Beranda Headline Meneropong Fenomena Muslimah Bekerja dalam Pandangan Islam

Meneropong Fenomena Muslimah Bekerja dalam Pandangan Islam

Harakah.id Semakin sedikit masyarakat yang berpandangan bahwa perempuan tak boleh bekerja layaknya laki-laki. Tetapi, masih ada pula yang berpandangan bahwa perempuan lebih baik di rumah menunaikan kewajibannya sebagai istri.

Pandangan masyarakat terhadap perempuan bekerja di Indonesia mungkin bervariasi tergantung pada latar belakang sosial, agama, dan budaya setiap individu. Namun secara umum, banyak orang di Indonesia menghargai dan menghargai perempuan yang bekerja. Mereka menghargai kontribusi perempuan terhadap keluarga dan masyarakat, serta menghargai keberhasilan perempuan dalam pekerjaan dan karier.

Meskipun demikian, masih ada beberapa orang yang memiliki pandangan yang tidak positif terhadap perempuan yang bekerja. Beberapa orang mungkin merasa bahwa pekerjaan seorang perempuan seharusnya adalah mengurus rumah tangga dan anak-anak, dan merasa tidak nyaman dengan ide perempuan bekerja di luar rumah. Namun, pandangan seperti itu semakin jarang terjadi di kalangan masyarakat modern di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda.

Banyak Muslimah di Indonesia yang bekerja dan memiliki karier yang sukses. Mereka bekerja di berbagai bidang, termasuk bisnis, teknologi, kesehatan, pendidikan, dan banyak lagi. Muslimah di Indonesia juga memiliki akses yang sama dengan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang diperlukan untuk mempersiapkan diri untuk bekerja.

Meskipun demikian, masih ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh Muslimah di Indonesia dalam menjalani karier dan bekerja. Salah satu tantangan utama adalah stigma yang masih melekat pada perempuan yang bekerja, terutama bagi perempuan yang berhijab. Beberapa orang masih memandang buruk perempuan yang berhijab dan merasa tidak nyaman untuk bekerja dengan perempuan tersebut. Namun, pandangan seperti itu semakin jarang terjadi di kalangan masyarakat modern di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda.

Baca juga: Tak Perlu Takut Dosa, Ini Panduan Agama untuk Perempuan Bekerja

Pandangan Islam terhadap perempuan bekerja bervariasi tergantung pada interpretasi yang diberikan oleh individu atau kelompok tertentu. Ada beberapa ulama dan pemuka agama yang berpendapat bahwa perempuan harus fokus pada tugas-tugas rumah tangga dan mengurus anak-anak, sementara ada yang berpendapat bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki untuk bekerja dan mencari nafkah.

Secara umum, Islam menghargai dan menghargai kontribusi perempuan terhadap keluarga dan masyarakat. Islam juga menghargai dan menghargai keberhasilan perempuan dalam pekerjaan dan karier. Dalam beberapa ayat Al-Quran, disebutkan bahwa laki-laki dan perempuan sama di depan Allah dan bahwa keduanya sama-sama bertanggung jawab atas keberlangsungan keluarga.

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal perempuan bekerja dari sudut pandang Islam. Misalnya, perempuan harus memperhatikan tata cara dan tata busana yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam saat bekerja, serta harus memperhatikan kewajiban-kewajiban lain seperti menjaga kehormatan diri dan memelihara kehormatan keluarga.

Al-Quran tidak memberikan pandangan yang jelas dan eksplisit mengenai muslimah bekerja. Namun, terdapat beberapa ayat Al-Quran yang dapat memberikan petunjuk mengenai pandangan Islam terhadap muslimah bekerja.

Salah satu ayat yang dapat menjadi pertimbangan adalah:

“Dan hendaknya orang laki-laki dan perempuan yang mukmin, memperlihatkan kepada manusia amal shalehnya, dan hendaknya mereka memelihara kemaluan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. Al-Ahzab: 35).

Ayat ini menekankan bahwa laki-laki dan perempuan sama di depan Allah dan bahwa keduanya sama-sama bertanggung jawab atas keberlangsungan keluarga. Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai dorongan bagi muslimah untuk bekerja dan membantu mencari nafkah bagi keluarga.

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal muslimah bekerja dari sudut pandang Islam. Misalnya, muslimah harus memperhatikan tata cara dan tata busana yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam saat bekerja, serta harus memperhatikan kewajiban-kewajiban lain seperti menjaga kehormatan diri dan memelihara kehormatan keluarga.

Di zaman nabi Muhammad, terdapat beberapa sahabat perempuan yang bekerja dan memiliki profesi tertentu. Berikut ini adalah beberapa contoh sahabat perempuan yang bekerja dan profesi yang mereka tekuni:

  1. Khadijah binti Khuwailid, merupakan istri pertama nabi Muhammad. Ia adalah seorang wanita pengusaha sukses yang memiliki perusahaan perdagangan. Ia juga membantu nabi Muhammad dalam menyebarkan dakwah Islam.
  2. Aisyah binti Abu Bakar, merupakan istri kedua nabi Muhammad. Ia adalah seorang wanita yang cerdas dan berilmu, dan sering memberikan nasihat dan bimbingan kepada sahabat-sahabat laki-laki maupun perempuan. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial, seperti mengajar orang-orang yang belum bisa membaca dan menulis.
  3. Ummu Salamah binti Zaid, merupakan salah satu sahabat perempuan nabi Muhammad yang memiliki profesi sebagai pedagang. Ia juga merupakan seorang wanita yang cerdas dan berilmu, dan sering memberikan nasihat kepada sahabat-sahabat laki-laki maupun perempuan.
  4. Hafshah binti Umar, merupakan salah satu sahabat perempuan nabi Muhammad yang memiliki profesi sebagai pedagang. Ia juga merupakan seorang wanita yang cerdas dan berilmu, dan sering memberikan nasihat kepada sahabat-sahabat laki-laki maupun perempuan.
  5. Ummu Waraqah binti Nawfal, merupakan salah satu sahabat perempuan nabi Muhammad yang memiliki profesi sebagai pedagang. Ia juga merupakan seorang wanita yang cerdas dan berilmu, dan sering memberikan nasihat kepada sahabat-sahabat laki-laki maupun perempuan.

Baca juga: Apakah Perempuan Zaman Rasulullah Bekerja? Keterlibatan Perempuan dalam Bidang Perekonomian

Demikian masalah Muslimah bekerja dalam pandangan Islam. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan kita semua.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...