Beranda Gerakan Mengapa Kampus Islam Harus Didirikan? Ini Jawaban dan Argumen Kiai Saifuddin Zuhri

Mengapa Kampus Islam Harus Didirikan? Ini Jawaban dan Argumen Kiai Saifuddin Zuhri

Harakah.id Mengapa kampus Islam harus didirikan? Dalam sejarah pendidikan bangsa Indonesia, adalah Kiai Saifuddin Zuhri yang memulai gagasan dan gerakan pendirian kampus-kampus Islam negeri di Indonesia. Menurut Kiai Saifuddin Zuhri, kampus tersebut dibutuhkan agar generasi umat Islam memiliki lembaga pendidikan yang berkarakter dan berkualitas.

Orang-orang pesantren menekankan pentingnya amal. Terutama amal yang dapat bermanfaat bagi banyak orang. Hal ini diajarkan secara turun-temurun, melalui majelis-majelis pengajian kitab kuning, terutama kitab-kitab fikih. Dalam kitab-kitab fikih, salah satunya terkenal perkataan imam as-Syafi’I (204 H.) bahwa belajar ilmu pengetahuan lebih utama dibanding shalat sunnah.

Baca Juga: Kaum Sarungan Itu Santai, Bukan Pemalas! Memeriksa Stigma “Pemalas” yang Disematkan Kolonial Kepada Pribumi Nusantara

Imam as-Syafi’i berpendapat demikian karena belajar merupakan sarana mendapatkan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, kehidupan manusia dapat menjadi lebih baik. Ilmu pengetahuan keagamaan misalnya. Orang-orang yang mempelajarinya akan mengerti tentang tata cara melaksanakan ibadah dengan baik dan benar. Pelaksanaan ibadah secara baik dan benar akan mengantarkan orang menjadi pribadi yang bertakwa, taat dan bertanggungjawab kepada Tuhan. Ketakwaan, ketaatan dan tanggungjawab tidak hanya akan bermanfaat bagi pelakunya sendiri. Baik di dunia maupun di akhirat. Namun juga akan bermanfaat bagi orang lain, secara lebih luas, bahkan dalam level kehidupan bernegara. karenanya, belajar sebagai sarana mendapatkan ilmu lebih utama dibanding ibadah shalat sunnah yang manfaatnya hanya akan kembali kepada pelakunya.

Dalam kaidah fikih dikenal sebuah kaidah:

الْمُتَعَدِّي أَفْضَلُ مِنْ الْقَاصِرِ

Kebijakan yang berdampak luas lebih utama dibanding yang terbatas

Para ulama mazhab Syafi’i, juga punya prinsip yang sama bahwa ibadah yang punya nilai sosial lebih tinggi nilainya dibanding yang bernilai individual. Imam al-Haramain misalnya, beliau berpendapat bahwa fardu kifayah lebih utama dibanding fardu ain. Fardu kifayah adalah kewajiban agama yang dapat digugurkan ketika ada satu orang yang sudah melaksanakannya. Biasanya fardu kifayah terkait dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat umum seperti kesehatan, keadilan, pendidikan, dan lainnya.

Baca Juga: Tidak Berpotensi Menggantikan Agama, Kiai Ahmad Shiddiq Yakinkan Para Ulama Menerima Asas Tunggal Pancasila

Kebutuhan terhadap kesehatan misalnya merupakan kebutuhan yang sangat mendesak dalam masyarakat. Keberadaan tenaga kesehatan menjadi keniscayaan. Karenanya, mempelajari ilmu kesehatan atau kedokteran dihukumi fardu kifayah. Kebutuhan kepada pendidikan juga demikian. Ia menuntut adanya tenaga pendidik yang profesional. Guru-guru, terutama guru agama penting ada di tengah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan ini. Menjadi guru agama atau orang yang ahli dalam masalah agama menjadi penting.

Para ulama menghukumi mempelajari agama hingga menjadi ahli di bidang keagamaan hukumnya fardu kifayah. Ketika dalam suatu masyarakat belum ada yang mengambil peran tersebut, berdosalah seluruh anggota masyarakat tersebut. Hal ini karena kebutuhan masyarakat terhadap layanan pendidikan keagamaan tidak ada yang memenuhi. Ketika ada satu orang yang sudah mengambil spesialisasi mengajarkan ilmu agama, maka gugurlah kewajiban.

