Beranda Editorial Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.idKalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju?

Habib Rizieq Menolak Diajak Demo. Reuni 212 selesai digelar di Masjid At-Tin, Jumat (2/12/2022). Acara bertema “Munajar Akbar, Indonesia Bershalawat” itu menghadirkan sejumlah tokoh seperti Habib Rizieq Syihab.

Dalam acara yang diadakan para aktivis gerakan 212 itu, ada pernyataan yang mengejutkan dari Habib Rizieq. Bahwa ke depan, dirinya enggan dilibatkan dalam aksi-aksi demonstrasi seperti sebelumnya.

“Saya bilang, kalau bentuknya demo, aksi, maaf saya tidak terima. Bukan persoalan saya takut. Bukan persoalan saya gak berani. Persoalannya, ini merupakan stragtegi dakwah. Strategi perjuangan. Karena begitu saya ikut, saya dipenjara, satu tahun, saya gak bisa kumpul begini bersama umat. Betul? Betul. Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Setuju? Tapi kalau bentuknya ibadah, murni ibadah, saya pertimbangkan.”

Menurut Habib Rizieq, keputusan itu diambilnya setelah berkonsultasi dengan pengacaranya. Aziz Januar, sang pengacara, memberi nasihat agar Habib Rizieq menghindari terlibat dalam aksi demonstrasi karena cenderung riskan. Suasana demonstrasi sering membuat seorang orator harus berbicara keras, mencaci maki, dan gaya bicara lainnya agar dapat menarik simpati massa. Massa hanya akan tergerak ketika orator menyampaikan hal-hal provokatif. Di sisi lain, massa sangat mudah terprovokasi. Ada sedikit saja gesekan, maka akan cepat berubah menjadi kerusahan bersifat massal.

Masih menurut Habib Rizieq, suasana semacam itu mudah dimanfaatkan oleh lawan politiknya untuk mempermasalahkannya secara hukum. Sekalipun menurut dirinya, atau pendukungnya, tidak bermasalah secara hukum, tapi pihak lain bisa saja melakukan langkah-langkah tertentu. Situasi ini riskan mengingat bahwa dirinya masih berstatus pembebasan bersyarat. Salah satu poin yang harus dia jaga adalah tidak terlibat dalam pelanggaran hukum. Jika oleh lawan politiknya dinaikkan lagi jadi persoalan hukum, maka dia harus kembali masuk penjara selama 1 tahun. Inilah konteks mengapa Habib Rizieq enggak diajak demonstrasi lagi.  

Menurut laporan aparat kepolisian, peserta berjumlah sekitar 10.000 orang. Pihak kepolisian disebut telah menjalankan tugasnya dengan baik. Sejak malam, aparat kepolisian telah bersiap dengan menempatkan petugas Gegana untuk mengantisipasi serangan bom. Mengingat bahwa pada acara reuni 212 tahun 2018, pernah ada yang membuat bom paralon untuk menciptakan kerusuhan.

Tekanan Berbasis Hukum, Kerangka Demokrasi Berkeadaban

Berangkat dari statemen Habib Rizieq di atas, dapat dipahami bahwa HR telah belajar banyak dari pengalaman selama ini. Langkah-langkah yang sekalipun menurutnya benar, belum tentu menurut pihak lain benar secara hukum nasional. Pihak lain itu bisa berarti lawan politiknya, atau para hakim dan sistem hukum yang berlaku di negeri ini.

Dia bebas menyuarakan aspirasinya. Tetapi, dalam kehidupan bersama, kebebasan itu dibatasi oleh hak pihak lain. Pembatasan itu sendiri diperkuat dengan hukum, perundang-undangan, peraturan dan apparatus penegak hukum. Ini mengingatkan kita tentang prinsip-prinsip demokrasi tentang hak asasi manusia, kebebasan terbatas, dan hukum sebagai panglima.

