Beranda Keislaman Hadis Menafsirkan Ulang Pemahaman Hadis Misoginis Dalam Kitab Sahih Bukhari

Menafsirkan Ulang Pemahaman Hadis Misoginis Dalam Kitab Sahih Bukhari

Harakah.id Hadis misoginis mulai diperbincangkan dan menjadi pembahasan yang unik berbarengan dengan mencuatnya pembahasan tentang kesetaraan gender dan hak asasi manusia.

Sebagai sumber kedua syariat Islam, hadits memiliki fungsi penting dalam sistem sumber ajaran Islam, terutama dalam memberikan penjelasan dan pemahaman terhadap al-Quran.

Hadis misoginis mulai diperbincangkan dan menjadi pembahasan yang unik berbarengan dengan mencuatnya pembahasan tentang kesetaraan gender dan hak asasi manusia. Banyaknya hadits yang dinilai oleh penggiat feminis sebagai hadits misoginis, terutama hadits terkait dengan posisi dan kehidupan perempuan yang terdapat dalam hadits Sahih Bukhāri, sehingga patut untuk dikaji ulang.

Istilah misogini (mysogyny) secara etimologi berasal dari kata misogynia (Yunani) yaitu miso (benci) dan gyne (wanita) yang berarti a hatred of women, yang berkembang menjadi Misoginisme (mysogynism), yang bermakna suatu ideologi yang membenci wanita. 

Secara terminologi istilah misoginis digunakan untuk doktrin sebuah aliran pemikiran yang secara zahir merendahkan derajat perempuan. Adanya unsur misoginis dalam hadis dipopulerkan oleh Fatima Mernissi melalui bukunya ”Women and Islam: An Historical and Theological Enquiry”.

Hadis misoginis adalah hadis yang mengandung kesan benci perempuan dan menyudutkan perempuan. Pengertian hadis Misogini yang dimaksudkan di dalam pembahasan ini adalah hadis yang mengandung pemahaman misogini.

Kandungan hadis misogini mencakup perkataan, perbuatan, ketetapan atau sifat-sifat Nabi saw yang mengandung pemahaman kebencian terhadap perempuan. Disimpulkan bahwa misoginis yang dimaksud disini adalah pemahaman dalam aspek theologis bukan dalam aspek sosiologis. Aspek theologis adalah akar historis munculnya pemahaman misoginis. Sedangkan aspek sosiologis adalah akibat dari pengaruh theologis yang terakumulasi dalam sejarah panjang umat manusia yang diawali mitos-mitos.

Ahmad Fudhaili mengutip,  kaum feminis mengklasifikasikan hadis yang dinilai misoginis ke dalam Kitāb Sahīh al-Bukhāri menjadi 6 bagian: 1) perempuan sebagai pelayan suami mereka, 2) perempuan tidak layak menjadi pemimpin, 3) penciptaan perempuan dari tulang rusuk yang bengkok, 4) perempuan makhluk pembawa sial, 5) perempuan sebagai penyebab batalnya shalat, dan 6) perempuan adalah mayoritas penghuni neraka karena dua alasan: pertama, karena tidak pandai mensyukuri nikmat dan kedua, makhluk yang kurang akalnya.

Berikut hadits riwayat Abu Said al-Khudri yang menyatakan perempuan adalah mayoritas penghuni neraka:

عن أبي سعيد الخدري-رضي الله عنه-، قال: خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم في أضْحَى أو فِطْر إلى المُصَلَّى، فَمَرَّ على النساء، فقال: «يا مَعْشَرَ النساء تَصَدَّقْنَ فإني أُرِيتُكُنَّ أكثر أهْل النار». فقُلن: وبِمَ يا رسول الله؟ قال: «تُكْثِرْن اللَّعن، وتَكْفُرْن العَشِير، ما رَأَيْت من ناقِصَات عَقْل ودِين أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُل الحَازم من إحدَاكُن». قُلْن: وما نُقصَان دِينِنَا وعَقْلِنَا يا رسول الله؟ قال: «ألَيْس شهادة المرأة مثل نِصف شَهادة الرَّجُل». قُلْن: بَلَى، قال: «فذَلِك من نُقصان عقْلِها، ألَيْس إذا حَاضَت لم تُصَلِّ ولم تَصُم». قُلْن: بَلَى، قال: «فذَلِك من نُقصان دِينِها».