Contoh lainnya. Merawat jenazah hingga menguburkannya adalah fardu kifayah. Jenazah yang tidak diurus, akan menjadi bangkai yang membusuk. Bau busuk akan mengundang datangnya penyakit. Tentu penyakit itu akan menimpa semua orang yang ada di sekitarnya. Bila jenazah ada di satu kampung, bisa jadi seluruh warga kampung tersebut akan terkena penyakit akibat bau busuk mayat. Karenanya, harus ada orang yang mengurus jenazah tersebut agar tidak menimbulkan bahaya bagi orang banyak.

Inilah fardu kifayah yang manfaatnya lebih luas dibanding fardu ain. Menjadi dokter, guru agama, dan pengurus jenazah adalah ibadah sosial berniali tinggi. Di sini, ibadah sosial lebih utama dibanding ibadah individual. Hal ini kemudian menjadi prinsip yang tertanam kuat dalam benak orang-orang pesantren tentang pentingnya amal perbuatan yang dapat memberikan manfaat seluas-luasnya. Kader-kader pesantren selalu didorong menjadi pribadi yang demikian.

Pertanyaannya, mengapa kampus Islam harus didirikan? Ya agar umat Islam, dan orang-orang pesantren khususnya, dapat memberikan manfaat yang lebih dalam konteks pembangunan bangsa (nation building), para tokoh NU yang pernah menempati jajaran kementerian Agama membuat kebijakan pendirian perguruan tinggi Islam. KH. Saifuddin Zuhri menegaskan fungsi pendidikan tinggi, “IAIN harus menjadi perguruan tinggi yang memiliki kedudukan strategis dalam rangka mewujudkan tesis agama sebagai unsur mutlak nation building (pembangunan bangsa).”

Baca Juga: Soeharto Pun Dilawan, Kiai Bisri Pasang Badan Guna Merevisi RUU Perkawinan yang Dianggap Menyusahkan

Pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam mendapat tantangan dari anggota DPR yang melihat bahwa kebijakan tersebut adalah cermin pemerintah menganakemaskan umat Islam. Dengan tegas KH. Saifuddin Zuhri menjawab, “Menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan rakyat melalui pendidikan dan pengajaran. Dalam sistem pendidikan kolonial tempo dahulu, hanya segolongan masyarakat kecil yang diuntungkan oleh sistem itu, dengan menikmati berbagai fasilitas dan sarana yang baik. Sementara masyarakat Islam yang mayoritas itu dibiarkan dalam kebodohan.”

Rakyat yang dibiarkan dalam kebodohan tidak akan banyak berguna dalam pembangunan bangsa. Karenanya, agar tujuan pembangunan bangsa dapat dicapai, maka pendirian perguruan tinggi Islam menjadi keniscayaan. Kebijakan nation building yang digaungkan Bung Karno selaku Presiden saat itu diterjemahkan dalam konteks pengembangan masyarakat Islam-santri. Ini agar masyarakat Islam, khususnya kaum santri, dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan kuat. Karena, al-muta’addi afdhalu minal qashir, kebijakan yang berdampak luas lebih utama dibanding yang terbatas.    

REKOMENDASI

Macam-Macam Zakat yang Harus Kita Bayar Ketika Memenuhi Syarat

Harakah.id - Macam-macam zakat ini wajib kita bayar jika telah memenuhi syarat. Secara garis besar, ada dua macam zakat, yaitu zakat...

Kiai Ridwan Menggambar Lambang NU, Muncul dalam Mimpi dan Disetujui Kiai Hasyim

Harakah.id - Kiai Ridwan menggambar lambang NU berdasarkan mimpi dari salat istikharah yang dilakukannya. Lambang yang kemudian disetujui Kiai Hasyim Asy'ari...

“Kunikahi Engkau dengan Mahar Hafalan Surat Ar-Rahman”; Romantis Sih, Tapi Apa Boleh?

Harakah.id - Mahar hafalan surat-surat dalam al-Quran kian trend. Pasangan laki-laki yang menikahi seorang perempuan, akan semakin tampak romantis dan islami...

Muhaddis Garis Lucu, Historisitas Argumen Keabsahan Hadis dan Hal-Hal yang Tak Selesai

Harakah.id - Muhaddis Garis Lucu menampilkan satu kondisi dan situasi periwayatan di masa lalu. Bahwa tradisi periwayatan yang kemudian menjadi bahan...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...