Melihat fenomena semakin lunaknya sikap Habib Rizieq, dan sepertinya Habib Bahar bin Smith, berkurangnya tensi bicara yang berapi-api dan provokatif, serta keterlibatan mereka dalam aksi-aksi demonstrasi, agaknya hukum masih memiliki taji di Indonesia.

Ini mengingatkan kita pada sejumlah peristiwa yang menodai kredibilitas penegak hukum, seperti kasus Sambo Cs dan Jaksa Pinangki, yang dinilai dapat meruntuhkan kewibawaan hukum Indonesia. Nyatanya, institusi kepolisian dapat menghadapi kasus-kasus tersebut dengan cukup baik. Aparat dan sistem hukum Indonesia menangkap pelaku, mengajukan ke meja hijau, dan mengadili kasusnya. Sekalipun demikian, masih ada banyak pekerjaan rumah yang menunggu dalam sistem hukum di Indonesia. Hukum masih diperlukan untuk menjaga praktik demokrasi yang berkeadaban.

Pembubaran FPI: Antara Stabilitas, Demokrasi dan Penggunaan Instrumen Hukum

Dalam konteks pembubaran Front Pembela Islam (FPI), organisasi yang dipimpin oleh Habib Rizieq, para pemerhati terbelah. Ada yang melihatnya sebagai bagian dari pemberangusan demokrasi. Karena sejumlah anggota organisasi tersebut yang dalam aksi anarkhisme harusnya tidak dikaitkan dengan organisasi. Tetapi dengan individu yang melanggar hukum.

Pihak lain melihat bahwa aksi-aksi FPI selama sebelum dibubarkan harus dilihat sebagai aksi kolektif organisasi atau sangat terkait keberadaan organisasi tersebut. Ideologi FPI sering dikaitkan dengan radikalisme, mirip yang dikembangkan kelompok teroris pendukung jihad global Al-Qaeda, JI dan ISIS. Dukungan petinggi FPI terhadap agenda jihad, khilafahisme, dan Indonesia bersyariah menempatkan organisasi ini dalam aras yang sama dengan organisasi jihadis. Sekalipun ada bantahan dari sana-sini, tetapi publik membacanya berbeda.

Karena itu, FPI layak dibubarkan menggunakan instrumen hukum. Menurut pendukung pandangan ini, pembubaran FPI tidak bertentangan dengan prinsip demokrasi. Karena, FPI diasumsikan sebagai kelompok anti-HAM dan anti-Demokrasi. Membubarkan FPI berarti meneguhkan demokrasi dengan menghilangkan rintangannya. Demikian Habib Rizieq Menolak Diajak Demo.

Habib Rizieq, FPI dan Aktor Lapangan

Selama perhelatan politik satu dekade terakhir, atau dua kali periode Presiden Joko Widodo, Habib Rizieq dan FPI memiliki fungsi tersendiri di lapangan. Berbagai demonstrasi melihatkan Habib Rizieq dan organisasinya tersebut. Tercatat bahwa di awal Joko Widodo masuk ke Jakarta, FPI membuat gubernur tandingan. Demonstrasi Jakarta selama 2016, menuntut pengadilan atas kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada mantan wakil Joko Widodo di Provinsi DKI Jakarta, Basuki Cahaya Purnama, membuat pamor FPI dan Habib Rizieq naik ke pentas nasional.

Aksinya berhasil menarik sejumlah besar massa. Tentu ini menjadi daya tarik tersendiri bagi Habib Rizieq dan FPI. Massa yang berhasil dihimpun merupakan lumbung suara yang tak boleh dilewatkan. FPI menjadi aktor lapangan yang berhasil membangun akar di tingkat bawah dengan cukup cepat. Beberapa survei menunjukkan bahwa FPI menjadi organisasi yang mulai dikenal secara nasional, sekalipun tidak sebesar NU atau Muhammadiyah. Hanya saja, aksinya harus berakhir di era pemerintah Presiden Joko Widodo beberapa tahun lalu.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...