Beranda Khazanah Menambang Bintang-Bintang, Enam Ilmuan Muslim yang Berkontribusi Besar di Bidang Astronomi dan...

Menambang Bintang-Bintang, Enam Ilmuan Muslim yang Berkontribusi Besar di Bidang Astronomi dan Perbintangan

Harakah.id Enam Ilmuan muslim yang berkontribusi di bidang astronomi ini membuktikan bahwa ulama kita di jaman dulu tidak hanya belajar agama, di masa lalu para ilmuan Muslim juga mempelajari ilmu pengetahuan alam, tak terkecuali ilmu astronomi.

Enam ilmuan muslim dan gebrakan mereka di bidang astronomi wajib kalian tahu!

Dalam sejarah, peradaban Islam nyatanya tidak hanya melahirkan para ulama yang pakar di bidang keilmuan saja lho! Ada juga beberapa tokoh, sarjana dan pemikir Muslim yang punya kontribusi besar di bidang ilmu-ilmu pengetahuan eksak dan sosial. Tak tanggung-tanggung, dengan tawaran teorinya, mereka ternyata mampu menjadi sumber inspirasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa dan belahan dunia lainnya sampai hari ini.

Tak terkecuali ilmu astronomi. Berikut enam ilmuan Muslim yang punya kontribusi besar di bidang astronomi

1. Al-Battani (858-929 M).

Karya al-Battani yang paling populer berjudul al-Zij al-Sabi; kitab dahsyat yang menjadi rujukan para ahli astronomi Barat selama beberapa abad. Al-Battani adalah orang yang berhasil menentukan perkiraan awal bulan baru, perkiraan panjang matahari, dan mengoreksi hasil kerja Ptolemeus mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Al-Battani juga mengembangkan metode untuk menghitung gerakan dan orbit planet-planet. Ia memiliki kontribusi besar dalam merenovasi astronomi modern yang berkembang di abad-abad setelahnya.

2. Al-Sufi (903-986 M)

Nama lengkapnya adalah Abdur Rahman as-Sufi. Al-Sufi, namun Orang Barat menyebutnya Azophi. Al-Sufi berkontribusi besar dalam menetapkan arah laluan bagi matahari, bulan, dan planet dan juga pergerakan matahari. Dalam Kitab Al-Kawakib as-Sabitah Al-Musawwar, Azhopi menetapkan ciri-ciri bintang, memperbincangkan kedudukan bintang, jarak, dan warnanya.

Selain itu, dia juga menulis tentang astrolabe (perkakas kuno yang biasa digunakan untuk mengukur kedudukan benda langit pada bola langit) dan seribu satu cara penggunaannya.

3. Ibnu Yunus (950-1009 M)

Nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan Ali abi Said Abd al-Rahman ibnu Ahmad ibnu Yunus al-Sadafi al-Misri. Karya penting Ibnu Yunus dalam astronomi yang lainnya adalah kitab Ghayat al-Intifa. Kitab itu berisi tabel bola astronomi yang digunakan untuk mengatur waktu di Kairo, Mesir hingga abad ke-19 M. Di abad 10 M, Ibnu Yunus adalah manusia yang telah mampu menjelaskan 40 planet dan mengamati 30 gerhana. Ia mampu menjelaskan konjungsi planet secara akurat yang terjadi pada abad itu.

Menurut John J O’Connor dan Edmund F Robertson dalam karyanya Abu al-Hasan Ali ibnu Abd al-Rahman Ibnu Yunus, di abad ke-19 M, Simon Newcomb menggunakan teori Ibnu Yunus untuk menentukan percepatan bulan. Ibnu Yunus juga telah membuat rumus waktu. Ia menggunakan nilai kemiringan sudut rotasi bumi terhadap bidang ekliptika sebesar 23,5 derajat. Tabel tersebut cukup akurat, walaupun terdapat beberapa error untuk altitude yang besar.

