Beranda Gerakan Meneguhkan Kiprah Indonesia di PBB, Pidato Presiden Jokowi dan Upaya Mendamaikan Konflik...

Meneguhkan Kiprah Indonesia di PBB, Pidato Presiden Jokowi dan Upaya Mendamaikan Konflik di Timur Tengah

Harakah.idUpaya meneguhkan kiprah Indonesia di PBB harus terus dilanjutkan. Pidato Presiden Jokowi kemarin mempertegas visi Indonesia sebagai dewan keamanan PBB dalam upaya-upaya menyelesaikan konflik, utamanya di Timur Tengah.

Sidang Majelis Umum ke-75 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah digelar, kemarin, (23/9). Momentum tersebut juga menjadi salah satu upaya meneguhkan kiprah Indonesia di PBB dalam upaya-upaya menyuarakan pandangan dan statement terkait isu-isu internasional kontemporer. Dalam acara yang digelar daring tersebut membicarakan isu-isu terkini yang terjadi di kancah percaturan internasional.

Melalui perwakilan tetap Indonesia untuk PBB yang hadir ke markas PBB di New York, Dian Triansyah Djani. Ia pun meminta waktu kepada Sekjen PBB untuk menayangkan video singkat pemaparan dari Menteri Luar Negeri RI Retno LP. Marsudi tentang perlunya sinergitas semua negara yang tergabung dalam PBB untuk saling bekerjasama dan bahu membahu. 

Selain itu, presiden Joko Widodo juga menyampaikan sambutannya di dalam forum Sidang Majelis Umum ke-75 PBB kali ini. Ia memaparkan tentang pandangan pemerintah Indonesia terkait situasi global terkini dan PBB sebagai salah satu organisasi terbesar yang menyatukan banyak negara serta mendorong negara-negara yang tergabung dalam PBB untuk saling bahu membahu dalam penanganan Covid-19.

Kontribusi Indonesia 

Tidak seperti biasanya, Indonesia dalam Sidang Majelis Umum ke-75 PBB. Presiden RI Joko Widodo kali ini yang memberikan sambutannya langsung, tidak mewakilkan melalui wakilnya. Selain itu, presiden Joko Widodo menekankan pada tiga pesan utama. 

Pertama, PBB perlu menjaga kerjasama dan relevansinya di tengah krisis seperti ini. Konsep multilateralisme harus terbukti memberikan manfaat yang konkret dan kontribusi nyata bagi negara-negara di dunia, tanpa terkecuali.

Kedua, perlunya menjaga collective global leadership. Berkontribusi dalam menjaga perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan dunia. 

Ketiga, presiden Joko Widodo juga mengajak negara-negara anggota lain untuk berpartisipasi aktif dan bekerja sama dalam penanganan covid-19, baik di bidang kesehatan, ekonomi maupun sosialnya. Ia juga menekankan untuk setiap negara agar mendapatkan akses vaksin dengan harga terjangkau. 

Melihat situasi global yang kompleks dan heterogen. Apalagi pandemi Covid-19 yang tak terkendali. Indonesia merespon dengan beberapa pandangan dan kebijakan luar negeri. Ini artinya Indonesia berpartisipasi dalam percaturan politik internasional dan aktif menjaga perdamaian dunia. 

Tidak hanya itu, ditengah kondisi hubungan antar negara yang tak menentu. Hal ini membuat pertikaian dan konflik tak terhindarkan. Maka, diplomasi dan upaya untuk menjaga stabilitas keamanan dan perdamaian sangat dibutuhkan untuk menangani persoalan tersebut.

Dalam hal ini, kontribusi aktif Indonesia terlihat dalam menjaga stabilitas keamanan dan perdamaian dunia melalui panggung internasional, seperti halnya di pertemuan Sidang Majelis Umum PBB kali ini.

Menurut pengamatan penulis, Indonesia sangat aktif dalam percaturan politik internasional. Apalagi Indonesia sebelumnya didaulat menjadi Presiden Dewan Keamanan (DK) PBB selama dua kali, yakni di bulan Mei dan Agustus. 

Beberapa capaian Indonesia dalam perjalanan presidensi di DK PBB. Diantaranya yakni terkait ikut serta dalam menjaga stabilitas keamanan dan perdamaian dunia, yakni pasukan perdamaian, diantaranya dari perempuan untuk menjadi garda depan dalam ikut menjaga perdamaian dunia. 

Selain itu, Indonesia juga memediasi beberapa isu konflik global dan menghentikan embargo senjata dan ekonomi AS atas Iran. Karena hal tersebut bakal memicu konflik berkepanjangan bagi kedua negara dan negara-negara lainnya. 

Melalui diplomasi dan kebijakan Indonesia di kancah internasional. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia memiliki peran sentral dalam mengambil keputusan penting di salah satu organisasi terbesar dunia tersebut.

Multilateralisme dan Peran PBB

Setiap negara memiliki kepentingan dan arah kebijakannya masing-masing. Tentu hal ini akan berdampak pada hubungan antara satu negara dengan negara lainnya. Tidak hanya itu, kebijakan negara dalam mensukseskan kepentingan nasionalnya juga menjadi alasan dibalik upaya tersebut.

Multilateral atau kerjasama antar negara sangat dibutuhkan dalam mengatasai pelbagai entitas kehidupan dunia yang semakin kompleks. Pandemi Covid-19 yang setiap hari menunjukkan angka kasus yang terus naik. Situasi ini harus direspon dan dieksekusi bersama negara-negara anggota PBB.

Peran PBB dalam upaya menjaga stabilitas keamanan dan perdamaian dunia juga harus ditegakkan. Konflik atas nama perbedaan kepentingan, ras, etnik, agama, ataupun wilayah harus dicari solusi terbaik untuk menyelesaikannya. 

Konflik Israel-Palestina, Libya, Yaman, dan berbagai konflik di dunia harus diselesaikan dengan mencari jalan keluarnya. Jangan ada lagi korban berjatuhan demi kepentingan politik dan ekonomi. Bahkan, korbannya dari masyarakat sipil. Terlebih dari anak-anak yang tak berdosa. 

Pandangan Indonesia untuk PBB agar tidak hanya menjadi organisasi yang hanya bermarkas di New York saja. Tetapi harus berperan aktif dalam upaya perdamaian dunia sekaligus menjaga keseimbangan stabilitas politik dunia. 

Kedepan, akan banyak tantangan dan peluang yang harus dilalui. Tetapi, sejatinya harus selektif dan saling bahu membahu untuk menyuarakan perdamaian dan dialog yang menyatukan semua negara. 

Indonesia memiliki peran sentral dalam mengambil setiap kebijakan penting di level internasional. Maka, upaya dan usaha yang solutif sangat diperlukan untuk kedamaian dunia. Meneguhkan kiprah Indonesia di PBB dalam bentuk mengusahakan penyelesaian konflik dan mewujudkan perdamaian dunia harusnya terus menjadi visi seperti apa yang telah diamanatkan dalam konstitusi, UUD 1945.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...