Beranda Keislaman Tafsir Mengenal Ashabul Ukhdud, Kaum Beriman Yang Rela Dibakar Hidup-Hidup Demi Iman

Mengenal Ashabul Ukhdud, Kaum Beriman Yang Rela Dibakar Hidup-Hidup Demi Iman

Harakah.id Kisah Ashabul Ukhdud menceritakan peristiwa yang menimpa segolongan kaum beriman yang disiksa sangat sadis oleh penguasa yang kejam. Allah SWT mengabadikan mereka dalam al-Quran. Mari mengenal Ashabul Ukhdud lebih jauh.

Kisah Ashabul Ukhdud merupakan kisah perjuangan orang-orang yang bertauhid memperjuangkan aqidah mereka dengan keteguhan. Bagaimana tidak, demi mempertahankan aqidahnya mereka rela kehilangan harta, jiwa bahkan nyawa. Sebagaimana dalam firman-Nya 

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ

 Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit (QS. Al-Buruj [85] : 4)

Ayat ini di peruntukkan untuk pembuat parit, yaitu Dzu Nuwas dan tentaranya. Ukhdud bentuk jamak dari akhadid yang bermakna galian. Sebab surah ini turun bertujuan untuk menghibur Nabi dan sahabat dari gangguan orang-orang kafir Quraisy. Allah SWT menjelaskan bahwa semua umat terdahulu juga mengalami perlakuan yang tidak baik. Seperti para penduduk Mekkah, Kisah Ashabul Ukhdud di Najran Yaman, Fir’aun dan Tsamud dan sebagainya.

Ibnu Katsir menafsirkan dalam Tafsir Juz ‘Amma min Tafsir al-Qur’an al-azhim: h.126, bahwa Ashabul Ukhdud tidaklah memiliki dosa selalu beriman kepda Allah SWT. Kisah ini berawal dari seorang anak muda (ghulam) yang mempelajari ilmu sihir dan ilmu agama. Lalu ia menghadapi kebatilan dan keimanan. Ia memilih keimanan selalu istiqamah di jalan Allah SWT. Sehingga kaum yang mengikutinya menjadi ramai yang beriman, meyakini apa yang ia sampaikan serta mengamalkannya.

Dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Nasa’i tertulis dalam Tafsir Juz ‘Amma min Tafsir al-Quran al-Azhim: h.134 ,bahwa yang membunuh orang-orang dalam parit adalah Dzu Nuwas yang memiliki nama asli Zar’ah bin Tabban As’ad al-Himyar.

Mendengar bahwa sebagian rakyatnya telah beriman kepada agama Nasrani. Kemudian ia berangkat menuju mereka dengan bala tentara dari Himyari. Tatkala telah tertangkap, Ashabul Ukhdud diberikan pilihan antara masuk agama Yahudi atau dibakar. Akhirnya mereka lebih memilih mati. Lantas kaum kafir menggali jurang dan menyalakan api di dalamnya. Mereka terus bersabar dan tentara itu melemparkan mereka ke dalam api.

Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa jumlah korban saat itu sebanyak 20.000 orang. Ada pula pendapat yang mengatakan korban sebanyak 12.000. Dzu Nuwas adalah raja terkahir dari Himyar yang membunuh orang-orang beriman sebanyak hampir 20.000 jiwa.

Dalam buku Sirah Ibnu Hisyam diceritakan, bahwasanya Ashabul Ukhdud adalah sekelompok kaum beriman pemeluk agama nasrani yang hidup dalam wilayah Najran. Daerah itu merupakan perbatasan antara Saudi Arabia dan Yaman. Tragedi ini terjadi tahun 523 M. Sedangkan riwayat lain menyatakan bahwa mereka penduduk Habbasyyah. Dzu Nuwas menyebut dirinya sebagai Tuhan yang patut disembah para penduduknya. 

Dalam tafsir Ibnu Katsir (Jilid 4 hal: 956), beberapa ulama tafsir juga berbeda pendapat mengenai orang-orang yang ada dalam kisah ini. Disebutkan dari sahabat Ali r.a mereka ialah penduduk negeri persia ketika raja ingin menghalalkan kawin dengan sesama mahram, ulama mereka menentang kehendak raja itu. Maka raja membuat parit dan melemparkan mereka kedalam api tersebut.

Dzu nuwas telah melampaui batas dengan menempatkan dirinya sebagai Tuhan. Dia menjadikan rakyatnya bodoh akan masalah keimanan dan ketauhidan dengan cara meniadakan pendidikan agama yang murni. Perbuatan Dzu Nuwas sangatlah keji dengan menyuruh para prajuritnya untuk membuat parit yang disi kayu bakar. 

Raja Dzu  Nuwas berkata kepada prajuritnya “perintahkanlah mereka supaya mereka berdiri dipinggir parit dan suruhlah mereka memilih antara masuk ke parit atau menyembah berhala-berhala kita?”. Orang-orang beriman itu menjawab “parit ini kami lebih sukai daripada menuruti kehendakmu”. Diantara kaum mereka juga ada anak-anak yang merasa takut dengan api. Lalu orang tua mereka berkata”Wahai anak-anakku, tiada api lagi sesudah hari ini”. Maka anak-anak memasukkan dirinya ke dalam parit yang penuh dengan api dan arwah mereka  telah dicabut sebelum tubuh mereka tersentuh oleh panasnya api.

Setelah itu api yang ada dalam parit itu keluar dari tempatnya dan mengamuk juga mengepung orang-orang yang sewenang-wenang itu. Allah SWT membakar mereka dengan api mereka sendiri. Kisah inu terletak dalam surah al-Buruj 4-9. “Binasalah dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi dan dinayalakan kayu bakar, ketika mereka duduk disekitarnya, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang – orang beriman. Mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang maha Perkasa  Lagi Maha Terpuji. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi sungguh Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu”.

Zaman yang semakin modern tidak membuat keimanan kita menjadi lemah. Kencangkan ketauhidan kita sebagaimana kisah Ashabul Ukhdud yang rela mencampakkan diri mereka ke dalam kobaran api demi mempertahankan ketauhidan mereka. Semoga kita selalu mempertahankan ketauhidan kita dalam kondisi apapun. Wallahua’alam.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...