Menelaah Hadis Kepemimpinan Suku Quraish, Inilah Prinsip-Prinsipnya (2 – Habis)

0
387

Harakah.idPenggunaan hadis kepemimpinan suku Quraish seringkali melupakan prinsip utama yang disebut dalam bagian kedua hadis ini. Yaitu keadilan, kasih sayang dan pemenuhan hak rakyat.

Riwayat ini Ahmad di atas menegaskan konteks kemunculan hadis kepemimpinan Quraish. Yaitu sebagai kritik terhadap perilaku para pemimpin Bani Umayyah yang lalim. Merampas harta kaum Muslimin dan tak segan mengorbankan nyawa mereka. Menurut Abu Barzah, perilaku semacam itu telah keluar dari prinsip kepemimpinan suku Quraish; yang adil dan penuh kasih. Riwayat Ahmad semakin jelas dengan merujuk kepada riwayat Al-Bukhari; dari Ahmad bin Yunus, dari Abu Syihab, dari Auf, dari Abul Minhal.

عَنْ أَبِي المِنْهَالِ، قَالَ: لَمَّا كَانَ ابْنُ زِيَادٍ وَمَرْوَانُ بِالشَّأْمِ، وَوَثَبَ ابْنُ الزُّبَيْرِ بِمَكَّةَ، وَوَثَبَ القُرَّاءُ بِالْبَصْرَةِ، فَانْطَلَقْتُ مَعَ أَبِي إِلَى أَبِي بَرْزَةَ الأَسْلَمِيِّ، حَتَّى دَخَلْنَا عَلَيْهِ فِي دَارِهِ، وَهُوَ جَالِسٌ فِي ظِلِّ عُلِّيَّةٍ لَهُ مِنْ قَصَبٍ، فَجَلَسْنَا إِلَيْهِ، فَأَنْشَأَ أَبِي يَسْتَطْعِمُهُ الحَدِيثَ فَقَالَ: يَا أَبَا بَرْزَةَ، أَلاَ تَرَى مَا وَقَعَ فِيهِ النَّاسُ؟ فَأَوَّلُ شَيْءٍ سَمِعْتُهُ تَكَلَّمَ بِهِ: «إِنِّي احْتَسَبْتُ عِنْدَ اللَّهِ أَنِّي أَصْبَحْتُ سَاخِطًا عَلَى أَحْيَاءِ قُرَيْشٍ، إِنَّكُمْ يَا مَعْشَرَ العَرَبِ، كُنْتُمْ عَلَى الحَالِ الَّذِي عَلِمْتُمْ مِنَ الذِّلَّةِ وَالقِلَّةِ وَالضَّلاَلَةِ، وَإِنَّ اللَّهَ أَنْقَذَكُمْ بِالإِسْلاَمِ وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَتَّى بَلَغَ بِكُمْ مَا تَرَوْنَ، وَهَذِهِ الدُّنْيَا الَّتِي أَفْسَدَتْ بَيْنَكُمْ، إِنَّ ذَاكَ الَّذِي بِالشَّأْمِ، وَاللَّهِ إِنْ يُقَاتِلُ إِلَّا عَلَى الدُّنْيَا، وَإِنَّ هَؤُلاَءِ الَّذِينَ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ، وَاللَّهِ إِنْ يُقَاتِلُونَ إِلَّا عَلَى الدُّنْيَا، وَإِنْ ذَاكَ الَّذِي بِمَكَّةَ وَاللَّهِ إِنْ يُقَاتِلُ إِلَّا عَلَى الدُّنْيَا» , (خ)

Dari Abul Minhal yang berkata, “Ketika zaman Ibnu Ziyad dan Marwan berkuasa di Syam, Ibnu Zubair melakukan gerakan politik di Mekah, lalu para Qurra’ di Basrah, saya berangkat bersama ayahku menemui Abu Barzah Al-Aslami. Sampai kami masuk ke rumahnya, dia sedang duduk di tenda yang terbuat dari kayu. Kami duduk di sampingnya. Ayahku minta agar dicerita sebuah hadis. Ayahku berkata, ‘Wahai Abu Barzah, apakah engkau melihat apa yang terjadi pada masyarakat?’ Perkataan yang pertama kali aku dengar dari Abu Barzah adalah, ‘Saya mengharap pahala di sisi Allah. Saya jadi orang yang membenci satu kelompok suku Quraish. Kalian wahai bangsa Arab, sedang berada dalam kondisi yang kalian tahu, kehinaan, kekurangan dan kesesatan. Allah menyelamatkan kalian dengan Islam dan Muhammad SAW. Sampai datanglah kenyataan yang kalian lihat sekarang. Dunia ini telah merusak hubungan sesama kalian. Orang-orang yang berada di Syam itu, demi Allah, tidak berperang kecuali untuk mendapat harta dunia. Orang-orang yang ada di depan kalian itu, demi Allah tidak berperang kecuali untuk dunia. Orang-orang yang di Mekah itu, demi Allah, tidak berperang kecuali untuk dunia.’” (HR. Al-Bukhari).  

