Beranda Khazanah Mengenal Bubur Suro, Kuliner Khas Nusantara yang Hanya Ada di Bulan Muharram

Mengenal Bubur Suro, Kuliner Khas Nusantara yang Hanya Ada di Bulan Muharram

Harakah.idBubur Suro adalah kuliner yang seringkali kita temukan, khususnya di Bulan Muharram. Seperti apa bentuk dan apa nilai-nilai yang ada di baliknya?

Siapa yang pernah makan Bubur Suro?

Popularitas Hari Asyuro sebagai hari yang istimewa tidak hanya bisa kita lihat dari anjuran-anjuran ibadah yang terdapat di dalamnya. Seperti berpuasa, melakukan shalat sunnah, membaca Surah al Ikhlas 1000x, dan amalan lainnya. Di kalangan masyarakat, khususnya di Indonesia, Hari Asyuro juga memiliki tempat yang spesial. Banyak sekali adat, kebiasaan dan tradisi yang diselenggerakan untuk menyambut dan merayakan kehadiran hari penting tersebut.

Bahkan, dari saking populernya, nama Asyuro dalam banyak kasus merupakan nama yang mewakili Bulan Muharram. Masyarakat lebih mengenal Bulan Suro, Suroan atau Sorah (red: Madura), dibandingkan nama Muharram. Bagi sebagian besar masyarakat Nusantara, Suro artinya ya bulan pertama dalam penanggalan tahun hijriyah. Ia mewakili keseluruhan hari dalam bulan Muharram.

Berbagai macam adat, tradisi dan kebiasaan yang dilakukan masyarakat ketika Bulan Suro bisa saja berupa kirab, mengeliling desa sambil membawa obor dan lain-lainnya. Namun ada juga tradisi kuliner yang sangat khas, bahkan menjadi simbol tersendiri bagi kehadiran Bulan Suro. Di bulan-bulan lainnya, agak mustahil menemukan kuliner yang satu ini. Yaitu Bubur Suro.

Baca Juga: 12 Amalan di Hari Asyuro

Bubur Suro memiliki banyak nama. Masyarakat Jawa menyebutnya Bubur Suran, Jenang Suro atau Jenang Suran. Masyarakat di daerah Tapal Kuda atau di Madura menyebutnya Tajin Sorah. Sejatinya seluruh penamaan tersebut memiliki arah makna yang sama; yaitu kuliner bubur yang hanya dibuat di Bulan Muharram.

Kalau diperhatikan, tradisi memasak bubur ini bisa hampir dipastikan ada di berbagai daerah di Indonesia. Di Banyuwangi, Bondowoso, Madura, Solo, Garut sampai Palembang. Selain kirab dan tradisi gunungan, membuat Bubur Suro adalah tradisi umum yang dilakukan masyarakat Nusantara dalam menyambut dan merayakan kedatangan Bulan Suro.

Bubur Suro sendiri, sekilas, sama dengan bubur-bubur pada biasanya. Dibuat dari beras yang biasanya dimasak dengan santan. Dalam penyajiannya, aneka lauk yang disertakan bisa beragam. Biasanya yang dijadikan lauk pelengkap adalah ayam goring, telur dadar gulung, orek tempe dan sambal. Kecuali di Garut. Berbeda dengan bubur di daerah lainnya, di daerah ini Bubur Suro berwarna Merah dan Putih.

Di daerah Tapal Kuda seperti Bondowoso, setiap keluarga membuat Tajin Sorah dengan jumlah porsi yang cukup banyak untuk dibagikan kepada tetangga sekitar. Begitu juga dengan yang lain. Ada tradisi saling mengantar dan menukar Bubur, yang merupakan simbol saling peduli dan kerukunan dalam hidup bermasyarakat.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...