Beranda Keislaman Akhlak Mengejar Harta Hingga Melalaikan Allah SWT, Inilah Dampaknya

Mengejar Harta Hingga Melalaikan Allah SWT, Inilah Dampaknya

Harakah.idOrang-orang yang sibuk berlomba dan mengejar rezeki berupa harta bisa sampai pada kondisi lalai akan Allah SWT. Jika kita melalaikan Allah SWT, konsekuensinya Allah SWT akan membuat kita tidak melakukan perbuatan ketaatan dan perbuatan baik.

Allah SWT telah mengingatkan kita tentang adanya orang-orang yang berlomba-lomba dalam menghimpun harta kekayaan. Di dalam surat At-Takatsur (102) ayat 1 dan 2, Allah SWT berfirman yang artinya, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur”.

Dalam penafsirannya atas ayat-ayat ini, Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhali mengatakan, “Kalian disibukkan dengan harta, keturunan dan kawan. Sibuk dengan memperbanyak dan mencari hal itu akan memalingkan kalian dari beribadah kepada Allah SWT dan beramal untuk akhirat.”.

Sebagai orang yang beriman, peringatan Allah SWT ini patut kita cermati agar terhindar kelalaian itu.

Dua Macam Kelalaian 

Orang-orang yang sibuk berlomba dan mengejar rezeki berupa harta bisa sampai pada kondisi lalai akan Allah SWT. Jika kita melalaikan Allah SWT, konsekuensinya Allah SWT akan membuat kita tidak melakukan perbuatan ketaatan dan perbuatan baik.

Allah SWT berfirman di dalam surat Al-Hasyr (59) ayat 19 yang artinya “dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”.

Kelalaian ini setidaknya nampak dalam dua bentuk:

(1) Lalai dari dzikir kepada-Nya. 

(2) Lalai dari aturan Allah SWT.

Melalaikan Dzikir Kepada Allah SWT

Dzikir kepada Allah SWT (dzikrullah) biasanya dikaitkan dengan bacaan-bacaan yang menandakan bahwa kita selalu ingat kepada Allah SWT. Bacaan-bacaan itu ada yang ringan dan mudah diucapkan semisal bacaah tahmid, tasbih, tahlil dan takbir. Ada juga yang lebih kompleks seperti membaca Al Qur’an dan mendirikan Shalat.

Melalaikan dzikrullah ini nampak pada orang-orang yang sibuk mengejar harta dunia. Ada diantara mereka yang terlalu sibuk dengan perniagaan atau usahanya hingga lalai untuk berzikir. Diantara mereka bahkan ada yang sampai meninggalkan dzikir dalam bentuk membaca Al-Qur’an dan mendirikan shalat.

Bagi sebagian orang, melalaikan dzikir kepada Allah SWT, seolah merupakan perkara ringan belaka. Namun sesungguhnya tidak ada yang ringan dari kelalaian ini.  

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir kepada-Nya ialah seperti orang hidup dan orang mati.” (HR Al-Bukhari dan Imam Muslim).

Perumpamaan ini menunjukkan betapa berbahayanya melalaikan zikir kepada Allah SWT dalam bentuk bacaan-bacaan yang ringan dan mudah. Kelalaian dari dzikir ini membuat seorang manusia yang hidup, jatuh nilainya hingga tak lebih dari sesosok mayat berjalan.

Kelalaian dari dzikir dalam bentuk shalat, khususnya shalat wajib lima waktu, juga memiliki konsekuensi yang tidak kalah menakutkan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Perjanjian yang ada antara kami dengan mereka adalah shalat. Maka barangsiapa meninggalkannya, dia telah kafir.” (HR At-Tirmidzi).

Konsekuensi dari kekafiran adalah azab Allah SWT di dunia dan di akhirat. Hal ini disebutkan dalam surat Ali Imran (3) ayat 56 yang artinya ”Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong.

Melalaikan Aturan SWT

Bentuk kelalaian yang kedua adalah melalaikan aturan Allah SWT. Khusus dalam hal harta kekayaan, ada dua macam kelalaian, yaitu melalaikan aturan Allah SWT dalam cara mencari harta dan melalaikan aturan Allah SWT dalam cara membelanjakannya.  

Allah SWT telah memberikan aturan yang tegas dan jelas tentang cara-cara yang diridhoiNya dalam mencari rezeki berupa harta. Namun ada saja orang yang sengaja melanggar aturan-aturan tersebut. Sebagai ilustrasi, ada orang-orang yang sengaja melalaikan larangan Allah SWT untuk memungut riba. 

Hal ini telah disampaikan Allah SWT dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 275 yang artinya “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. 

Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Orang-orang yang mengumpulkan harta dengan cara riba berdalih bahwa riba sama dengan perdagangan. Oleh karenanya ketika ada larangan memungut riba, mereka berdalih bahwa yang mereka lakukan adalah berdagang. Ini adalah bukti betapa mereka telah melalaikan aturan Allah SWT.

Selain di dalam cara mencari penghasilan, aturan Allah SWT juga ada pada bagian membelanjakan harta. Tidak semua harta bisa kita gunakan untuk kebutuhan atau kepentingan kita. Harus ada bagian yang dikeluarkan bagi orang lain yang berhak.

Allah SWT berfirman di dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 215 yang artinya “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya” 

Aturan pembelanjaan harta ini sudah ditetapkan Allah SWT, sehingga tidak sepatutnya kita mengabaikan dan melalaikannya.

Introspeksi

Setelah kita mengetahui beberapa macam kelalaian di atas, hendaknya membuat kita sampai kepada pemahaman bahwa mengejar harta tidak sepatutnya menjadi alasan untuk melalaikan Allah SWT.

Pemahaman ini adalah bahan untuk introspeksi agar kita bisa memperbaiki diri ke arah yang lebih baik.

REKOMENDASI

Fatima Mernissi dan Sekelumit Problem Keperempuanan dalam Islam

Harakah.id - Fatima Mernissi adalah salah satu perempuan yang seringkali diacu dan dirujuk kala berbicara tentang peran perempuan dalam Islam. Dia...

Di Balik Keharamannya, Ini Sepuluh Efek Buruk Minum Khamr yang Mungkin Tidak Kamu Ketahui!

Harakah.id - Minum khamr melahirkan efek mabuk dan ngefly. Bagi sebagian orang, efek ini menjadi kenyamanan tersendiri karena dengan itu mereka...

Download Khutbah Jumat, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at

Harakah.id - Download Khutbah Jumat Juni, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at. Kutbah Pertama إِنّ...

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97: Kehidupan yang Baik dan Imbalan Untuk Orang yang Beriman

Harakah.id - Tafsir Surah an-Nahl ayat 97 menjelaskan perkara soal kehidupan yang baik berikut imbalan untuk orang yang beriman. Berikut penjelasannya...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...