Beranda Keislaman Hikmah Mengapa Muharram Ditetapkan sebagai Bulan Haram?

Mengapa Muharram Ditetapkan sebagai Bulan Haram?

Harakah.id – Mengapa asyhurul hurum atau bulan-bulan haram hanya berjumlah empat? Mengapa Bulan Dzulhijjah, Dzulqa’dah, Rajab dan Muharram saja yang ditetapkan sebagai bulan Haram atau syahrul haram?

Seluruh ketentuan doktrinal dalam Islam secara sederhana bisa dipetakan pada dua karakter utama. Pertama, ketentuan dengan argumentasi logis yang bisa dipahami serta dikondisikan, Kedua, ketentuan yang secara preogratif hanya urusan Allah Swt.

Dua-duanya, meskipun sama-sama bersumber dari Allah Swt. sebagai syari’, namun memiliki bentuk penyikapan yang berbeda. Ketentuan pertama biasanya berkenaan dengan hukum syari’at secara umum. Seorang Muslim bisa saja menyikapi sebuah teks hukum dengan melihat berbagai unsur yang terkandung di dalamnya lalu melahirkan perbedaan dalam hal pengamalan.

Sebuah teks atau ketentuan yang memungkinkan seorang Muslim menimbang-nimbang kesimpulan makna dan menarik-ulur muatan hukumnya sesuai dengan konteks ayat tersebut sekaligus konteks kenyataan yang ada.

Berbeda dengan ketentuan sebelumnya, jenis ketentuan kedua hanya menuntut ketertundukan dan sikap “iya” tanpa perlu lagi bertanya. Pada ranah ini seoang Muslim hanya dapat memaksimalkan usaha dalam hal menyisir dan menggali “hikmah” di balik ketentuan tersebut.

Berkaitan dengan itu, Asyhuru-l-Hurum bisa dikategorikan ke dalam ketentuan jenis kedua. Ketetapan “keharaman bulan” menjadi hak yang secara penuh diatur oleh Allah Swt. Ketentuan ini mirip, misalnya, dengan ketentuan terkait penetapan bulan-bulan pelaksanaan ibadah haji. Sebagaimana firman Allah swt.;

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ (197

Kita tidak bisa mempertanyakan misalnya mengapa umat Islam harus berhaji di bulan-bulan tersebut? Atau berpikiran akan mengubah bulan-bulan pelaksaan ibadah haji di bulan-bulan lainnya di luar ketetuan tersebut. Tidak bisa. Apa yang bisa kita upayakan adalah menggali kemungkinan-kemungkinan “hikmah” dari ketetapan yang Allah maktubkan dalam Al-Qur’an tersebut.

Asyhuru-l-Hurum, sebagaimana asyhuru-l-ma’lumat dalam haji, merupakan ketetapan yang Allah buat dan sudah berlangsung serta diyakini bukan hanya oleh umat Islam saja. Kesakralan empat bulan asyhuru-l-hurum adalah ketentuan murni yang rahasia kesakralannya hanya bisa kita sandarkan pada ‘Ilm-nya Allah swt.

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.” [QS. At-Taubah: 36]

Ketentuan 12 bulan dalam setahun sudah termaktub dalam al-Qur’an jauh sebelum manusia mengenal kalender dan penanggalan. Di antara 12 bulan dalam setahun, Allah swt. memuliakan beberapa bulan, yang oleh ayat Surat al-Taubah di atas disebut sebagai arba’atun hurum.

Seluruh mufassir sepakat, seperti Ibn Katsir, al-Thabari dan al-Maraghi, bahwa yang dimaksud dengan arba’atun hurum adalah bulan Muharram, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Rajab. Keempat bulan ini juga dikenal dengan nama asyhuru-l-hurum.

Penafsiran ini didasarkan pada hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ ابْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Sesungguhnya waktu telah bergerak sebagaimana adanya sejak Allah swt. menciptakan langit dan bumi. Setahun terdiri dari 12 bulan, 4 di antaranya adalah bulan-bulan yang dimuliakan; Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, al-Muharram dan Rajab yang terletak di antara bulan Jumada dan Sya’ban.

Baca Juga: Jejak Khilafah di Nusantara, Begini Pendapat Para Pakar Sejarah Soal Hubungan Jawa dan Turki Ottoman

Itulah dalil penjelasan kenapa Muharram dimasukan dalam bulan-bulan haram atau asyhurul hurum. Kalau pun mau menerka-nerka dan mencari kemungkinan logisnya, kembali kepada premis awal yang kami sampaikan di pembukaan tulisan ini, sakralitas bulan-bulan haram terkait erat dengan peran “waktu” dalam kehidupan manusia.

Suatu peran yang bersifat ketuhanan, yang meskipun tidak tampak secara praksis namun menentukan gerak kehidupan alam semesta. Peran “waktu” yang begitu substansial mendapatkan legitimasi sakralitasnya ketika hanya Allah Swt.-lah yang mempunyai hak untuk mengaturnya (termasuk di dalamnya menentukan asyhuru-l-hurum). Ini indikasi pertama.

Indikasi kedua adalah imajinasi sosial yang turut membentuk sikap penghormatan terhadap bulan-bulan tersebut, yang dilakukan secara masif oleh umat manusia dan melampaui sekat atau batas doktrin agama. Sebagaimana hadis yang bercerita tentang tradisi ‘atirah yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah sebelum masuknya Islam. Yaitu sebuah tradisi penyembelihan hewan yang ditujukan sebagai persembahan di bulan Rajab. Sebagaimana riwayat Imam al-Bukhari:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ الزُّهْرِيُّ حَدَّثَنَا عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا فَرَعَ وَلَا عَتِيرَةَ قَالَ وَالْفَرَعُ أَوَّلُ نِتَاجٍ كَانَ يُنْتَجُ لَهُمْ كَانُوا يَذْبَحُونَهُ لِطَوَاغِيَتِهِمْ وَالْعَتِيرَةُ فِي رَجَبٍ

Imajinasi sosial semacam ini juga bisa kita saksikan dalam tradisi-tradisi umat Islam di Indonesia ketika tiba bulan-bulan asyhuru-l-hurum. Seperti kebiasaan masyarakat Jawa membuat kue dengan berbagai macam bentuk dan warna untuk merayakan kedatangan bulan Rajab, juga tradisi ziarah makam yang makin massif dilakukan di bulan-bulan ini.

Baca Juga: Ijazah Doa Malam 1 Suro Dari Gus Baha’, Dapat Ampunan Tanpa Istighfar

Semua itu merupakan tanda bahwa sifat keharaman bulan-bulan tertentu atau waktu-waktu tertentu seperti asyhuru-l-hurum telah terpatri dalam benak umat manusia tanpa perlu ada kesepakatan yang mereka buat terkait hal itu sebelumnya. Spontanitas penyikapan semacam ini terjadi karena ketentuan tersebut bersifat transenden, datang serta dikendalikan langsung oleh Allah Swt.

Baca Juga: Hukum Merayakan Tahun Baru dalam Hadis Nabi, Ini Pendapat Mereka yang Memperbolehkan

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...