Beranda Keislaman Hadis Mengapa Air Laut Dianggap Suci dan Mensucikan dalam Islam?

Mengapa Air Laut Dianggap Suci dan Mensucikan dalam Islam?

Harakah.id Selain air hujan yang diturunkan dari langit, ada air lain yang juga dapat digunakan bersuci atau membersihkan diri. Salah satunya adalah air laut. Hal ini pernah dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam banyak agama yang mengajarkan tentang penyucian diri, air menjadi medium penting. Tak terkecuali dalam agama Islam. Dalam Islam, air menjadi medium penyucian diri yang harus dilakukan sebelum seseorang menjalankan peribadatan tertentu seperti shalat.

Islam mengajarkan sejumlah metode penyucian diri tergantung bentuk kotoran yang dinilai menempel pada diri manusia. Di antara metode penyucian itu adalah penyucian najis (izalah an-najasah) dan penyucian hadas (thaharah an al-hadats). Penyucian dari hadas terbagi ke dalam dua macam metode; penyucian hadas besar dengan cara mandi, dan penyucian hadas kecil dengan cara berwudu.

Baik penyucian najis maupun hadas, sarana utama yang digunakan adalah air. Dalam Al-Quran dikatakan, wa anzalna minas sama’I ma’an thahura; dan kami turunkan dari langit air yang suci lagi mensucikan (Qs. Al-Furqan: 48).

Ayat di atas menjelaskan bahwa air diturunkan oleh Allah SWT dari langit dalam keadaan thahura. Kata thahura berarti suci (thahir) dan mensucikan (muthahhir). Bersih dan dapat digunakan membersikan sesuatu. Pernyataan ini telah menjadi aksioma.

Berdasarkan ayat di atas pula dapat dipahami bahwa air yang suci dan dapat digunakan mensucikan benda lain adalah air hujan. Lantas, bagaimana dengan air selain air hujan? Ternyata, selain air hujan yang diturunkan dari langit, ada air lain yang juga dapat digunakan bersuci atau membersihkan diri. Salah satunya adalah air laut. Hal ini pernah dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (773-852 H./1372-1449 M.) dalam kitab Bulugh al-Maram menyebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda berkenaan dengan status air laut:

هو الطهور ماؤه الحل ميتته

Laut itu suci dan mensucikan airnya, halal bangkai ikannya

(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah).

Hadis ini diriwayatkan oleh para imam ahli hadis terkemuka seperti Imam Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I dan Ibnu Majah. Menurut Syekh Yasir al-Fahl, Ketua Darul Hadis Iraq, kutipan dalam kitab Bulugh al-Maram merupakan bentuk potongan yang mengikuti versi dalam kitab al-Muharrar. Versi lengkap hadis ini menyebutkan latar belakang yang melatari sabda Nabi tersebut. Misalnya dalam kitab Sunan Abi Dawud disebutkan seperti ini,

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنْ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, seraya berkata; “Wahai Rasulullah, kami naik kapal dan hanya membawa sedikit air, jika kami berwudhu dengannya maka kami akan kehausan, apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Maka Rasulullah SAW menjawab: “Ia (laut) adalah suci airnya dan halal bangkainya.” (HR. Abu Dawud)

Sekalipun dilatarbelakangi sebab yang khusus, tetapi hadis ini diambil sisi keumumannya. Yaitu air samudera atau air laut adalah suci dan dapat digunakan bersuci. Hadis ini tidak dibatasi pada para pelaku yang ada dalam hadis tersebut. Tetapi dapat berlaku untuk kita yang hidup saat ini. Tidak hanya dibatasi bagi para nelayan yang berada di tengah samudera. Tetapi, dapat digunakan oleh mereka berada di darat. Ahli Hadis terkemuka asal India, Syekh Azhim Abadi (w. 1329 H.) mengatakan,

وَالْحَدِيثُ فِيهِ مَسَائِلُ الْأُولَى أَنَّ مَاءَ الْبَحْرِ طَاهِرٌ وَمُطَهِّرٌ

Dalam hadis terdapat beberapa poin permasalahan. Pertama, air laut adalah suci dan dapat digunakan mensucikan. (‘Aun al-Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud, 1/107)

Al-Humaidi mengutip Al-Syafi’i, mengatakan bahwa hadis ini merupakan setengah ilmu thaharah dalam Islam (hadza al-hadits nishfu ‘ilm al-thaharah). Perkataan ini menegaskan berlakunya hadis ini secara umum. Tidak dibatasi dalam konteks seperti dalam asbabul wurud. Karena itu, dapat dipahami, para ulama menggunakan kaidah al-‘ibrah bi ‘umum al-lafzhi la bi khushush al-sabab (‘Aun al-Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud, 1/107).

Ketika Al-Quran tidak menjelaskan status air laut, sedangkan hal itu dijelaskan dalam sabda Nabi, maka posisi sabda nabi tersebut adalah sebagai sumber hukum yang bersifat mandiri (tasyri’ mustaqill).

Sampai di sini kita dapat memahami Mengapa Air Laut Dianggap Suci dan Mensucikan dalam Islam? Air laut dapat digunakan bersuci dari najis atau hadas. Baik hadas kecil maupun hadas besar. Jadi, alasan mengapa air laut dianggap suci dalam Islam adalah karena ada hadis Nabi yang menetapkan status tersebut. Semoga ulasan singkat “Mengapa Air Laut Dianggap Suci dan Mensucikan dalam Islam?” ini dapat menambah wawasan kita.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...