gus Dur yang tersebar di berbagai lembar tulisan adalah idenya tentang pribumisasi Islam. Yaitu bagaimana manusia, khususnya warga Indonesia menganggap dan memposisikan agama Islam sebagaimana mereka memposisikan tanah dan air sebagai dua sumber kebutuhan yang tidak bisa mereka nisbikan.

Pribumisasi Islam adalah soal bagaimana Islam mengejawantah tak ubahnya embun yang meloncat-loncat dari satu daun padi ke daun padi lainnya yang bergoyang-goyang karena angin pagi yang cukup kencang, yang sedikit demi sedikit membiaskan warna kekuningan sebagai tanda bahwa padi akan panen dan pak tani berbahagia akan mendapatkan segudang beras dan segepok uang. Bagaimana Islam kemudian melebur bersama para cacing, bekerja sama menyuburkan tanah nusantara yang hijau menzamrud khatulistiwa dari bujur hingga lintang.

Pribumisasi Islam Gus Dur hendak mengaburkan wujud Islam yang mengalami pembakuan dan kristalisasi. Beliau ingin melakukan relativisasi terhadap suara-suara dominan yang meneriakkan kata Islam kencang-kencang; suara-suara yang membungkam universalitas Islam itu sendiri.

Absolutisasi pemaknaan Islam inilah yang dipandang Gus Dur menjadi sumber bagi segala macam kekerasan yang terjadi, baik dalam lingkup entik, kebudayaan, terutama agama. Garis demarkasi berupa oposisi biner, sebagai akibat pelembagaan makna Islam di atas, dalam pikiran Gus Dur, harus lekas dirobohkan.

Untuk menuju hal itu, Gus Dur pun mengampanyekan toleransi dan pluralisme sebagai bentuk perhatian sekaligus perlindungan bagi kelompok-kelompok terpinggirkan. Kelompok minoritas diberi kesempatan berbicara. Dengan membuka toleransi, Gus Dur membentuk “ruang ketiga”, di mana kontestasi dan negoisasi kebudayaan diadu dengan jantan.

Sayangnya, dengan kampanye ini sebagian orang justru memasukkan Gus Dur ke dalam golongan yang mereka cap “liberal”. Apakah benar memang begitu? Ternyata tidak. Gus Dur tetaplah Gus Dur, sesosok kiai yang dicintai warganya. Seorang tokoh yang dicintai para kiai dan kalangan pesantren walaupun dalam prakteknya Gus Dur terlibat aktif dalam kegiatan agama-agama lainnya.

Kecintaan Gus Dur terhadap tradisi yang mengasuh dan membesarkannya merupakan salah satu gerakan postradisionalisme yang patut kita dudukkan sebagai wacana tandingan sekaligus benteng kokoh terhadap masuknya kolonialisme dalam bentuk terhalusnya. Dengan kecintaan terhadap tradisi itulah Gus Dur lekat dalam ingatan Indonesia bukan sebagai kafir haram jadah, akan tetapi sebagai seorang Kiai, Ulama dan Guru Bangsa.

Dan kalau kita amati, pribumisasi Islam merupakan misi kebudayaan yang berbeda dengan misi-misi kebudayaan serupa lainnya. Pribumisasi Islam mengandaikan keterbukaan ruang hibridasi dan memungkinkan pertarungan-pertarungan wacana terjadi. Dengan semangat menjaga tradisi dan keterbukaannya terhadap budaya lainnya, primbumisasi Islam memberikan satu trik untuk sama-sama menjaga keduanya secara porposional. Secara ringkas, Gus Dur dengan pribumisasi Islam-nya hanya berusaha mengaktualisasikan konsep “al-muhafadzatu ‘ala qadimi-s-shalih, wa-l-akhdzu bi-l-jadidi-l-ashlah” secara nyata.

