Beranda Khazanah Mengapa Masjid Dinamakan Masjid? Begini Penjelasannya Dalam Aspek Morfologi dan Ilmu Bahasa

Mengapa Masjid Dinamakan Masjid? Begini Penjelasannya Dalam Aspek Morfologi dan Ilmu Bahasa

Harakah.idIstilah masjid digunakan untuk menunjukkan satu tempat yang dikhususkan untuk melakukan ibadah dan ritual lainnya. Selain masjid, kita juga mendengar istilah musalla, langgar, surau maupun istilah dan nama lainnya.

Di dalam budaya berbahasa, kita semua tentunya sudah mengenal dengan istilah kata serapan. Kata serapan merupakan mengadopsi sebuah kata dari bahasa asing atau bahasa tertentu, yang kemudian dilegalkan bahwa kata tersebut sudah menjadi bahasa Indonesia resmi. Biasanya hal ini dibuktikan dengan masuknya kata tadi ke dalam KBBI. Termasuk kata atau istilah masjid.

Ya, salah satu contoh dari kata serapan tadi adalah kata masjid. Yaitu sebuah istilah kata yang akan kita bahas dalam tulisan kali ini. Sebagaimana yang sudah maklum, bahwasanya masjid merupakan tempat ibadah bagi umat islam. Tempat dimana dilaksanakannya salat berjamaah lima waktu, bukan hanya itu bahkan kerap kali dijadikan sebagai tempat untuk pengajian dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya.

Istilah masjid ini adalah bentuk serapan dari bahasa asal yaitu bahasa Arab. Di dalam bahasa Arab, kata masjid ini sudah dikenal sejak zaman Rasul dulu. Bagi orang Arab, pemahaman mereka terhadap masjid ini tidak jauh beda dengan kita. Yaitu sebuah tempat atau bangunan untuk beribadah bagi umat muslim.

Kata atau istilah masjid ini berasal dari kata sajada (سجد), yang artinya adalah sujud. Jika ditinjau dari segi morfologi, atau mungkin orang pesantren lebih akrab menyebutnya dengan istilah sharaf. Kata masjid ini bisa disebut sebagai berbentuk isim makan, yaitu sebuah kata yang menunjukan nama tempat. 

Untuk mengetahui proses isytiqoq atau perubahan kata sajada menjadi kata masjid yang berbentuk ism makan, kita harus melihat tasrif istilahinya. Bagi yang belum mengetahui atau mungkin lupa apa itu tasrif istilahi, di bawah ini adalah pengertian tasyrif istilahi secara singkat;

تغيير أصل واحد إلى صيغ متنوعة للحصول على معان مختلفة، مثل تغيير كلمة نصر إلى كلمات ينصر، ناصِر، مَنْصُور

Perubahan satu kata asal ke bentuk-bentuk yang bermacam-macam untuk memperoleh berbagai macam makna berbeda contohnya kata telah menolong menjadi kata sedang atau akan menolong, penolong, dan yang ditolong.

Kembali ke pembahasan tashrif istilahi dari kata sajada. Jika dikategorikan, kata sajada ini masuk ke dalam bab pertama dari enam bab wazan Fiil Tsulatsi Mujarad, yaitu yang berwazan fa’ala yaf’ulu (فعَل-يفعُل) maka sajada menjadi sajada yasjudu (سجد-يسجُد). Dan pada bab yang pertama ini, seharusnya ism makannya berwazan maf’alun (مفعَلٌ), namun di sini yang kita jumpai kata masjid justru berwazan maf’ilun (مفعِلٌ), bukankah hal ini menyalahi aturannya? Lalu bagaimana penjelasannya?

Memang kata masjid ini apabila sesuai aturan ilmu shorof harusnya dibaca masjad. sebagaimana maktab yang berarti kantor untuk tempat menulis, dan math’am yang berarti restoran untuk tempat makan. Namun, apabila masjid ini disebut dengan kata masjad yang sesuai dengan kaidah shorof, yang ada nanti artinya akan terbatas dan sempit, yaitu hanya diartikan sebagai tempat sujud saja. Padahal di dalam sholat yang dilakukan bukan hanya sujud, melainkan ada juga ruku’, i’tidal, duduk dan rukun-rukun lainnya.

Berangkat dari sinilah akhirnya orang-orang Arab sepakat untuk mengkiaskan dan mengganti masjad ini menjadi masjid, dengan tujuan kata tadi mempunyai maksud arti lain dan lebih luas dari hanya sekedar tempat sujud semata. Akhirnya jadilah kata masjid ini yang berarti bait al-sholah (tempat untuk melaksanakan sholat). 

Lalu kenapa kata yang digunakan untuk mewakilkan sebuah tempat melaksanakan sholat ini adalah kata yang musytaqnya atau asalnya dari sajada yang berarti sujud. Hal ini karena sujud adalah salah satu inti dari bentuk salat itu sendiri, sebab di dalam sujud kita merepresentasikan penghambaan secara penuh kepada Allah sang pencipta dengan meletakan kepala dengan serendah-rendahnya. 

Namun sejatinya, istilah kata masjid ini tidak bisa kita anggap sebagai kalimat qiyasi, karena sebagaimana tadi yang sudah disampaikan di awal bahwasanya asal kata masjid ini tidak sesuai aturan shorof, dan bahkan bisa dibilang menyalahinya. Oleh karena kurang tepat jika menganggap kata masjid sebagai qiyasi, yang tepat kata masjid ini tergolong ke dalam jenis kata simai, yaitu kata yang asal dan kesepakatan aturannya memang dari orang Arab sendiri, tanpa bisa ditimbang dengan wazan-wazan shorof yang sudah ada.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...