Beranda Keislaman Hikmah Mengapa Manusia Modern Merasa Perlu Mendapat Penjelasan Tentang Hikmah Ibadah

Mengapa Manusia Modern Merasa Perlu Mendapat Penjelasan Tentang Hikmah Ibadah

Harakah.id Mengetahui hikmah ibadah dapat menjadi obat bagi hati yang sakit, solusi bagi nafsu yang bebal, dan pengendali akal agar tunduk kepada syariat.

Cara berfikir manusia senantiasa mengalami perkembangan. Perkembangan pola pikir ini didorong oleh perkembangan ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan senantiasa mengalami perkembangan, maka begitu pula dengan pola berfikir.

Fenomena perkembangan pengetahuan sendiri, sudah disadari sejak lama oleh para ulama. Dalam kitab Adab Al-Dunya Wa Al-Din, Imam Al-Mawardi menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas. Setiap ilmu memiliki kemuliaan, keutamaan, dan keistimewaannya sendiri–sendiri.

Menguasai seluruh pengetahuan sangat mustahil dilakukan. Inilah makna dari sabda nabi, bahwa ilmu tidak memiliki batas. Barang siapa yang mengira bahwa ilmu memiliki batas maka ia telah membatasi dan mengurangi haknya. Ia telah menempatkan ilmu tidak pada tempat yang telah disifatkan oleh Allah, “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” ( QS Al-Isra: 85).

Panjangnya, ilmu Allah tidak terbatas. Dan yang dianugerahkan kepada manusia hanyalah sedikit. Selama ilmu Allah belum habis dan kiamat belum tiba, ilmu pengetahuan akan terus mengisi akal manusia. Artinya di sanalah perkembangan pengetahuan itu berada.

Perkembangan pengetahuan dan cara berfikir dalam diri manusia juga diakui oleh tokoh kenamaan, Auguste Comte (1798-18570). Mengutip Quraish Shihab dalam buku Mukjizat Al-Quran Ditinjau dari Segi Bahasa, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib, Comte menjelaskan bahwa pikiran umat manusia dalam perkembangannya mengalami tiga fase. Perkembangan pertama disebut fase keagamaan. Di mana –mungkin karena keterbatasan pengetahuan manusia– ia mengembalikan penafsiran semua gejala yang terjadi kepada Tuhan atau dewa yang diciptakan oleh benaknya. Semisal fenomena gempa bumi yang menewaskan banyak korban diidentifikasi sebagai bentuk kemurkaan para dewa atau Tuhan.

Fase kedua, perkembangan yang bercirikan kecenderungan metafisik. Dalam fase ini, manusia menafsirkan gejala atau fenomena yang ada di hadapannya dengan mengembalikan kepada prinsip-prinsip yang merupakan materi dasarnya. Manusia ada awalnya, demikian juga pohon, binatang dan lain sebagainya. Setiap gejala tidak terlepas dari pengaruh sumber awal.

Fase ketiga adalah fase ilmiah, di mana manusia menafsirkan fenomena yang ada berdasarkan pengamatan yang teliti, dan berbagai eksperimen hingga diperoleh hukum alam pasti yang mengatur fenomena tersebut.

Kita tidak akan masuk dalam perincian, benar-tidaknya teori ini, serta kritik-kritik yang disampaikan kepada teori ini. Kita juga tidak harus percaya dengan teori ini. Namun yang perlu dicatat, tokoh ini juga mengakui adanya dinamisasi ilmu dan cara berfikir. Dan sekarang hipotesis ini telah menjadi pandangan umum di kalangan ilmuan. Bahkan dalam pandangan mayoritas masyarakat yang hidup di alam modern, dan kontemporer sekarang ini.

Kembali kepada perkembangan ilmu dan pola pemikiran. Pada saat ini, bersamaan dengan kemajuan dalam berbagai bidang, dalam memahami ajaran Allah, muncul kecenderungan untuk menguak apa rahasia di balik perintah-Nya. Cara pandang seorang dokter dipakai untuk menguak rahasia salat tahajud, cara pandang sosiolog dipakai untuk menganalisa mengapa Allah memancarkan Islam dari tanah Arab, metodologi ahli biologi-fisiologi dipakai untuk menyingkap rahasia mengapa najis anjing perlu dihilangkan dengan memakai debu, dan lain sebagainya.

Integrasi ilmu pengetahuan dan agama dalam diskursus pemikiran manusia ini merupakan hasil dari konstruksi nilai-nilai keimanan, penghormatan terhadap syariat, kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi serta sikap kritis dalam cara berfikir.

Pertanyaan yang dahulu tak terjawab, dan cukup dijawab dengan konsep ta’abbudi, sekarang dapat dijawab dengan menjelaskan hikmah-hikmah di balik ajaran syariat. Manfaat lain integrasi ilmu pengetahuan dan agama ini juga dapat meningkatkan keimanan, rasa kekaguman kepada syariat, menambah gairah untuk beribadah, dan husnuzan kepada Allah. Mengetahui hikmah ibadah dapat menjadi obat bagi hati yang sakit, solusi bagi nafsu yang bebal, dan pengendali akal agar tunduk kepada syariat.

Karena alasan inilah, studi tentang hikmah menjadi sangat urgen di era kontemporer. Berbagai macam bentuk ‘pemberontakan’ terhadap syariat, yang muncul dari kegelisahan intelektual sebagian pihak, perlu kembali disikapi secara arif dan bijaksana. Tentu saja di antara cara yang dapat kita pakai adalah dengan menggunakan hikmah. Allah berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-Nahl: 125).

Di sinilah penting mengetahui hakikat hikmah, asal-usul, dasar teologis, kaitannya dengan hukum syariat, dan metodologi mendapatkan hikmah.

Diambil dengan sedikit perubahan dari buku Kearifan Syariat: Menguak Rasionalitas Syariat dalam Perspektif Filosofis, Medis dan Sosio-Historis. Buah pena Forum KALIMASADA, Ponpes Lirboyo, 2009.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...