Gus Dur lalu memberikan contoh Ludruk. Tradisi ludruk adalah kebudayaan yang berkembang pesat di daerah Jawa Timur. Banyak pihak yang mempertanyakan, bagaimana bisa ludruk sebagai tradisi yang kental dengan sarat erotisme dan kejorokannya dapat muncul dan berkembang di daerah agamis yang mayoritas penduduknya adalah santri seperti Jawa Timur. Untuk kasus ini Gus Dur menjelaskan secara historis bagaimana primbumisasi terjadi antara kebudayaan Jawa yang masih ada dengan tata nilai yang dipegang teguh oleh penduduk santri Jawa Timur. Dalam konteks poskolonial, kasus ini dinamakan hibriditas kebudayaan. Hubungan di antara keduanya putus-putus, menandakan suatu hubungan yang ambivalen. Dengan garis putus-putus itu pula negoisasi dimungkinkan terjadi secara dekontruktif.

Hal ini dimulai dari kedatangan Islam di Jawa Tengah. Saat itu, pusat peradaban jawabisa dikatakan berada di daerah ini, ditunjukkan dengan dua kekratonan besar; Yogyakarta dan Surakarta. Otomatis, Islam kemudian mengambil sebagian adat jawa untuk menjadi sarana bagi proses Islamisasi. Arsitektur bangunan jawa yang masih dipengaruhi budaya Hindu-Budha dan seni pewayangan adalah dua hal yang banyak menjadi fokus garapan walisongo. Para kiai waktu itu tetap menikmati pertunjukan wayang walaupun dalam dirinya terdapat pertarungan ideologis yang cukup dilematis. Dengan “pura-pura” berpartisipasi, para tokoh agama turut menikmati hal tersebut.

Akan tetapi hal ini tidak terjadi di Jawa Timur yang secara geografis cukup jauh dari pusat peradaban jawa di Jawa Tengah. Ditambah dengan kultur kesantrian yang mengental karena dibangun oleh beberapa pesantren besar seperti Tebuireng asuhan Kiai Hasyim Asy’ari. Dari ketegangan budaya inilah kemudian para santri membentuk satu kesenian anternatif dengan pemain laki-laki untuk menggantikan pemain perempuan dalam aturan permainan asli karena sisi “haram” dalam ideologi mereka sebagai seorang pelajar agama. Karena dirasa kurang menarik, muncu alterntif lainnya sebagai bentuk kelanjutan proses primbumisasi, yaitu pewajahan perempuan atas para pemain laki-laki. Dari sini, ludruk muncul dan mulai dikenal.

Dari contoh kasus ini terlihat bagaimana pertarungan kebudayaan jawa dengan tata nilai agama diselesaikan secara kreatif oleh para santri. Dua sisi yang bertentangan baik secara ideologis maupun normatif itu diberikan posisi yang sama dan setara sehingga kontestasi yang terjadi berjalan produktif. Kalaupun Hommi K. Babha menteorikan adanya ruang ketiga, dalam diri Pribumisasi Gus Dur lah teori itu mendapatkan penerapan aplikatifnya.

Dengan mengacu pada dua aforisma sebelumnya: “al-muhafadzatu ‘ala qadimi-s-shalih, wa-l-akhdzu bi-l-jadidi-l-ashlah” dan “…mengokohkan kembali akar budaya kita, dengan tetap berusaha menciptakan masyarakat yang taat beragama”, pibumisasi menjadi satu bentuk nyata yang sangat khas tentang model keberagamaan seperti apa yang harus sama-sama kita upayakan kini. Melalui Pribumisasi Islam, setidaknya ada dua hal yang bisa kita jaga dan seimbangkan.

Pertama, dalam perjalanannya menemukan identitas, pribumisasi tetap berpijak pada tanah di mana dia dilahirkan. Dalam hal ini, tradisi menjadi penting sebagai sebuah warisan hidup, bukan hanya artefak mati yang pantas dimuseumkan. Mengapa? Karena dalam tradisilah kita bisa menemukan lintangan kesinambungan antara masa lalu-masa kini dan masa depan.

Kedua, pengukuhan terhadap tradisi tidak lalu berujung pada sikap konservatif yang anti pada pembaharuan dan modernisasi. Ia tetap membuka pintu lebar dan menyediakn ruang bagi segenap kebudayaan yang masuk dan keluar untuk melakukan negoisiasi-negosiasi kultural. Dengan begitu, sebagai “haki”, tradisi menjadi dzat ad-dakhily yang mutlak dipegang, dikuasai dan dikokohkan. Adapun kebudayaan-kebudayaan luar hanya berfungsi sebagai materi pengkayaan terhadap dzat tradisi yang sudah dikembakbiakkan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...