Beranda Keislaman Doa Mengapa Para Ulama Membaca Al-Fatihah Setelah Berdoa, Inilah Dalil dan Keutamaannya

Mengapa Para Ulama Membaca Al-Fatihah Setelah Berdoa, Inilah Dalil dan Keutamaannya

Harakah.id Ada hadis yang menjelaskan keutamaan membaca Al-Fatihah saat berdoa. Allah berjanji akan mengabulkan doa setelah seorang hamba membaca Al-Fatihah.

Bila diperhatikan dengan seksama, para ulama di Indonesia sering mengakhiri doa yang mereka baca dengan ajakan membaca Al-Fatihah. Biasanya dengan disertai aba-aba “Al-Faatihah..”. Lalu para jamaah mengikuti dengan membaca Al-Fatihah.

Demikian pula ketika akan memulai berdoa, para imam yang memimpin doa atau para pembawa acara yang bertugas membuka acara, mengajak para jamaah untuk membaca surat Al-Fatihah. Dalam konteks semacam ini, biasanya mereka memberi aba-aba dengan perkataan “Ala hadzihin niyah al-shalihah, Al-Fatihah..” Arti perkataan ini adalah “Untuk niat yang baik ini, mari kita baca surat Al-Fatihah..”

Bila ditelusuri, ternyata ada hadis yang menjelaskan keutamaan membaca Al-Fatihah saat berdoa ini. Kandungan Al-Fatihah sendiri sebenarnya adalah doa. Tetapi dalam sebuah keterangan disebutkan bahwa Allah menjanjikan akan mengabulkan doa setelah seorang hamba membaca Al-Fatihah.

Imam Muslim bin Hajjaj Al-Naisaburi dalam kitab Shahih Muslim meriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا في نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) قَالَ اللهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) قَالَ اللهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) قَالَ الله مَجَّدَنِي عَبْدِي (وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي) وإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ وإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi SAW yang bersabda, “Barang siapa shalat satu shalat yang dia tidak membaca Ummul Qur’an, maka shalatnya khidaj dalam arti tidak sempurna.” Dikatakan kepada Abu Hurairah, “Kami berjamaah di belakang imam. (Apa kami juga harus membacanya?).” Abu Hurairah berkata, “Bacalah untuk dirimu sendiri. Hal ini karena saya pernah mendengar Rasulullah SAW berkata, “Allah berfirman, ‘Saya membagi shalat menjadi dua, antara aku dan hamba-Ku. Untuk hamba-Ku, apapun yang dia minta.

Ketika hambaku berkata ‘Alhamdulillahi rabbil alamin’ Allah ta’ala berkata, ‘Hamba-Ku memuji aku.’ Ketika hamba membaca ‘Arrahmani Arrahimi’, Allah berkata ‘Hamba-Ku memuji-Ku. Ketika hamba membaca ‘Maliki yaumiddin’, Allah berkata ‘Hamba-Ku mengagungkan Aku.’ Dalam kesempatan lain Allah berfirman ‘Hamba-Ku menyerahkan diri kepada-Ku.’

Ketika hamba membaca ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ Allah berkata ‘Ini khusus untuk-Ku dan hamba-Ku. Untuk hamba-Ku, apapun yang dia minta. Ketika hamba membaca ‘Ihdinas shirathal mustaqim, shirathal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhallin’ Allah berfirman, ‘Ini untuk hamba-Ku. Untuk hamba-Ku apapun yang dia minta.’” (HR Muslim).

Secara ringkas dapat dipahami bahwa Al-Fatihah hakikatnya adalah komunikasi (munajat) antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dalam munajat ini, terjalin hubungan yang sangat dekat antara hamba dengan Allah.

Melalui bacaan Al-Fatihah, seorang hamba memuji, mengagungkan, berserah diri, dan memohon kepada Allah. Setidaknya, seorang hamba memohon diberi petunjuk kepada jalan yang benar dalam hidupnya. Ternyata, bila didalami lebih jauh, dalam munajat ini Allah berjanji akan mengabulkan permohonan sang hamba.

Allah berulang kali mengatakan ‘Wa li abdi ma sa’ala’, untuk hambaku apapun yang dia minta. Dalam janji ini, Allah menggunakan kata ‘Ma’ yang berarti (apapun). Tentunya hal ini terkait dengan hajat dan kebutuhan hidup manusia.

Sekalipun Allah berjanji mengabulkan semua permohonan orang yang berdoa setelah membaca Al-Fatihah, tetapi yang baik adalah hanya memohon kepada Allah perkara-perkara yang baik sesuai syariat. Karena itu, seringkali para pembaca acara atau pemimpin majelis perlu menegaskan dengan mengatakan ‘ala hadzihin niyah al-shalihah (untuk niat yang baik). Hal ini agar hanya doa yang baik yang dikabulkan oleh Allah.

Demikian penjelasan singkat tentang keutamaan membaca Al-Fatihah ketika berdoa. Al-Fatihah adalah bentuk komunikasi yang sangat intim antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dalam hal ini, Allah berjanji akan mengabulkan doa orang yang membaca Al-Fatihah.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...