Ibnu Yunus juga menyusun tabel yang disebut Kitab as-Samt berupa azimuth matahari sebagai fungsi altitude dan longitude matahari untuk kota Kairo. Selain itu, disusun pula tabel a(h) saat equinox untuk h = 1, 2, …, 60 derajat. Sebagai bentuk pengakuan dunia astronomi terhadap kiprahnya, namanya diabadikan pada sebuah kawah di permukaan bulan.

Salah satu kawah di permukaan bulan ada yang dinamakan Ibn Yunus. Ia menghabiskan masa hidupnya selama 30 tahun dari 977-1003 M untuk memperhatikan benda-benda di angkasa. Dengan menggunakan astrolabe yang besar, hingga berdiameter 1,4 meter, Ibnu Yunus telah membuat lebih dari 10 ribu catatan mengenai kedudukan matahari sepanjang tahun.

4. Al-Farghani

Nama lengkapnya Abu al-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Farghani. Dia menulis mengenai astrolabe dan menerangkan mengenai teori matematik di balik penggunaan peralatan astronomi itu. Al-Farghani melakukan eksperimen untuk menentukan diameter bumi. Ia menjabarkan pula jarak dan diameter planet-planet lainnya.

Astronom ini juga memperkenalkan istilah-istilah dari bahasa Arab asli seperti azimuth, zenith, nadir dan lainnya. Al-Farghani menulis dua karya yang masyhur. Salah satunya adalah Fi al-Harakat al-Samawiya wa Jawami Ilm al-Nujum. Buku tersebut mengupas gerakan celestial dan kajian atas bintang. Naskah asli berbahasa Arab kedua buku itu sampai saat ini masih tersimpan di Paris (Prancis) dan Berlin (Jerman).

Pada abad ke-12 M, karya Al-Farghani telah diterjemahkan dengan judul The Elements of Astronomy. Terjemahan ini telah memberi pengaruh besar bagi perkembangan astronomi di Eropa sebelum masa Regiomontanus.

5. Al-Zarqali (1029-1087M).

Barat mengenalnya dengan nama Arzachel. Wajah Al-Zarqali diabadikan pada setem di Spanyol, sebagai bentuk penghargaan atas sumbangannya terhadap penciptaan astrolabe yang lebih baik. Al-Zalqali menemukan fakta bahawa orbit planet itu adalah edaran eliptik bukan edaran sirkular, Al-Zarqali juga mampu mengoreksi data geografis yang dibuat Ptolemeus.

Secara khusus, dia mengoreksi panjang Laut Mediterania. Al-Zarqali juga mampu menemukan sejumlah fakta penting terkait rahasia langit, seperti planet, bintang, bulan dan matahari. Beliau juga telah menciptakan jadwal Toledan dan juga merupakan seorang ahli yang menciptakan astrolabe yang lebih kompleks bernama Safiha. Astrolabe itu tak bergantung pada garis lintang pengamatnya dan bisa digunakan di manapun di seluruh dunia.

6. Jabir Ibn Aflah (1145M)

Geber, begitu orang barat menyebutnya, adalah ilmuwan pertama yang menciptakan sfera cakrawala mudah dipindahkan untuk mengukur dan menerangkan mengenai pergerakan objek langit. Jabir bin Aflah adalah astronom Muslim pertama di Eropa yang membangun observatorium Giralda. Observatorium ini terletak di kota kelahirannya, Serville.

Adapun karya astronominya antara lain buku berjudul The Book of Astronomy. Salinan buku ini sampai sekarang masih tersimpan di Berlin. Dalam buku tersebut, Jabir dengan tajam mengkritik beberapa pandangan dan pikiran astronom Ptolemaneus, terutama pendapat yang menegaskan bahwa planet-planet yang paling dekat dengan matahari–merkurius dan venus–tidak mempunyai nilai parallax, yaitu perubahan kedudukan suatu benda karena perpindahan tempat pengamatan. Jabir sendiri memberi nilai parallax sekitar 3 derajat untuk matahari. Juga menyatakan bahwa planet-planet lebih dekat dengan bumi daripada dengan matahari.

Itulah enam tokoh muslim di bidang astronomi yang wajib kita apresiasi dan kita jadikan rujukan sekaligus sumber inspirasi untuk terus belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...