Dalam Riwayat Ahmad, dari Affan, dari Hammad bin Salamah, dari Azraq bin Qais, dari Syarik bin Syihab, yang menyebut dirinya ingin bertemu seorang sahabat Nabi SAW yang dapat membertahunya tentang sikap yang seharusnya terhadap kaum Khawarij. Ia kemudian bertemu Abu Barzah pada musim haji bersama murid-muridnya. Kemudian Abu Barzah menyebutkan hadis Nabi SAW tentang kepemimpinan suku Quraish. Berdasarkan riwayat ini, kemunculan hadis kepemimpinan Quraish menjadi kritik terhadap kaum Khawarij yang dikenal menampik persyaratan suku Quraish sebagai syarat kepemimpinan di kalangan umat Islam.

Dua riwayat terakhir dalam Musnad Ahmad menampilkan data penting tentang konteks pengutipan hadis; yang dalam teori Ibnu Hamzah Ad-Dimashqi tergolong sababul wurud ba’da ‘ashrin nubuwwah (sebab pengutipan hadis setelah wafatnya Nabi SAW). Istilah lain menyebutnya, sabab iradil hadits (sebab pengutipan hadis). Dengan menggunakan konteks pengutipan sahabat, kita dapat melihat bagaimana hadis kepemimpinan Quraish itu memiliki konteks yang unik. Ia hadir sebagai kritik atas ketidak-adilan dan brutalitas penguasa maupun oposannya. Para sahabat yang menyebut hadis kepemimpinan Quraish, tidak fokus pada dimensi kepemimpinan Quraish, tetapi kepada penerapan prinsip-prinsip kepemimpinan yang berorientasi pada keadilan, kasih sayang, dan pemenuhan hak rakyat.

Al-Bukhari meriwayatkan tanpa menyebut konteks pengutipan dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW. Dalam riwayat yang redaksinya diriwayatkan melalui tiga jalur itu, dikabarkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لاَ يَزَالُ هَذَا الأَمْرُ فِي قُرَيْشٍ مَا بَقِيَ مِنْهُمُ اثْنَانِ» , (خ)

Dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW yang bersabda, “Urusan ini senantiasa berada dalam genggaman kaum Quraish, selama masih ada dua orang di antara mereka.” (HR. Al-Bukhari).

Riwayat lain dalam Shahih Al-Bukhari menampilkan konteks pengutipan yang berbeda. Jika dalam perspektif Abu Barzah Al-Aslami, pengutipan hadis kepemimpinan Quraish bertujuan mengkritik Bani Umayyah, dalam riwayat Al-Bukhari, hadis tersebut digunakan melegitimasi kepemimpinan Bani Umayyah.

حَدَّثَنا أَبُو اليَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: كَانَ مُحَمَّدُ بْنُ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَلَغَ مُعَاوِيَةَ وَهُوَ عِنْدَهُ فِي وَفْدٍ مِنْ قُرَيْشٍ: أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ العَاصِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ سَيَكُونُ مَلِكٌ مِنْ قَحْطَانَ، فَغَضِبَ مُعَاوِيَةُ، فَقَامَ فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ بَلَغَنِي أَنَّ رِجَالًا مِنْكُمْ يَتَحَدَّثُونَ أَحَادِيثَ لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ، وَلاَ تُؤْثَرُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأُولَئِكَ جُهَّالُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَالأَمَانِيَّ الَّتِي تُضِلُّ أَهْلَهَا، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ «إِنَّ هَذَا الأَمْرَ فِي قُرَيْشٍ لاَ يُعَادِيهِمْ أَحَدٌ، إِلَّا كَبَّهُ اللَّهُ عَلَى وَجْهِهِ، مَا أَقَامُوا الدِّينَ» , (خ)

