Memercikkan Air Untuk Menghilangkan Najis Ringan, Bagaimana Maksudnya?

0
114
Memercikkan Air Untuk Menghilangkan Najis Ringan, Bagaimana Maksudnya?

Harakah.idMenghilangkan najis ringan, seperti yang sudah diatur dalam fikih, bisa dilakukan dengan memercikkan air. Bagaimana maksudnya?

Dalam mazhab Syafi’i, najis ada tiga; mughalladzah (kuat), mutawassithah (sedang), dan mukhaffafah (ringan). Pada kesempatan kali ini, akan dibahas cara membersihkan najis jenis ketiga (najis ringan).

Najis ringan adalah air kencing bayi laki-laki yang belum makan dan minum kecuali susu ibunya (ASI) dan umurnya tidak lebih dari dua tahun.

Cara membersihkannya (minimal) dengan dipercikkan air kepadanya (nanti akan dijelaskan caranya, di mana masih ada sebagian masyarakat yang kurang tepat dalam memahami hal ini). Ini menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali.

Tapi yang paling afdhal adalah tetap dicuci, sebagai bentuk khuruj minal khilaf (keluar dari khilaf/perselisihan ulama yang mewajibkan dicuci). Karena secara umum, keluar dari khilaf (perselisihan ulama) itu mustahab (dianjurkan). Karena menurut mazhab Maliki dan Hanafi, wajib dicuci. (Simak penjelasannya dalam kitab “Al-Fiqhu Al-Islamu Wa adillatuhu”, vol. 1, hlm. 312, karya Syekh Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili (w. 2015 M) rahimahullah).

Dalilnya, sebuah riwayat dari Ummu Qais binti Mihshan radhiallahu ‘anha ;

أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ، لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ، إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَجْلَسَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجْرِهِ، فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ، فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ

“Sesungguhnya beliau datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa anaknya yang masih bayi yang belum makan (kecuali ASI). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendudukkannya (bayi tersebut) di dada beliau (mendekapnya). Tidak berselang lama, bayi tersebut kencing di atas pakaian beliau. Lalu beliau minta air, beliau memercikkannya kepada pakaian yang terkena najis tadi, dan tidak mencucinya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dan lafadz di atas lafadz imam Bukhari).

An-Nadhu artinya; memerciki tempat (misal : baju) yang terkena najis dengan air secara “merata” atau minimal “mendominasi”, tanpa (tidak disyaratkan) harus sampai mengalir. Perhatikan kata “merata” atau “mendominasi”.

Jadi tidak sekedar memerciki saja sebagaimana yang dilakukan oleh sebagai masyarakat awam, tapi harus merata. Karena kalau tidak merata atau tidak mendominasi, maka hal itu belum mencukupi (masih dihukumi najis). Tidak hanya sampai di sini saja, setelah itu harus dihilangkan sifat-sifat najisnya (rasa,bau, dan warna), lalu diperas (jika basah) atau dihilangkan dengan cara lain jika sudah mengering.

Syekh ‘allamah Nawawi Al-Bantani Al-Jawi Asy-Syafi’i (w. 1316 H) rahimahullah berkata:

فلا يكفي الرش الذي لا يعمه ولا يغلبه كما يقع من كثير من العوام. ولا بد مع الرش من زوال أوصافها كبقية النجاسة بعد إزالة عينها. و لا بد من عصر محل البول أو جفافه حتى لا يبقى رطوبة تنفصل بخلاف الرطوبة التي لا تنفصل

“Tidak cukup sekedar memerciki (air) yang tidak merata atau (minimal) mendominasi, sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan orang awam. Bersamaan dengan itu, harus hilang sifat-sifat najisnya (rasa, bau, warna) sebagaimana najis-najis yang lain setelah dihilangkan dzatnya. Lalu harus diperas bagian yang terkena najis atau kalau sudah mengering (dihilangkan dengan cara lain, misal dikerik) sehingga tidak tersisa cairan yang bisa terpisah. Lain halnya cairan yang tidak bisa terpisah, maka tidak masalah.” (Kasyifah As-Saja, hlm. 45 versi cetakan lokal, Nurul Hidayah – Surabaya, tapi sudah kami muqabalah (komparasi) dengan cetakan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama tahun 2011, hlm. 180 versi PDF).

Ternyata, menghilangkan najis ringan dengan “memerciki” air itu sedemikian rumit, tidak sesederhana yang dibayangkan. Materi ‘njlimet’ seperti ini bukan konsumsi orang awam. Sehingga menurut hemat kami, untuk masyarakat awam lebih baik dan aman untuk diarahkan ke “mencuci” saja, karena cara ini lebih simpel (sederhana) bagi mereka. Kalau dipaksakan dengan percikan, dikhawatirkan tidak paham caranya, yang akhirnya malah tidak sah.

Demikian tulisan sederhana ini. Semoga bermanfaat bagi kita sekalian. Mohon maaf jika ada kekurangan.