Beranda Keislaman Hadis Membincang Hadis Makan Sahur Saat Azan Sudah Berkumandang

Membincang Hadis Makan Sahur Saat Azan Sudah Berkumandang

Harakah.id Hadis riwayat Imam Abu Dawud tentang bolehnya makan sahur saat azan subuh berkumandang bertentangan dengan ayat Al-Quran dan hadis-hadis sahih lainnya. Hadis riwayat Abu Dawud tersebut bisa berlaku untuk orang yang ragu dengan azan subuh, apakah sesuai dengan jadwal atau tidak.

Salah satu isu yang ramai dibacarakan pada bulan Ramadhan 2021 ini adalah terkait dengan batas akhir waktu sahur. Persoalan ini muncul di masyarakat karena ada pendapat baru yang menyatakan bahwa batas akhir waktu sahur adalah ketika azan telah selesai. Yang dimaksud azan di sini adalah azan waktu subuh.

Kelompok yang mempopulerkan pendapat ini berdasar pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ، فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ” , (د(

Dari Abu Hurairah yang berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Ketika salah seorang dari kalian mendengar azan, sedangkan piring masih di tangannya, hendaknya ia tidak meletakkan piring itu sampai ia menyelesaikan hajatnya dari makanan itu.” (HR. Abu Dawud).

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud. Selain ditemukan dalam kitab Sunan Abi Dawud, hadis ini juga ditemukan dalam kitab Musnad Ahmad. Imam Ahmad meriwayatkan hadis tersebut dari sahabat Hasan bin Ali, Abu Hurairah dan hadis senada dari Jabir bin Abdullah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَنْ يُونُسَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ الْأَذَانَ، وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ، فَلَا يَدَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ مِنْهُ» (حم)

Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW. Dan dari Yunus, dari Al-Hasan, dari Nabi SAW yang bersabda, “Ketika salah seorang dari kalian mendengar azan, sedang piring masih di tangannya, maka dia jangan meninggalkan piringnya sampai ia menuntaskan hajatnya.” (HR. Ahmad).

Dalam redaksi lain, Imam Ahmad meriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ، فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ» (حم)

Ketika salah seorang dari kalian mendengar azan, sedang piring masih di tangannya, jangan meletakkannya sampai ia menuntaskan hajatnya.” (HR. Ahmad)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ وَزَادَ فِيهِ: وَكَانَ الْمُؤَذِّنُ يُؤَذِّنُ إِذَا بَزَغَ الْفَجْر. (حم)

Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, yang mengatakan hadis semisal di atas, dan ia menambahkan di dalamnya kata-kata, “Dan muazin mengumandangkan azan ketika fajar shadiq telah terbit.” (HR. Ahmad).

حَدَّثَنَا مُوسَى، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، قَالَ: سَأَلْتُ جَابِرًا عَنِ الرَّجُلِ يُرِيدُ الصِّيَامَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ لِيَشْرَبَ مِنْهُ، فَيَسْمَعُ النِّدَاءَ، قَالَ جَابِرٌ: كُنَّا نُحَدَّثُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لِيَشْرَبْ» (حم)

Musa meriwayatkan kepada kami, dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu Zubair, yang berkata, “Saya bertanya kepada Jabir tentang seorang lelaki yang ingin puasa. Gelas ada dalam genggamannya untuk diminum. Lalu ia mendengar azan. Jabir berkata, ‘Kami diberi cerita bahwa Nabi SAW berkata, ‘Hendaknya dia meminumnya.’” (HR. Ahmad).

Hadis-hadis di atas seakan secara tekstual menyatakan bahwa batas waktu sahur belum berakhir ketika azan subuh berkumandang. Seseorang masih diperbolehkan menyantap sahur atau menghabiskan minumannya saat azan sudah berkumandang. Karena, dalam hadis ini disebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan agar kita tidak meletakkan piring itu sampai menyelesaikan makan kita. Selain bersumber dari riwayat Imam Abu Dawud dan Imam Ahmad, hadis makan sahur saat azan juga diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i dan Ibnu Majah, dari sahabat Hudzaifah.

Hadis-hadis di atas, sekalipun dengan kualitas yang diterima, sejatinya bertentangan dengan Al-Quran dan hadis-hadis lain. Batas akhir waktu sahur adalah ketika fajar shadiq telah terbit sebagaimana ditegaskan dalam Qs. Al-Baqarah: 187 berikut:

كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأْبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأْسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْل

Makan dan minumlah sampai tampak bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakan puasa sampai waktu malam. (Qs. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini menegaskan bahwa makan dan minum saat sahur berlaku sampai muncul fajar shadiq, yang dalam ayat di atas digambarkan seperti benang hitam dan benang putih yang tampak di langit. Setelah itu, seseorang wajib menahan diri sampai waktu malam.

Ayat ini diperkuat dengan sebuah hadis riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dari istri Rasulullah SAW Hafshah,

عَنْ حَفْصَةَ «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، وَحَرَّمَ الطَّعَامَ، وَكَانَ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ» (حم)

Dari Hafshah, bahwa Nabi Saw ketika muazin telah mengumandangkan azan, beliau shalat dua rakaat dan mengharamkan makan. Muazin tidak mengumandangkan azan sampai fajar shadiq muncul.” (HR. Ahmad).

