Beranda Keislaman Muamalah Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.idPara istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan wajah dan kedua tangan mereka terbuka. Hal ini menjadi pertanyaan tersendiri bagi sebagian orang. Mengapa para kiai banyak yang berperilaku demikian. KH. Baha’uddin Nursalim menjawab pertanyaan ini.

Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia. Umumnya melihat agama sebagai perkara yang sangat penting. Tidak heran jika lembaga pendidikan agama tumbuh dengan pesat. Pesantren, kiai, dan satri merupakan pusat pendidikan agama Islam.

Pada umumnya, para kiai pesantren menganut mazhab Syafi’i. Dalam mazhab ini, cara berpakaian perempuan diatur agar sesuai dengan ajaran Islam. Salah satu bentuk aturan tersebut adalah menutup bagian tubuh yang disebut aurat.

Dalam kitab-kitab mazhab Syafi’i, aurat perempuan dibagi menjadi dua macam. Aurat saat shalat dan aurat di luar shalat.  Aurat perempuan di dalam shalat adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Di luar shalat, aurat perempuan adalah seluruh bagian tubuh tanpa terkecuali.

Kitab-kitab mazhab Syafi’i yang paling dasar menjelaskan hal ini. Tetapi, anehnya, para kiai pesantren tidak menerapkan aturan ini dengan ketat. Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan wajah dan kedua tangan mereka terbuka.

Hal ini menjadi pertanyaan tersendiri bagi sebagian orang. Mengapa para kiai banyak yang berperilaku demikian. KH. Baha’uddin Nursalim menjawab pertanyaan ini. Menurutnya, para kiai pesantren di Indonesia memang mengaku mengikuti mazhab Syafi’i. Tetapi dalam praktiknya, mereka tidak saklek.

Banyak praktik keagamaan yang dilakukan dengan cara berpindah mazhab. Salah satunya adalah tentang batasan aurat. Benar dalam mazhab Syafi’i aurat perempuan di luar shalat adalah seluruh tubuh tanpa terkecuali. Karenanya, tidak mungkin para kiai pesantren mengikuti mazhab ini dalam masalah batasan aurat perempuan.

Praktik yang terjadi adalah para kiai Indonesia sebenarnya telah berpindah mazhab, dari mazhab Syafi’i berpindah mengikuti mazhab Hanafi. Dalam mazhab Hanafi, memang diperbolehkan membuka wajah dan tangan. Ini menunjukkan bahwa para kiai pesantren seringkali tidak berpatokan pada salah satu mazhab saja dalam praktik sosial-keagamaannya.

Menurut Gus Baha’, panggilan akrab kiai dari Jawa Tengah ini, sebenarnya bukan berarti dalam mazhab Syafi’i tidak ada yang berpendapat batasan aurat seperti dikenal dalam mazhab Hanafi. Salah satu ulama Syafi’iyyah yang berpendapat bahwa aurat perempuan di luar shalat adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan adalah Imam As-Suyuthi.

Jadi, sampai di sini bisa dipahami bahwa dalam praktiknya, ulama di Indonesia mengambil pendapat yang agak longgar dalam praktik sosial-keagamaannya. Inilah jawaban pertanyaan mengapa ada anak kiai tetapi tidak berjilbab dengan cara yang ketat seperti memakai cadar.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...