Abul Yaman meriwayatkan, dari Syuaib, dari Zuhri, yang berkata, “Muhammad bin Jubair bin Muth’im menceritakan bahwa Muawiyah saat berada di sisinya dalam perkumpulan orang-orang Quraish, mendengar kabar bahwa Abdullah bin Amr bin Ash menyebarkan berita bahwa akan muncul seorang raja dari keturunan Qahthan. Mu’awiyah marah, dia berdiri dan memuji Allah sesuai dengan hak-Nya, dia berkata, ‘Amma ba’du; telah sampai kepadaku bahwa beberapa orang dari kalian menyebarkan cerita yang tidak ada dalam Kitabullah dan tidak pula berasal dari Rasulullah SAW. Mereka adalah orang-orang bodoh di antara kalian. Jauhilah harapan yang akan menyesatkan kalian. Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh, urusan ini akan berada dalam genggaman orang Quraish. Tidak akan merampasnya seorang pun kecuali Allah akan menjungkirkannya di atas wajahnya. Selama mereka menegakkan agama.’” (HR. Al-Bukhari).

Musnad Al-Bazzar menyebutkan riwayat yang bersumber dari Anas bin Malik tanpa konteks pengutipan, namun dengan tegas menjelaskan apa yang dimaksud dengan menegakkan agama; yaitu keadilan, kasih sayang dan pemenuhan hak rakyat.

عَن أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيه وَسَلَّم قَالَ: الأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ مَا عَمِلُوا بِثَلاثٍ: إِذَا اسْتُرْحِمُوا رَحِمُوا، وَإِذَا عَاهَدُوا وَافَّوْا، وإذا حكموا عدلوا.

Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi SAW bersabda, “Para pemimpin dari suku Quraish selama mereka mengamalkan tiga perkara; ketika dituntut kasih, mereka mengasihi, ketika berjanji, mereka memenuhi, ketika membuat keputusan, mereka adil. (HR. Al-Bazzar).

Kitab Hadis Abad Kelima Hijriah

Pada masa yang lebih belakangan, muncul riwayat yang bersumber dari sahabat Ali bin Abi Thalib. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Mustadrak Ala Shahihain karya Al-Hakim An-Naisaburi.

حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ حَمْدَانَ الْجَلَّابُ، بِهَمْدَانَ، ثَنَا أَبُو حَاتِمٍ الرَّازِيُّ، ثَنَا الْفَيْضُ بْنُ الْفَضْلِ الْبَجَلِيُّ، ثَنَا مِسْعَرُ بْنُ كِدَامٍ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ أَبِي صَادِقٍ، عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ نَاجِدٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ أَبْرَارُهَا أُمَرَاءُ أَبْرَارِهَا، وَفُجَّارُهَا أُمَرَاءُ فُجَّارِهَا، وَلِكُلٍّ حَقٌّ فَآتُوا كُلَّ ذِيِ حَقٍّ حَقَّهُ، وَإِنْ أَمَّرْتُ عَلَيْكُمْ عَبْدًا حَبَشِيًّا مُجَدَّعًا فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا مَا لَمْ يُخَيَّرْ أَحَدُكُمْ بَيْنَ إِسْلَامِهِ وَضَرْبِ عُنُقِهِ، فَإِنْ خُيِّرَ بَيْنَ إِسْلَامِهِ وَضَرْبِ عُنُقِهِ، فَلْيُقَدِّمٍ عُنُقَهُ فَإِنَّهُ لَا دُنْيَا لَهُ وَلَا آخِرَةَ بَعْدَ إِسْلَامِهِ»

Abu Muhammad bin Abdurrahman bin Hamdan A-Jallab di Hamdan, meriwayatkan dari Abu Hatim Ar-Razi, dari Al-Faidh bin Fadh Al-Bajalli, dari Mis’ar bin Kidam, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Shadiq, dari Rabi’ah bin Najid, dari Ali bin Abi Thalib, yang berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Para pemimpin dari suku Quraish. Orang-orang baiknya adalah pemimpin bagi orang-orang baiknya. Orang-orang jahatnya pemimpin bagi orang-orang jahatnya. Setiap orang punya hak. Berikan setiap orang atas haknya. Walaupun aku angkat pemimpin untuk kalian seorang budak Habasyah keriting, dengarkan ia, taati ia, selama ia tidak memberi pilihan antara Islam dan potong leher. Bila ia memberi pilihan antara Islam dan potong leher, hendaknya ia memberikan lehernya. Karena, tidak ada kebaikan duniawi bagi dia, tidak pula ada kebaikan akhirat setelah ia melepaskan Islamnya.” (HR. Al-Hakim).