Artinya : Dari abu sa’id al khudri Ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam, pada hari raya ‘Idul Adlha atau hari raya Idul Fitri keluar dari rumah menuju ke tempat shalat, beliau melewati para wanita seraya bersabda: «Wahai para wanita! Hendaklah kalian bersedekah, sebab diperlihatkan kepadaku bahwa kalian adalah yang paling banyak menghuni neraka.” Kami bertanya: “Apa sebabnya wahai Rasulullah?” beliaupun menjawab: “Kalian banyak melaknat dan banyak mengingkari pemberian suami. Dan aku tidak pernah melihat dari tulang laki-laki yang akalnya lebih cepat hilang dan lemah agamanya selain kalian.” Kami bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, apa tanda dari kurangnya akal dan lemahnya agama?” Beliaupun menjawab: “Bukankah persaksian seorang wanita setengah dari persaksian laki-laki?” Kami jawab: “Benar.” Beliaupun berkata lagi: “Itulah kekurangan akalnya. Dan bukankah seorang wanita bila dia sedang haid dia tidak shalat dan puasa?” Kami jawab: “Benar.” Beliaupun berkata: “Itulah kekurangan agamanya” (Sahīh Bukhāri: 293).

Menurut kaum feminis, hadits di atas berhasil memposisikan perempuan sebagai kebanyakan penghuni neraka, jika dilihat dari bunyi teks hadisnya. Alasannya karena mereka mengingkari dan menolak kebaikan laki-lakinya. Padahal faktanya sekarang secara kapasitas penduduk bumi ini lebih didominasi dan lebih banyak perempuan dari pada laki-laki.

Perempuan juga dikelaskan sebagai makhluk yang kurang berakal dan sedikit pemahaman agamanya. Alasan mereka mengatakan perempuan kurang akalnya adalah karena kesaksiannya dinilai setengah dari pada kesaksian laki-laki. Padahal Allah Swt telah memberikan setiap manusia kelebihannya sendiri-sendiri. Perempuan dianugerahi kelebihan dengan menonjolkan perasaan yang tinggi dan rasa iba yang dalam serta rasa kasih sayang yang luar biasa. Sedangkan laki-laki diberi kelebihan ketabahan dalam menghadapi kesulitan tanpa ada rasa ketakutan.

Tidak layak jika wanita dianggap kurang agamanya hanya karena mereka nifas saat melahirkan dan sering menstruasi tiap bulannya. Mereka mengalami rutinitas seperti itu karena sudah menjadi garis alam dan tidak dapat dihindari. Tidak etis dikatakan orang yang berdosa perempuan yang mengalami nifas atau haid, sehingga disebut sebagai penghuni neraka. Tentu Allah Swt. Maha Pemurah dan Maha Penyayang sehingga perempuan mendapat keringanan dari Allah untuk tidak selalu melaksanakan shalat pada masa haidnya.

Selain dari itu, sekurang-kurangnya ada dua hal yang harus dicermati; pertama, adanya pelaknatan terhadap kaum perempuan. Hal itu bukan berarti yang dapat dilaknat hanya perempuan saja, tetapi laki-laki juga dapat dilaknat. Melaknat merupakan perbuatan yang sangat dilarang oleh agama Islam, dan tidak boleh ditujukan dan diarahkan kepada sembarangan orang.  Kedua, penyangkalan atas kenikmatan Nas hadīth tersebut memang memakai redaksi penolakan kebaikan suami, tetapi yang dimaksud disini adalah penolakan terhadap seluruh kebaikan, dan itu tidak terbatas pada kaum perempuan saja. Siapapun itu, baik laki-laki maupun perempuan, yang mengingkari kebenaran atau kebaikan berarti secara tidak langsung telah “murtad”, dan siapapun yang mengingkari kenikmatan dan keberkahan berarti telah “kufur”.

Fakta dan realita yang ada menunjukkan bahwa ada pandangan yang salah dan timpang terhadap pemaknaan perempuan dalam memaknai teks-teks agama, terlebih lagi hadits Nabi yang mulia yang dijadikan sebagai alat legitimasi.

Hadits yang berasal dari Kitab Shahih Bukhari tersebut mendapatkan perlawanan dari kaum feminis karena sangat berbau misoginis dalam pemaknaan dan berimbas pada kehidupan sosial perempuan dalam masyarakat Islam. Kaum feminis memberikan argumentasi bahwa zaman telah berubah, kebaikan dan keburukan bisa ada pada setiap jenis kelamin, oleh karena kesempatan untuk menjadi baik dan menjadi penghuni neraka menjadi kesempatan terbuka yang dapat diraih oleh laki-laki dan perempuan dalam derajat yang sama, kerana begitulah norma “berlomba-lomba dalam kebaikan” yang tertera dalam al-Qur’an dipersembahkan untuk semua jenis kelamin.

Artikel kiriman dari Muhamad Ardi Sanjaya, Prodi Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, UIN Jakarta

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...