Beranda Khazanah Mengapa Ulama Syafi’iyah Sering Menyebutkan Pendapat Lemah dalam Kitab-Kitabnya?

Mengapa Ulama Syafi’iyah Sering Menyebutkan Pendapat Lemah dalam Kitab-Kitabnya?

Harakah.id Para ulama Syafi’iyyah selain menyebutkan pendapat muktamad (resmi) mazhab di dalam suatu permasalahan, sering kali juga menyebutkan pendapat yang ghairu mu’tamad (tidak mu’tamad). Mengapa ulama Syafi’iyyah sering menyebutkan pendapat lemah dalam kitab-kitabnya?

Para ulama Syafi’iyyah selain menyebutkan pendapat muktamad (resmi) mazhab di dalam suatu permasalahan, sering kali juga menyebutkan pendapat yang ghairu mu’tamad (tidak mu’tamad).

Tidak hanya di kitab yang muwassa’ (luas pembahasannya), bahkan di kitab-kitab yang tergolong masih sederhana pun juga bisa kita dapatkan, seperti Fathul Qarib, Kifayatul Akhyar, Fathul Mu’in, dan yang lainnya. Menurut pengamatan kami, hal ini sengaja dilakukan salah satu tujuannya untuk menjadi sebuah solusi (jalan keluar) saat situasi dan kondisi menuntut kepada hal itu. Semisal sulitnya pendapat yang muktamad untuk diamalkan dikarenakan sebab-sebab tertentu.

Asalnya, pendapat muktamad adalah yang diamalkan. Dan ini yang paling afdal. Namun mengamalkan pendapat yang tidak muktamad juga diperbolehkan di selain qadha (menetapkan keputusan) dan ifta’ (berfatwa), terlebih ada alasan-alasan tertentu yang melatarbelakanginya.

Salah satu contohnya, tentang masalah melihat wanita ajnabiyyah (asing). Pendapat muktamad dalam mazhab Syafi’i, seorang laki-laki dilarang untuk melihat wanita ajnabiyyah secara mutlak, meliputi seluruh tubuhnya termasuk wajah dan dua telapak tangan. Dalam pendapat yang lain, dibolehkan melihat wajah dan telapak tangan. Pendapat kedua ini bukan pendapat muktamad, namun diperbolehkan untuk diamalkan, terkhusus saat ada alasan tertentu yang mendasarinya.

Seperti apa yang dinyatakan oleh Syekh Al-Bajuri (w. 1276 H) rahimahullah :

وَ الْمُعْتَمَدُ الأَوَّلُ وَلاَ بَأْسَ بِالتَّقْلِيْدِ الثَّانِيْ لاَ سِيَّمَا فِيْ هَذاَ الزَّمَانِ الَّذِيْ كَثُرَ فِيْهِ خُرُوْجُ النِّسَاءِ فِيْ الطُّرُقِ وَ الأَسْوَاقِ

“Dan pendapat yang muktamad adalah pendapat yang pertama (yang mengharamkan semuanya, termasuk muka dan kedua telapak tangan). Akan tetapi tidak mengapa (boleh) untuk taqlid (ikut) kepada pendapat yang kedua (yang membolehkan melihat muka dan telapak tangan), terlebih di zaman ini yang begitu banyak para wanita keluar rumah di jalan-jalan dan pasar-pasar.” (Hasyiyah Al-Bajuri :3/333)

Contoh lain tentang masalah menqadha’kan (membayarkan) salat orang yang telah meninggal dunia. Jika ada seorang yang meninggal dalam kondisi memiliki hutang salat fardhu yang belum ditunaikan, maka menurut pendapat muktamad dalam mazhab Syafi’i tidak bisa diqaha’ (dibayarkan) atau ditebus oleh ahli warisnya atau kerabatnya. Namun ada pendapat lain dalam mazhab Syafi’i yang memperbolehkan untuk diqadha atau ditebus secara mutlak, baik mayit mewasiatkan sebelumnya atau tidak. Dan imam As-Subki Asy-Syafi’i pernah mengamalkan pendapat kedua ini terhadap sebagian kerabatnya.

Syekh Allamah Zainud Ad-Din Al-Malibari Asy-Syafi’i (w. 987 H) menyatakan :

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَلاَةُ فَرْضٍ لَمْ تُقْضَ وَلَمْ تُفْدَ عَنْهُ.وَفِيْ قَوْلٍ أَنَّهَا تُفْعَلُ عَنْهُ أَوْصَى بِهَا أَمْ لاَ حَكَاهُ العَبَّادِيْ عَنِ الشَّافِعِيِّ لِخَبَرٍ فِيْهِ وَفَعَلَ بِهِ السُّبْكِيْ عَنْ بَعْضِ أَقَارِبِهِ

“Barang siapa yang meninggal dalam kondisi memiliki hutang salat fardhu, tidak bisa diqadha (dibayar) dan ditebus (oleh yang masih hidup). Dalam pendapat lain dinyatakan : sesungguhnya hal itu boleh dilakukan untuknya, baik dia (mayit) mewasiatkan ataupun tidak. Imam Al-‘Abbadi menghikayatkan hal ini dari imam Asy-Syafi’i berdasarkan sebuah khabar (hadis) di dalam masalah ini. Dan Imam As-Subki mengamalkan hal ini untuk sebagian kerabatnya.” (Fathul Mu’in, hlm. 3)

Yang dimaksud dengan “diqadha” di sini, adalah dibayar dengan cara menunaikan salat sesuai jumlah yang ditinggalkan. Adapun “ditebus”, artinya dengan mengeluarkan satu mud makanan untuk satu salat yang ditinggalkan kepada fakir miskin. Disebutkan oleh syekh Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi Asy-Syafi’i (w. 1302 H), bahwa pendapat yang membolehkan untuk diqadha atau ditebus, merupakan pendapat sekelompok ulama mujtahidin dan dipilih oleh sekelompok ulama Syafi’iyyah. Simak I’anah Ath-Thalibin, hlm. (33).

Dengan demikian, di suatu sisi, bila ada seorang yang mengamalkan pendapat yang tidak muktamad, ya biarkan saja. Toh dia sebagai seorang muqallid, telah bersandar kepada ahlinya, yaitu para ulama. Di sisi lain, harus kita akui, terkadang ada suatu kondisi dimana pendapat muktamad amat sulit untuk diamalkan. Akhirnya, pendapat yang tidak muktamad lah yang menjadi solusinya. Dan ini sah-sah saja dan tidak boleh dituduh inkonsisten.(simak Hasyiyah Fathul Mu’in – bukan I’anah -, hlm. 3)

Pelajaran yang lain, hendaknya kita jangan tergesa-gesa berpindah dari mazhab syafi’i ke mazhab yang lain untuk mendapatkan hukum dalam suatu permasalahan. Karena bisa jadi (dan ini sering terjadi) pendapat yang kita maksud sudah ada di dalam mazhab Syafi’i, walaupun bukan pendapat muktamad. Hanya kadang kurang terekspos karena kurangnya muthalaah (penelitian) yang kita lakukan.

Demikian ulasan mengenai mengapa Ulama Syafi’iyah Sering Menyebutkan Pendapat Lemah. Semoga kajian “Ulama Syafi’iyah Sering Menyebutkan Pendapat Lemah” ini bermanfaat. Wallahu a’lam. (Abdullah Al-Jirani).

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...