Mengapa Kita Harus Taqlid dan Tidak Bisa Langsung Kembali ke Al-Qur’an dan Hadis?

0

Harakah.idTaqlid kepada ulama adalah jalan paling aman untuk awam yang tidak mampu mengakses dalil-dalil dalam al-Qur’an dan Hadis

Hari ini banyak orang dan gerakan keagamaan yang menganjurkan untuk mengakses langsung ke al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama agama Islam. Banyak juga yang menganjurkan untuk meminimalisir taqlid, lagi-lagi, dengan saran untuk langsung merujuk ke al-Qur’an dan Hadis. Membaca al-Qur’an dan Hadis, mempelajari keduanya dan memahaminya tentu merupakan sebuah kewajiban. Tapi jika urusannya sampai pada soal ijtihad dan penggalian hukum, maka tidak semua orang bisa mengakses hal itu!

Mengapa bisa demikian? Coba kita diskusikan…

Hari ini kita sudah memiliki format dan tatacara shalat yang sudah purna. Takbritul ihram dulu, baca iftitah, baca al-Fatihah, baca Surat, rukuk teruuusss sampai salam. Kalau anda perhatikan, penjelasan tatacara shalat sedetail apa yang kita lakukan hari ini, tidak ada dalam al-Qur’an. Yang ada dalam al-Qur’an hanya ayat perintah “aqimus shalah” atau “warka’uu ma’ar-raki’in”… tidak ada kata I’tidal disebut dalam al-Qur’an.

Dalam Hadis, perkataan langsung Nabi terkait perintah shalat hanyalah “shallu kama ra’aitumuni ushalli” (shalatlah sebagaimana kamu melihat aku shalat). Pada akhirnya para sahabat mencontoh shalat Nabi, dan meriwayatkan hasil pengamatannya dalam hadis-hadis fi’li.

Artinya apa? Untuk urusan shalat saja, para sahabat tidak mengakses langsung informasi dalam al-Qur’an, tapi dengan langsung melihat Nabi shalat. Visualisasi, melihat dan menyontoh, adalah unsur terpenting dalam proses beragama dibandingkan membaca langsung ayat al-Qur’an atau hadis Nabi.

Inilah mengapa, orang yang tidak memiliki modal pengetahuan yang mumpuni, harus bertaqlid dan ikut kepada orang yang tahu, punya modal pengetahuan dan bisa mengakses makna kandungan al-Qur’an. Dalam konteks yang lebih luas, maka Madzhab menjadi penting dalam proses bertaqlid kaum Muslim.

Kita melihat dan meniru shalat kiai kita; kiai kita belajar dan meniru shalat kiainya; guru kiai kita juga belajar, melihat dan meniru shalat gurunya…. Begitu terus ke atas; tabi’ut tabi’in meniru dan melihat shalatnya tabi’in, tabi’in melihat dan meniru cara shalatnya sahabat, sahabat melihat dan meniru shalatnya Nabi Muhammad SAW… Nabi Muhammad SAW melihat langsung dan meniru shalat yang dipraktekkan Malaikat Jibril, yang langsung diajarkan oleh Allah SWT. Beginilah kerja taqlid dalam beragama, jadi kita tidak sembarangan menafsirkan ayat al-Qur’an atau membuat aturan syariat baru sembarangan.

Dengan begitu, kita gak usah susah-susah baca al-Qur’an, lihat tafsirnya dan maknanya, langsung aja taqlid kepada ulama dan Kiai! Selesai! Dijamin aman dan benar.