fbpx
Beranda Keislaman Hadis Menerima dan Meriwayatkan Hadis Tidak Boleh Sembarangan, Ada Beberapa Metode yang Patut...

Menerima dan Meriwayatkan Hadis Tidak Boleh Sembarangan, Ada Beberapa Metode yang Patut Diperhatikan

Harakah.id Dalam ilmu hadis kita mengenal istilah tahammul dan ada’. Tahammul adalah proses penerimaan hadis yang dilakukan oleh seorang rawi, sedangkan ada’ adalah proses penyampaian hadis yang biasa dilakukan oleh seorang guru kepada muridnya, atau seorang rawi. Format atau simbol (shighat) tahammul dan ada’ menjadi tanda apakah hadis itu bersambung atau tidak.

Dalam tradisi periwayatan hadis, ada banyak metode dan cara menyampaikan dan menerima hadis. Berikut beberapa cara yang sudah dirumuskan dan ditulis oleh para ulama hadis dalam kitab-kitab ilmu hadis;

Pertama, as-sama’ min lafdzi-s-syaikh yakni mendengar dari perkataan guru. Sebagaimana namanya, metode ini dilakukan dalam bentuk mendengarkannya si murid terhadap perkataan gurunya. Dalam tradisi pesantren, tradisi ini dinamakan sorogan.

Kedua, al-qira’ah ‘alas-syaikh yakni murid membaca kepada guru. Kebalikan dari metode pertama, metode ini dilakukan dengan membacakan hadis kepada guru. Dalam tradisi pesantren, praktek ini biasa dinamakan bandongan. Sang guru diam menyimak dan sesekali membetulkan bacaan muridnya.

Ketiga, al-ijazah yakni mengijinkan seseorang untuk menyampaikan sebuah hadis atau kitab).

nucare-qurban

Keempat, al-munawalah yakni menyerahkan kepada seseorang bahan tertulis untuk diriwayatkan.

Kelima, al-kitabah yakni praktek periwayatan ketika seseorang menuliskan hadis kepada orang lain.

Keenam, al-i’lam yakni praktek ketika seorang guru mengabarkan kepada muridnya bahwa ia mendengar suatu hadis

Ketujuh, al-washiyyah yakni praktek periwayatan dengan bentuk mewasiatkan suatu kitab kepada orang lain tentang hadis yang telah diriwayatkannya.

Kedelapan, al-wijadah yaitu ketika seseorang menemukan suatu tulisan orang lain yang di dalamnya terdapat hadis.

Lalu pertanyaannya, mengapa para ulama sampai sedetil itu merumuskan shighat atau bentuk penerimaan serta penyampaian hadis?

Ulama merumuskan detail-detail kecil shighat tahammul dan ada’ karena ingin memastikan sumber sebuah periwayatan. Delapan cara yang disebutkan di atas memiliki konsekuensi dalam penentuan kualitas hadis yang diriwayatkan. Misalnya: kalau sebuah hadis didapatkan seseorang dari langsung mendengar gurunya, maka hadisnya kemungkinan besar sahih. Namun jika seseorang mendapatkan hadis dari cara al-wijadah, riwayat yang dimilikinya tidak bisa didaku dan harus terlebih dahulu diuji kesahihannya.

Itulah cara-cara penerimaan dan penyampaian hadis yang sudah bergulir dalam tradisi periwayatan ulama hadis.

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...