Riwayat senada bersumber dari sahabat Anas bin Malik dan Zaid bin Tsabit. Imam Al-Bukhari meriwayatkan,

 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ، حَدَّثَهُ: ” أَنَّهُمْ تَسَحَّرُوا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَامُوا إِلَى الصَّلاَةِ، قُلْتُ: كَمْ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسِينَ أَوْ سِتِّينَ “، يَعْنِي آيَةً , (خ)

Dari Anas bin Malik, bahwa Zaid bin Tsabit menceritakan kepadanya bahwa mereka makan sahur bersama Nabi SAW. Kemudian mereka semua melaksanakan shalat subuh. Saya (perawi) bertanya, “Berapa jarak antara makan sahur itu dengan shalat subuh?” Anas bin Malik menjawab, “Sekira 50 atau 60 ayat. Maksudnya adalah ayat Al-Quran” (HR. Al-Bukhari).

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ: «تَسَحَّرَا فَلَمَّا فَرَغَا مِنْ سَحُورِهِمَا، قَامَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّلاَةِ، فَصَلَّى»، قُلْنَا لِأَنَسٍ: كَمْ كَانَ بَيْنَ فَرَاغِهِمَا مِنْ سَحُورِهِمَا وَدُخُولِهِمَا فِي الصَّلاَةِ؟ قَالَ: «قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً» , (خ)

Dari Anas bin Malik bahwa Nabi SAW dan Zaid bin Tsabit makan sahur. Ketika keduanya telah selesai dari makan sahurnya, Nabi SAW berdiri untuk melaksanakan shalat shubuh. Lalu beliau shalat. Kami berkata kepada Anas, “Berapa lama jarak antara selesainya keduanya dari makan sahur dan masuknya waktu shalat subuh?” Anas menjawab, “Sekirat seorang lelaki memabca 50 ayat.” (HR. Al-Bukhari).

Berdasarkan ayat Al-Quran dan hadis-hadis yang disebut dalam barisan kedua, dapat disimpulkan bahwa waktu akhir sahur adalah ketika fajar shadiq telah terbit. Artinya, ketika fajar shadiq telah terbit, sudah mulai waktu berpuasa. Makan saat fajar shadiq telah terbit adalah perbuatan yang diharamkan. Demikianlah pendapat mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan para imam mazhab. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi, rahimahullah. Imam An-Nawawi menulis,

وهذا الذي ذكرناه من الدخول في الصوم بطلوع الفجر وتحريم الطعام والشراب والجماع به هو مذهبنا ومذهب أبي حنيفة ومالك وأحمد وجماهير العلماء من الصحابة والتابعين فمن بعدهم قال ابن المنذر: وبه قال عمر بن الخطاب وابن عباس وعلماء الأمصار قال: وبه نقول

Keterangan yang telah kami sebutkan terkait masuknya waktu puasa dengan terbitnya fajar, dan diharamkannya makan, minum dan jima sebab terbitnya fajar. Itu adalah mazhab kami dan mazhab Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan ulama setelahnya. Ibnul Mundzir berkata, “Dengan pendapat ini, Umar bin Khathab, Ibnu Abbas dan ulama-ulama berbagai negeri berpendapat. Dan dengan pendapat ini (haram makan dan minum sebab terbitnya fajar shadiq) kami mengambil pendapat.” (Al-Majmu’ Syarah Muhadzab, 6/305).

Terkait dengan hadis yang menyebut diperbolehkannya makan dan minum saat azan subuh, hadis ini termasuk hadis yang musykil (bermasalah). Para ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan maksudnya. Ada sebagian ulama yag berpandangan hadis di atas adalah untuk kasus ketika seseorang ragu, apakah sudah tepat atau belum waktu azan tersebut dengan terbitnya fajar shadiq. Ketika seseorang ragu, maka ia boleh mengambil pilihan meneruskan makan. Hal ini didasarkan dalil istishab, yaitu memberlakukan hukum awal. Hukum awal di sini adalah masih adanya waktu malam, dimana seseorang masih boleh makan sahur. Waktu subuh, yang ditandai dengan terbitnya fajar, dianggap belum ada.

Ada pula yang berpendapat, bahwa makan yang dimaksud dalam hadis Imam Abu Dawud adalah makan malam (al-‘asya’). Sedangkan azan dalam hadis tersebut adalah azan isya’. Dengan demikian hadis dalam Sunan Abu Dawud itu berarti, ketika makan malam telah tiba, dan azan isya’ berkumandang, kita boleh mendahulukan makan malam. Jadi, tidak ada kaitannya dengan makan sahur dan azan subuh.

Ada pula yang memahami bahwa yang dimaksud dalam hadis Imam Abu Dawud adalah benar makan sahur. Tetapi, azan yang dimaksud adalah azan Bilal. Pada zaman Nabi SAW, ada dua azan. Azan pertama yang dikumandangkan oleh sahabat Bilal menjelang waktu sahur. Kedua, azan sahabat Ibnu Ummi Maktum sebagai tanda masuknya waktu shalat subuh.

Karena itu, di akhir ulasan singkat ini, penulis mengajak agar kita mengambil pendapat yang lebih hati-hati. Yaitu dengan mengikuti pendapat mayoritas ulama yang melarang makan sahur ketika sudah azan subuh. Kecuali jika kita ragu bahwa azan subuh itu bertepatan dengan terbitnya fajar shadiq. Semisal kita tidak percaya dengan kapasitas muazin atau sistem penjadwalan yang kurang hati-hati.

Demikian perbincangan mengenai hadis makan sahur saat azan subuh berkumandang. Semoga dapat menambah wawasan kita bersama.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...