Beranda Khazanah Mempelajari Perseteruan Asik Antara Kadrun-Radikal Vs Ahli Bid'ah-Kafir

Mempelajari Perseteruan Asik Antara Kadrun-Radikal Vs Ahli Bid’ah-Kafir

Harakah.id Karenanya, cobalah untuk tidak langsung saling menghakimi perbedaan paham. Sebab bisa jadi paham kita yang memandang bahwa itu salah adalah sebuah kesalahan juga.

Menyalahkan orang itu sungguh asik. Lebih asik daripada menjadi orang yang disalahkan. Mencari keburukan orang juga asik. Lebih asik daripada keburukan kita yang dicari-cari oleh orang lain. Demikian filosofi kehidupan yang bisa berujung pada aktivitas truth claim (klaim kebenaran) antar manusia.

Dan tanpa sadar, manusia beragama sering terjebak dalam filosofi itu. Sehingga banyak kemudian antar sesama Muslim saling menyalahkan. Muslim, namun suka mengatai muslim lain sebagai ahli bidah, ahli neraka, kafir, sesat, dan murtad. Muslim, namun suka mengatai muslim lain sebagai radikalis, kadrun (kadal gurun), dan lainnya. Sesama muslim terjebak pertikaian truth claim.

 “Banyak yang hafal Qur’an dan Hadis, senang mengkafirkan orang lain. Kekafirannya sendiri tak dipikirkan, kalau masih kotor hati dan akalnya….” Demikian penggalan terjemahan “Syi’ir Tanpo Wathan” atau yang lebih familiar dikenal dengan Salawat Gus Dur. Syi’ir yang mengingatkan muslim untuk bisa saling menjaga perasaan sesama muslim, mengingatkan agar sesama muslim bisa akur meski beda paham.

Masalah “keakuran” antar sesama muslim memang agak rumit. Bagaimana tidak jadi rumit, yang Salafi suka menuduh kalau yang ikut amaliyah Islam Nusantara sebagai ahli bidah, syirik, dan lainnya.

Eh, yang ikut amaliyah Islam Nusantara, kadang, juga suka mengatai kalau salafi itu transnasional, radikal, kadrun, dan lainnya. Maka yang terjadi adalah lingkaran pertikaian truth claim yang seakan tak pernah selesai. Sesama Muslim terjebak dalam lingkaran tuduh-menuduh siapa salah dan siapa benar cara ber-Islamnya.

Manusia memang sangat suka mencari kebenaran, sebab manusia adalah makhluk yang berpikir. Umumnya manusia juga senang dianggap sebagai makhluk yang benar. Dan kesenangan itu, sering membuat manusia malah senang mengurusi tingkat kebenaran manusia lain. Muncullah sebuah pertanyaan: “Apa cara beragama orang itu sudah benar atau tidak?”

Kalau yang bertanya adalah manusia bijak, maka perbedaan akan menjadi sarana diskusi yang berujung pada terjalinnya tali silaturahmi. Namun, kalau yang bertanya kurang bijak, ujung-ujungnya adalah perdebatan, menyalahkan, mengkafirkan, dan memaksa orang untuk sepaham dengannya.

Melihat orang yang beda paham dengannya, misalnya dalam masalah salat, langsung berkata: “Orang ini cara salatnya beda dengan saya, pasti salatnya tak benar, pasti tak sesuai sunnah.”

Melihat orang ziarah kubur dibilang: “Kamu sudah syirik, sebab suka nyembah kuburan.” Giliran dibalas: “Antum ini terlalu radikal.” Eh, malah ngegas terus marah-marah, terus sambil membela diri: “Astaqfirullah, teganya antum menuduh saudara sesama muslim radikal.”

Padahal dianya juga tega menuduh sesama muslim sebagai orang syirik. Sakit mana dikatai syirik atau dikatai radikal? Ya, sakit dua-duanya. Memang manusia senang mengatai orang, namun tak ingin dikatai.

Parahnya tak hanya Muslim awam yang dikafirkan, ulama sekali pun bisa dikafirkan. Saat ada pemahaman ulama yang beda dengan apa yang dipelajarinya dari syekh Google, maka ulama bisa dikatai: “Nih ulama kok pahamnya begini, ya? Pasti ini bukan ulama sunnah, pasti ini ulama sesat.”

Ulama yang menguasai banyak kitab, bisa dikatai demikian oleh orang yang hanya belajar agama dari google, sebab filosofi kehidupan menyalahkan orang lain itu sungguh asik.

Fenomena suka menyalahkan sesama muslim yang masih saja marak terjadi saat ini, sebenarnya sudah diingatkan oleh Nabi Muhammad Saw. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi Muhammad Saw berpesan: “Barangsiapa memanggil kafir atau musuh Allah padahal yang bersangkutan tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh.”

Hadis ini seharusnya mengingatkan betapa berat tuduhan kafir itu. Sehingga sesama muslim tak mudah saling menuduh kafir dan juga tak mudah menyalahkan muslim lain yang beda paham dengannya. Namun, hari ini tuduhan kafir enteng saja diucapkan pada muslim yang beda paham.

Merasa benar itu baik. Bangga dengan kebenaran yang diyakini juga baik. Namun, membatasi kebenaran hanya milik kelompok sendiri, sementara yang beda semuanya salah dan sesat, itu jelas kurang baik. Yang Maha Benar itu hanya Allah. Manusia sangat mungkin salah.

Tulisan ini sangat mungkin salah. Kamu sangat mungkin salah. Berbagai paham di dunia ini tak lepas dari kemungkinan salah. Karenanya, cobalah untuk tidak langsung saling meghakimi perbedaan paham. Sebab bisa jadi paham kita yang memandang bahwa itu salah adalah sebuah kesalahan juga.

Daripada menyalahkan atau mengkafirkan orang lain, lebih baik memikirkan kesalahan atau kekafiran diri sendiri. Hal itu lebih bermanfaat untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik, lebih bermanfaat untuk meningkatkan kualitas keber-Islaman diri sendiri.

Menuduh sesama Muslim sebagai kafir, ahli bidah, radikal, kadrun, dan lainnya itu tak ada manfaatnya. Mengatai sesama muslim sebagai ahli bidah atau sebagai kadrun, hanya akan menyakiti hati sesama muslim. Nabi Muhammad Saw berpesan dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim: “Muslim adalah yang selamat Muslim lainnya dari lisan dan tangannya.”

Maka sebagai Muslim, sepantasnya kita tak menyakiti hati sesama muslim–termasuk nonmuslim–dengan lisan kita. Sehingga harus disadari kalau kata-kata ahli bidah, kafir, sesat, dan termasuk radikal, kadrun, serta perkataan lainnya yang sejenis, merupakan kata-kata yang bisa menyakiti hati sesama Muslim.

Daripada saling menyakiti hati, mending saling menghormati perbedaan paham. Untukmu paham golonganmu dan untukku paham golonganku. Biar sesama Muslim bisa akur, tak selalu berkelahi dalam agenda truth claim.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...