Beranda Keislaman Muamalah Mengembalikan Fungsi dan Orientasi Keluarga Saat Wabah

Mengembalikan Fungsi dan Orientasi Keluarga Saat Wabah

Harakah.idJika ditilik lebih mendalam, wabah penyakit yang telah berlangsung berbulan-bulan lamanya hingga saat ini, sesungguhnya membawa hikmah yang banyak. Salah satu di antaranya adalah kesempatan untuk mengembalikan fungsi dan orientasi keluarga.

Rencana dan rancangan Allah SWT Yang Maha Kuasa sangatlah teliti dan mengandung banyak hikmah. Jika ditilik lebih mendalam, wabah penyakit yang telah berlangsung berbulan-bulan lamanya hingga saat ini, sesungguhnya membawa hikmah yang banyak. Salah satu di antaranya adalah kesempatan untuk mengembalikan fungsi dan orientasi keluarga kita..

Keberadaan Anggota Keluarga

Sebelum masa wabah menyerang, masing-masing anggota keluarga memiliki banyak aktivitas yang seringkali memisahkan dan membuat jarak. Bapak dan juga Ibu yang beraktivitas di luar rumah akan meninggalkan rumah dalam jangka waktu tertentu. Anak-anak yang bersekolah serta memiliki beragam kegiatan lain juga akan meninggalkan rumah pada saat-saat tertentu. Dalam banyak kasus, rumah menjadi sekedar tempat singgah.

Ketika wabah datang, terjadi berbagai pembatasan atas aktivitas di luar rumah. 

Aktivitas pendidikan di ruang-ruang sekolah dihentikan. Pendidikan dilangsungkan dan dilanjutkan di rumah masing-masing melalui jaringan internet. 

Orangtua yang tadinya bekerja di luar rumah mengalami pembatasan juga. Sebagian bekerja dari rumah. Sebagian lagi malah terkena pemutusan hubungan kerja sehingga mau tidak mau harus tinggal di rumah.

Keberadaan para anggota keluarga di rumah ini sesungguhnya menjadi pertanda kembalinya salah satu fungsi rumah. Fungsi rumah untuk bertemu dan berkumpul seluruh anggota keluarga kembali aktual pada masa pandemi ini.

Keberfungsian Anggota Keluarga

Bertemu dan berkumpulnya para anggota di rumah menuntut keberfungsian peran masing-masing secara maksimal. Peran-peran yang selama ini dibawakan, terkoreksi atau tidak dapat dilakukan secara penuh pada saat pandemi. Oleh karenanya peran-peran lain yang selama ini tidak atau kurang dapat dilakukan, sudah seharusnya dapat dimaksimalkan.

Peran Bapak selama ini mungkin hanya berfungsi sebagai “mesin ATM”. Ini memang sudah seharusnya dikoreksi. 

Kebutuhan finansial memang akan terus ada selama kita hidup. Namun tidak semua kebutuhan manusia bisa dibeli dengan uang. Ada peran-peran lain bagi Bapak selain sebagai penyokong utama kebutuhan finansial.

Di antaranya sebagai pengarah dan pembimbing anggota keluarga lainnya dalam menjalani kehidupan ini. Deskripsi pengarah dan pembimbing ini cukup jelas bila kita sertakan tujuannya, sebagaimana disebutkan dalam surat At Tahrim awal ayat 6 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”

Peran Ibu pun mesti dikoreksi kembali. Keberfungsian selama ini mungkin tidak jauh berbeda dengan Asisten Rumah Tangga. Namun masa pandemi ini membuka kesempatan agar peran sebagai “pendidik utama” (Madrasatul Ula) dikembalikan kepada para Ibu.

Keberadaan anak sebelum masa pandemi bisa jadi hanya difungsikan sebagai hiasan atau alat kebanggaan. Hal ini perlu juga dikoreksi. Anak hadir di dalam keluarga untuk dicintai dan dididik. Ini merupakan bagian dari proyek masa depan baik bagi orangtua maupun bagi anak itu sendiri. Anak yang dicintai dengn sepenuh hati dan dididik dengan baik bisa menjadi sumber kebaikan dan penolong orangtua kelak (qurrota a’yun).  

Orientasi Keluarga 

Dengan gambaran ringkas di atas, kita bisa memahami pesan tersembunyi bagi keluarga di masa pandemi ini. Pesan itu adalah bahwa fungsi-fungsi rumah perlu dikembalikan ke kondisi yang seharusnya. Rumah jangan lagi sekedar istilah bagi tempat fisik para anggota keluarga (House). Rumah harus menjadi tempat hati masing-masing anggota keluarga bertemu dan merasakan kehangatan (Home).

Demikian juga orientasi keduniaan yang selama ini terbangun hendaknya dikoreksi dan dikembalikan kepada orientasi yang benar, yaitu orientasi keakhiratan. Dengan demikian keluarga tidak hanya hidup untuk sekedar mengejar harta, kedudukan, nama maupun kemewahan dunia. Orientasi keakhiratan akan menunjukkan bahwa ada banyak amal kebaikan yang harus dihasilkan oleh keluarga.

Sebuah contoh yang sangat indah telah diberikan oleh keluarga terbaik. Suatu saat Fathimah putri Rasulullah SAW mengadu kepada suaminya Ali bin Abi Thalib r.a. tentang kelelahan dan kepayahannya menggiling gandum. Mereka berdua kemudian mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta pembantu.

Beliau SAW bertanya “Maukah kutunjukkan kalian kepada sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta?” Lalu beliau melanjutkan “Jika kalian berbaring di atas tempat tidur, maka ucapkanlah takbir (Allahu akbar) 34 kali, tahmid (alhamdulillah) 33 kali, dan tasbih (subhanallah) 33 kali. Itulah yang lebih baik bagi kalian daripada pembantu yang kalian minta.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hikmah dari contoh tersebut bagi keluarga masa kini di tengah pandemi sangatlah banyak. Diantaranya bahwa kesulitan dan kepayahan dalam menjalani kehidupan adalah bagian tak terelakkan dari hidup itu sendiri. Bahkan putri tercinta Rasulullah SAW sendiri harus menjalaninya.

Contoh tersebut juga menunjukkan betapa kasih sayang orangtua kepada anaknya tidak boleh lepas dari orientasi keakhiratan. Karena sesungguhnya kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

Sebelum Pandemi Berakhir

Masa pandemi memang belum akan berakhir. Kehidupan dengan kenormalan yang baru (New Normal) adalah salah satu indikatornya. Oleh karenanya kita perlu bersegera mengembalikan fungsi dan orientasi keluarga, demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik, di dunia dan diakhirat kelak.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...