fbpx
Beranda Khazanah Mengenal Deobandi, Islam Moderat dari India

Mengenal Deobandi, Islam Moderat dari India

Harakah.id – Deobandi merupakan organisasi Islam terbesar di kawasan Asia Selatan. Para pendirinya merupakan ulama-ulama terkemuka bermazhab Hanafi di India. Pengaruh Deobandi menyebar hingga ke Pakistan, Afganistan, dan Bangladesh. Bahkan pengaruhnya terasa hingga Afrika Selatan dan Inggris mengikuti jalur migrasi Muslim India ke kedua negara tersebut.

Deobandi juga menampakkan pengaruhnya di kawasan Hijaz yang meliputi Mekah dan Madinah. Hal ini ditandai dengan banyaknya ulama asal India, yang sebagian besar terkait dengan Deobandi. Puncaknya adalah berdirinya Madrasah Shaulatiyyah, yang didirikan para ulama India yang bermukim di Mekah.

Asal-Usul Deobandi

Deobandi pada mulanya adalah nama tempat di dekat kota Delhi, India. Setelah perang kemerdekaan pertama India melawan penjajah Inggris tahun 1857 M., seorang ulama bernama Maulana Qasim Al-Nanutawi (w. 1880 M.) bersama dua orang sahabatnya mendirikan madrasah kecil. Pendirian lembaga ini bertujuan untuk memperkuat ajaran Islam. Mengingat masyarakat Muslim India banyak yang kurang memiliki pemahaman yang baik terhadap agama mereka. Inggris yang sedang memiliki pengaruh kuat punya niatan menyebarkan agama Kristen dan kebudayaan Barat kepada bangsa India. Hal ini mendorong bangsa India, baik Muslim maupun Hindu, bangkit membendung pengaruh Inggris. Deobandi adalah sebuah potret perlawanan kultural Muslim India menghadapi pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang dibawa penjajah Inggris.

Kurikulum Deobandi

Deobandi kemudian menjadi pusat pendidikan Islam terkemuka di India. Ratusan pelajar dari berbagai penjuru India berdatangan. Mereka mempelajari berbagai ilmu keislaman. Seperti pesantren di Indonesia, Madrasah Deobandi mengajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang dikenal dalam sejarah Islam seperti hukum fiqih (islamic law), kalam (theology), sufisme (misticism), tafsir (quranic exegesis), hadis (prophetic tradition), dan tentu saja bahasa Arab.

Madrasan Deobandi mengajar fiqih aliran Hanafi. Syekh Muhammad Thayeb, mantan rektor Universitas Darul Ulum Deoband, menyatakan bahwa sekalipun berorientasi pada mazhab Hanafi, Deobandi mengajarkan moderatisme dengan penghormatan pada mazhab-mazhab lain dalam yurisprudensi Islam. Deobandi melarang peserta didiknya merendahkan mazhab yang berbeda. Dalam aspek teologi, Deobandi berorientasi pada teologi Islam yang mengharmoniskan pandangan Maturidiyyah dan Asy’ariyyah. Ada yang menyebut, Deobandi merupakan Maturidi yang cenderung pada Asy’ari. Tetapi yang sebenarnya adalah para ulama Deobandi lebih berupaya mengharmoniskan pandangan-pandangan yang berbeda antara Asy’ariyyah dan Maturidiyyah.

Dalam sufisme, Deobandi menganggap penting mistisisme sebagai pelengkap ajaran normatif-eksoterik Islam. Karenanya, Deobandi mengajarkan pandangan-pandangan Al-Junaid, Al-Syibli, Ma’ruf Al-Kharkhi, Bayazid Al-Bustami dan lainnya. Secara praktis, Deobandi sangat menghormati aliran-aliran tarikat Islam seperti Naqsyabandiyyah.

Deobandi Organisasi Islam Moderat

Syekh Muhammad Thayeb juga menegaskan bahwa Deobandi adalah bagian tak terpisahkan dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Seluruh pengajaran yang diberikan oleh Deobandi berorientasi pada sikap moderat (al-I’tidal wa al-Tawazun). Hal ini ditegaskannya dalam artikel yang dipublikasikan oleh media publikasi resmi Darul Ulum Deobandi, Majallah Al-Da’i.

Deobandi yang moderat tidak lepas dari dinamika sosial-politik yang berkembang di setiap zaman. Para alumni pada umumnya merupakan ulama bermazhab Hanafi yang moderat. Tetapi, dari sekian banyak alumni yang moderat, ada sebagian yang kemudian berubah orientasinya. Beberapa bahkan mendirikan organisasi yang cenderung bersikat konservatif, dan bahkan radikal yang dikait-kaitkan dengan aksi-aksi kekerasan.

- Advertisment -

REKOMENDASI

Cara dan Waktu Puasa Syawal 6 Hari Harus Urut atau Boleh Terpisah-pisah?

Harakah.id – Cara dan waktu puasa Syawal 6 hari boleh dilakukan secara berturut-turut di waktu awal bulan, maupun secara terpisah-pisah di...

Khutbah ‘Idul Fitri 1441 H.: Ketakwaan Sosial dan Iman yang Melahirkan Kasih Sayang

Khutbah pertama السلام عليكم ورحمة الله وبركاته اللهُ أَكبَر (7 x)  لَا إلهَ إِلا...

Kaidah “al-Khuruj Minal Khilaf Mustahab” dan Logika Pembentukan Komite Hijaz

Harakah.id - Komite Hijaz memiliki perannya sendiri ketika kondisi politik Arab Saudi dikhawatirkan berdampak ke segala lini. Dengan logika kaidah al-Khuruj...

Mengembala dan Berdagang Adalah Dua Camp Pelatihan Para Nabi Sebelum Diterjunkan, Tak Terkecuali Nabi...

Harakah.id – Dunia gembala dan perdagangan secara tidak langsung memberi pelajaran awal kepada Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi. Di sana kejujuran,...

TERPOPULER

Jumlah Takbir Shalat Idul Fitri, 7 di Rakaat Pertama dan 5 di Rakaat Kedua

Harakah.id - Penjelasan singkat mengenai jumlah rakaat dan takbir pada shalat sunnah Idul Fitri. Dua rakaat dengan tujuh takbir di rakaat...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Bacaan Setelah Takbir Zawaid dalam Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

Harakah.id - Pada umumnya, dalam shalat wajib dan sunnah dikenal dua takbir, yaitu takbiratul ihram dan takbir intiqal. Takbiratul ihram adalah takbir...

Tata Cara Niat Zakat Fitrah Sendiri Untuk Diri Sendiri dan Keluarga

Harakah.id - Ketika kita hendak menyerahkan bahan pokok seperti beras kepada amil zakat, penitia zakat atau penerima zakat secara langsung, kita...