fbpx
Beranda Keislaman Ibadah Mengapa Imam Malik Menolak Kesunnahan Puasa Syawal?

Mengapa Imam Malik Menolak Kesunnahan Puasa Syawal?


Harakah.idPuasa enam hari di bulan Syawal dipandang sunnah dalam mazhab Syafi’i, Hanbali dan Hanafi. Tetapi mazhab Maliki menolak kesunnahan tersebut. Mengapa?

Bagi masyarakat Muslim tanah air kesunnahan puasa syawal tentu telah menjadi bagian hukum yang diketahui banyak orang, bahkan yang sangat awam sekalipun.

Meskipun tidak semua terbiasa mempraktekkannya. Akan tetapi ternyata kesunnahan puasa Syawal ternyata tidak menjadi kesepakatan seluruh ulama. Dalam peta perbedaan dan perbandingan pendapat para ulama fikih, ternyata ada mazhab yang tidak mengakui kesunnahan puasa Syawal.

Puasa enam hari di bulan Syawal dipandang sunnah di sisi mazhab Syafi’i, Hanbali dan Hanafi. Namun justru dinilai makruh dalam pendapat resmi mazhab Maliki. Salah seorang ulama Malikiyah, Abu Walid Al-Baji dalam Al-Muntaqa Syarh Al-Muwaththa’ (2/72) menyebut bahwa Imam Malik pernah berkata

إنِّي لَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْفِقْهِ يَصُومُهَا وَلَمْ يَبْلُغْنِي ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنْ السَّلَفِ وَأَنَّ أَهْلَ الْعِلْمِ يَكْرَهُونَ ذَلِكَ وَيَخَافُونَ بِدْعَتَهُ

Artinya: saya tidak pernah menemukan ahli ilmu dan fikih yang mempraktekkan puasa syawal, saya juga tidak pernah memperoleh riwayat para salaf yang mempraktekkan demikian. Justru para ulama memakruhkan praktek tersebut dan ia dipandang sebagai bid’ah yang mengkhawatirkan.

nucare-qurban

Bagaimana para ulama Syafi’i menyikapi pengakuan imam Malik yang diriwayatkan oleh para ulama Malikiyah di atas? Para ulama menjawab bahwa tidak masyhurnya sebuah amalan di sisi satu komunitas muslim tidak dapat menjadi dalil tidak disyariatkannya amalan tersebut.

Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ (6/379) menjelaskan:

قَوْلُ مَالِكٍ لَمْ أَرَ أَحَدًا يَصُومُهَا فَلَيْسَ بِحُجَّةٍ فِي الْكَرَاهَةِ لِأَنَّ السُّنَّةَ ثَبَتَتْ فِي ذَلِكَ بِلَا مُعَارِضٍ فَكَوْنُهُ لَمْ يَرَ لَا يَضُرُّ

Artinya: pengakuan Imam Malik bahwa beliau tidak pernah menemukan orang yang mengamalkan puasa Syawal tidak dapat dijadikan hujjah kemakruhan puasa tersebut. Keterangan sunnah tentang puasa Syawal memiliki sumber dan tidak dapat dibatalkan oleh pengakuan Imam Malik.

Apalagi pada masa yang berdekatan dengan era Imam Malik, nyatanya puasa Syawal juga diamalkan oleh Imam Syafi’i, Ibnul Mubarak, Imam Ahmad dan lain-lain sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Tahdzibus Sunan (3/314).

Ada yang mencoba menyelaraskan perkataan Imam Malik di atas bahwa Imam Malik hanya memakruhkan puasa Syawal jika dianggap sebagai fardhu dan disambung dengan puasa Ramadhan, karena hal tersebut dapat membuyarkan syiar hari raya idul fitri.

Muhammad Ibn Yusuf dalam Al-Taju wal Iklil (3/329) mengutip perkataan Ibn Rusyd:

إنَّمَا كَرِهَ مَالِكٌ صَوْمَهَا لِسُرْعَةِ أَخْذِ النَّاسِ بِقَوْلِهِ فَيَظُنُّ الْجَاهِلُ وُجُوبَهَا، وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ مَالِكًا كَانَ يَصُومُهَا

Artinya: Imam Malik hanya memakruhkan puasa Syawal jika orang terlalu terburu menyegerakannya hingga nampak seperti puasa wajib kelanjutan dari puasa Ramadhan. Diriwayatkan justru Imam Malik sendiri mengamalkan Puasa Syawal.

Dalam sebagian kitab fikih Malikiyah justru terdapat keterangan bahwa puasa Syawal dimasukkan dalam kategori puasa sunat. Ibn Jazi dalam Al-Qawaninul Fiqhiyah (halaman: 78) menuliskan:

وَالْمُسْتَحب) صِيَام الْأَشْهر الْحرم وَشَعْبَان وَالْعشر الأول من ذِي الْحجَّة وَيَوْم عَرَفَة وَسِتَّة أَيَّام من شَوَّال وَثَلَاثَة أَيَّام من كل شهر وَيَوْم الْإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيس

Artinya: disunnahkan berpuasa pada bulan-bulan ayng dimuliakan, sepuluh hari dari bulan dzulhijah, hari Arafah, enam hari dari bulan Syawal, tiga hari di setiap bulan, dan hari Senin dan kamis.

Kesimpulan: kesunnahan puasa Syawal merupakan pendapat mayoritas ulama dan ditunjukkan oleh hadis yang jelas. Diriwayatkan memang Imam Malik tidak pernah melihat praktik puasa Syawal di Madinah dan justru memakruhkannya.

Akan tetapi ternyata di pihak internal mazhab Maliki sendiri masih memiliki alasan kemakruhan semata-mata jika dianggap sebagai puasa wajib dan mengurangi syiar hari raya. Imam Malik sendiri dalam sebagian riwayat justru mengamalkan puasa tersebut. Oleh karena itu kesunnahan puasa Syawal lebih kuat untuk diikuti.

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...