Mengapa Perempuan Perlu Iddah Setelah Bercerai? Penjelasan Prof. Huzaemah Tahido Yanggo

0
1085

Harakah.idPakar ilmu fikih perbandingan mazhab, Prof. Huzaemah Tahido Yanggo menyebut ada lima hikmah yang terkandung dalam syariat idah.

Satu dari sekian banyak perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah dalam masalah idah. Idah, menurut Wahbah az-Zuhaili, adalah masa tunggu yang telah ditetapkan Allah bagi seorang perempuan yang telah bercerai untuk tidak menikah lagi sampai masa idahnya selesai. (Wahbah bin Musthafa Al-Zuhaili, Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, vol. 9, hal. 7166.). Durasinya pun berbeda, tergantung jenis perpisahan/perceraian yang terjadi.

Pakar ilmu fikih perbandingan mazhab, Prof. Huzaemah Tahido Yanggo menyebut ada lima hikmah yang terkandung dalam syariat idah tersebut, sebagaimana ditulisnya dalam buku Fiqih Anak (Huzaemah Tahido Yanggo, Fiqih Anak (Jakarta Selatan: AMP Press, 2016), hal. 352-353).

Pertama, mengetahui ada tidaknya janin

Perempuan yang berpisah dengan suaminya, baik karena ditinggal mati atau cerai, memiliki kemungkinan untuk hamil. Bisa jadi, sebelum perpisahan itu, mereka sempat melakukan hubungan suami istri, sehingga dimungkinkan ada janin dalam rahim si perempuan.

Nah, dengan adanya idah, maka akan diketahui secara pasti apakah si perempuan itu mengandung atau tidak. Bila mengandung, maka akan jelas siapa ayah dari janin itu, yakni mantan suami si perempuan.

Bisa dibayangkan bila tidak ada idah.

Misalnya, si perempuan ternyata mengandung dan tidak ia tidak sadar. Di saat yang ia langsung dinikahi lelaki lain. Hubungan badan antara keduanya menghasilkan janin. Walhasil, si perempuan akan menduga  bahwa ayah dari janinnya adalah suami kedua.

Kedua, murni sebagai ibadah

Menjalani massa idah adalah suatu kewajiban bagi setiap perempuan yang baru berpisah dengan suaminya. Andai saja sama sekali tidak ada hikmah dari syariat idah yang bisa dinalar secara logis, maka cukuplah ibadah dijadikan alasan.

Memang, harus diakui, tidak semua ibadah mengandung makna atau hikmah. Bisa jadi, karena manusia belum mampu menemukannya,. Dan bisa jadi pula memang tak ada hikmah  dalam syariat itu. Untuk yang terakhir ini, biasa disebut ta’abudi (murni ibadah).

Dalam bilangan rakaat salat, misalnya. Salat subuh yang memiliki rakaat paling sedikit dibanding salat-salat lainnya dua rakaat adalah given dariNya yang tidak atau belum diketahui hikmahnya. Oleh karenanya, kita tinggal mengerjakannya saja. Tidak dibenarkan menambahinya dengan alasan apapun (olahraga, misalnya).

Ketiga, berkabung dan mengingat jasa suami

Hikmah ketiga hanya berlaku bagi perempuan yang mengalami cerai mati. Maksudnya, suaminya meninggal dunia. Dengan adanya masa idah, seorang istri diberi waktu untuk berkabung dan bersedih.

Juga, masa idah berfungsi sebagai sarana mengenang kebaikan yang telah dikerjakan sang suami. Oleh karenanya, tidak dibenarkan seorang perempuan langsung menikah setelah suaminya meninggal.

Keempat, waktu berpikir untuk rujuk

Poin ini berlaku bagi sebuah perceraian biasa. Adanya masa idah membuat dua belah pihak, suami dan istri, bebas berpikir lebih dalam apakah ingin rujuk atau tidak. Hal ini karena bisa jadi, perceraian yang dilakukan itu atas dasar emosi sesaat yang di kemudian hari menimbulkan penyesalan.

Dalam durasi waktu tiga quru’ (“suci”, ada pula yang mengatakan “haid”) itu, mereka berdua diberi waktu untuk meninjau ulang keputusan cerai yang mereka lakukan itu. Bila masa idah selesai, maka mantan istri bebas menentukan menerima lamaran dari lelaki lain.

Kelima, bukti kemuliaan pernikahan

Masa idah membuat perempuan yang telah bercerai tidak bisa langsung menikah lagi, baik dengan mantan suaminya atau lelaki lain. Hal ini menunjukkan betapa mulianya sebuah pernikahan.

Betapa tidak, misalnya, tidak ada masa idah, maka pernikahan tak ubahnya sebuah akad tanpa makna dan terkesan sebagai permainan belaka. Pasalnya, orang bisa menikah dan bercerai kapan saja ia mau. Na’udzubillah.

Demikian lima hikmah masa idah yang disyariatkan Islam menurut Prof. Huzaemah yang meninggal Jum’at, 23 Juli 2021, pukul 06.10 di RSUD Banten. Jasadnya memang telah telah terkubur di bumi. Namun ilmu dan pemikirannya akan selalu ada mencerahkan umat. Insyaallah.