Beberapa Temuan

Ulasan di atas, menekankan beberapa pendekatan dalam memahami hadis “para pemimpin dari suku Quraish”. Kita mendapati bahwa pada literatur yang paling awal, sebagaimana dalam kitab-kitab sirah nabawiyah, menunjukkan kenyataan bahwa hadis tersebut merupakan hadis mauquf. Tetapi, belakangan meningkat derajatnya menjadi hadis marfu’. Kesimpulan ini agaknya berbeda dengan sejumlah literatur yang menyebut bahwa hadis “al-aimmah min quraish” merupakan hadis marfu’ sejak awal, dan menganggap Abu Bakar sebagai orang yang pertama kali menyebutnya dalam peristiwa Saqifah Bani Saidah di hadapan kaum Anshar.

Tetapi, bila digunakan pendekatan isnad, dapat diambil kesimpulan berbeda; bahwa hadis para pemimpin dari Quraish tidak hanya dikenal oleh Abu Bakar, tetapi ada sahabat lain yang juga mengenalnya. Yaitu; Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah, Ibnu Umar dan Abu Barzah Al-Aslami. Hadis yang bersumber dari para sahabat ini menunjukkan bahwa hadis Quraish berasal dari Nabi SAW. Keterpercayaan hadis ini dinilai tidak perlu diragukan karena, dalam sebagian keterangan, hadis ini tergolong hadis mutawatir. Mengingat jumlah periwayat generasi sahabat berjumlah 5 orang, tentu perawi generasi setelahnya berjumlah lebih banyak berdasarkan teori ‘pertumbuhan isnad’.

Analisis terhadap teks-teks matan hadis menunjukkan konteks dan kandungan yang mungkin berbeda dengan yang kita pahami dari penejlasan para ahli. Seperti, kepemimpinan suku Quraish bersifat mutlak. Pengamatan lebih lengkap terhadap hadis ini jelas menunjukkan bahwa ada batas-batas tertentu dalam kepemimpinan suku Quraish. Beberapa syarat yang diajukan dalam teks seperti “bersikap adil, penuh kasih, dan memenuhi hak rakyat” atau “menegakkan agama” menjadi beberapa temuan yang perlu dielaborasi lebih lanjut.

Berdasarkan konteksnya, hadis kepemimpinan suku Quraish muncul dalam kerangka suksesi dan dominasi suku Quraish setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Para tokoh Quraish, menggunakan hadis ini untuk mendukung kepemimpinannya; Abu Bakar, Mu’awiyah dan Ali bin Abi Thalib. Tetapi, ada sebagian sahabat bersikap kritis terhadap kepemimpinan Quraish yang dinilai telah menyimpang dari prinsip dan syarat kepemimpinan Quraish; para pemimpin Quraish yang berebut kekuasaan yang berpusat di Mekah, Syam dan Basrah, lebih berorientasi pada keuntungan duniawi daripada kepentingan rakyat. Sahabat ini juga mengeritik gagasan Khawarij yang menolak segala kepemimpinan yang dianggap tidak menerapkan hukum agama, yang kemudian juga mengabaikan keselamatan umat. Sahabat Abu Barzah menggunakan hadis kepemimpinan Quraish pada bagian kedua yang menekankan pada kepentingan rakyat sebagai titik tolak kritik terhadap pemikiran Khawarij.

Jika diperhatikan teks hadis kepemimpinan Quraish, sejatinya tidak berbentuk perintah. Tetapi, dalam kenyataannya difungsikan oleh para pemimpin Quraish seakan dengan nada perintah dari Nabi SAW. Dalam pendekatan ushul fiqh yang menekankan pentingnya analisis kebahasaan, hal ini dapat diterima dalam kerangka kaidah “khabar bi ma’na al-amr” (informatif yang instruktif). Praktik para sahabat mendukung pengertian ini. Mereka seakan memaknai bahwa memang kepemimpinan politik harus dipegang suku Quraish.

Di akhir tulisan ini, agaknya penting kita berfokus pada perspektif sahabat Abu Barzah Al-Aslami, yang tidak menekankan pada siapa pemimpinnya; tetapi kepada praktik kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat. Di sini, pandangan Abu Barzah relevan dengan kaidah fikih tasharruful imam ala ra’iyah manuthun bil maslahah (kepemimpinan harus berorientasi pada kemaslahatan umat).