Beranda Keislaman Muamalah Mengapa Ada Anjuran Memasang Foto Presiden dalam Islam, Ini Penjelasan Syekh Nawawi...

Mengapa Ada Anjuran Memasang Foto Presiden dalam Islam, Ini Penjelasan Syekh Nawawi Banten

Harakah.id Salah satu bid’ah yang dianjurkan adalah memasang foto para pemimpin agama dan penguasa. Hukumnya sama dengan shalat tarawih secara berjamaah seperti yang menjadi kebiasaan masyarakat.

Sebagian masyarakat ada yang beranggapan bahwa memasang foto seorang penguasa negara adalah perbuatan yang dilarang dalam Islam. Terkadang hal ini dikaitkan dengan hukum tentang foto dimana ada sebagian pihak yang melarangnya.

Di Indonesia, tidak ada aturan yang secara spesifik mewajibkan pemasangan foto penguasa (baca: presiden). Undang-undang hanya mengatur pemasangan lambang negara di Gedung-gedung pemerintah dan Lembaga Pendidikan, seperti tertuang Pasal 51 huruf a UU 24/2009. Dalam UU ini disebutkan, “Lambang Negara wajib digunakan di dalam gedung, kantor, atau ruang kelas satuan pendidikan.” Tujuan pemasangan lambang negara adalah untuk menunjukkan kewibawaan negara.

Dalam tinjauan Undang-undang di atas, yang wajib adalah memasang lambang negara. Bukan foto presiden dan wakil presiden. Sekalipun tidak disebut secara tegas kewajiban mamasang foto presiden dan wakil presiden, tetapi dalam pasal 55 UU 24/2009, ditemukan aturan pemasangan foto presiden dan wakil presiden. Kewajiban atau aturan pemasangan lambang negara dan foto presiden dan wakil presiden berlaku untuk gedung dan kantor lembaga pemerintah serta Lembaga Pendidikan. Tidak ada yang mewajibkan berlaku untuk gedung atau rumah pribadi.

Tetapi, dalam kenyataannya, kita menemukan bahwa ada sebagian masyarakat yang juga memasang lambang negara, foto presiden dan wakil presiden di ruang tamu rumahnya. Tentu saja ini bukan tindakan kriminal atau melanggar hukum. Bahkan, ternyata dalam pandangan Islam, praktik ini ada anjurannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nuruzh Zhalam Syarah Aqidatil Awwam.

Dalam pembahasan tentang bid’ah, Syekh Nawawi menjelaskan macam-macam bid’ah dari segi hukumnya. Intinya, ada lima hukum perbuatan bid’ah. Ada yang wajib, sunnah, haram, makruh dan ada pula yang mubah. Salah satu bid’ah yang dianjurkan adalah memasang foto para pemimpin agama dan penguasa. Hukumnya sama dengan shalat tarawih secara berjamaah seperti yang menjadi kebiasaan masyarakat. Syekh Nawawi menulis,

وثالثها مندوب وهو ما تناولته قواعد الندب وأدلته كصلاة التراويح جماعة واقامة صور الائمة والقضاة وولاة الامور على خلاف ما كان عليه الصحابة رضوان الله عليهم بسبب ان المصالح والمقاصد الشرعية لا تحصل الا بعظمة الولاة في نفوس الناس وكان الناس في زمان الصحابة رضي الله عنهم انما يعظمون بالدين وسابق الهجرة والاسلام ثم اختل النظام حتى صاروا لا يعظمون الا بالصور

Bid’ah ketiga adalah bid’ah yang dianjurkan. Yaitu bid’ah yang masuk dalam cakupan kaidah amalan sunnah dan dalil-dalilnya, seperti praktik shalat tarawih berjamaah dan memasang foto para imam, hakim dan para penguasa yang berbeda dengan praktik para sahabat nabi. Hal ini disebabkan bahwa kemaslahatan dan prinsip-prinsip syariat tidak dapat diwujudkan kecuali dengan menumbuhkan citra kewibawaan para penguasa dalam hati masyarakat. Masyarakat pada zaman sahabat nabi dihormati karena agama serta senioritas dalam hijrah dan Islam. Kemudian aturan menjadi rusak sampai pada tahap para pemimpin tidak dihormati kecuali dengan cara memasang gambar mereka. (Nuruzh Zhalam Syarah Aqidatil Awwam, hlm. 6).

Berangkat dari keterangan ini, Syekh Nawawi al-Bantani menyamakan hukum memasang foto ulama dan penguasa dengan hukum shalat tarawih berjamaah. Keduanya perkara bid’ah yang dianjurkan dalam Islam. Keduanya hukumnya sunnah. Perkara yang kalau dilakukan, seseorang akan mendapat pahala. Jika ditinggalkan, seseorang tidak mendapat dosa.

Jika kita lihat era Syekh Nawawi al-Bantani, yaitu akhir abad kesembilan 1890-an, era tersebut sudah mengenal teknik fotografi. Di sisi lain, negara tempat asal Syekh Nawawi, yaitu Nusantara sedang dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda yang beragama non-Muslim. Syekh Nawawi sendiri hidup di Mekah yang saat itu masih berada dalam kekuasaan Kesultanan Turki Usmani melalui gubernur Mekah. Agaknya, sudah ada praktik memasang foto penguasa di gedung, kantor atau rumah-rumah warga. Praktik ini dipandang baik oleh Syekh Nawawi al-Bantani karena dapat menumbuhkan kewibawaan pemerintah. Ketika pemerintah berwibawa, dihormati oleh masyarakat, maka ketertiban akan tercipta. Ketertiban masyarakat merupakan tujuan yang sangat ingin diwujudkan dalam aturan syariat (al-maqasid al-syar’iyyah).  

Dengan demikian, dapat kita ambil kesimpulan bahwa menurut Syekh Nawawi al-Bantani, memasang foto pemerintah, presiden dan wakil presiden misalnya, adalah perbuatan atau amalan yang dapat mendatangkan pahala. Ia dianjurkan agar masyarakat menaruh hormat kepada lembaga pemerintahan. Penghormatan kepada pemerintah menjadi sebab terciptanya ketaatan dan ketertiban.

Pandangan Syekh Nawawi al-Bantani ini masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia kontemporer. Dimana suasana yang bebas di masyarakat terkadang mendorong sebagian orang melakukan upaya merongrong kewibawaan negara. Berbagai upaya menjelek-jelekkan pemerintah dengan tujuan mengganti sistem pemerintahan dengan sistem lain yang dianggap lebih baik, bahkan sebagian dengan cara-cara pemaksaan dan kekerasan, tumbuh secara liar. Pandangan Syekh Nawawi al-Bantani ini dapat menjadi penguat bahwa menghormati penguasa, presiden dan wakil presiden, adalah perkara yang baik dalam pandangan agama. Memasang foto mereka adalah bagian cara menjaga rasa hormat dan kewibawaan penjaga ketertiban masyarakat.

Semoga penjelasan tentang alasan mengapa ada anjuran memasang foto presiden dalam Islam ini bermanfaat dan menambah wawasan kita bersama. Mengapa Ada Anjuran Memasang Foto Presiden dalam Islam, Ini Penjelasan Syekh Nawawi Banten.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...