Beranda Khazanah Mengenal Filsuf Ibnu Bajjah dan Kritiknya Atas Konsep Makrifat yang Ditawarkan Imam...

Mengenal Filsuf Ibnu Bajjah dan Kritiknya Atas Konsep Makrifat yang Ditawarkan Imam al-Ghazali

Harakah.id Ibnu Bajjah adalah salah satu dari sekian banyak filsuf Islam. Dalam satu gagasannya, Ibnu Bajah sempat melakukan kritik atas al-Ghazali.

Kita tahu Ibn Bajjah sangat memberikan corak baru terhadap filsafat islam di negeri islam barat dengan corak menolak konsep teori Al-Ghazali yang disebut dengan Teori Ma’rifah. Jadi seseorang dapat mencapai puncak ma’rifah dengan cara meleburkan diri pada akal fa’al. Artinya, jika ia telah terlepas dari keburukan-keburukan masyarakat, dan menyendiri serta dapat memaknai kekuatan pikirannya untuk memperoleh pengetahuan ilmu sebesar mungkin, dan juga dapat memenangkan segi pikiran pada dirinya atas pikiran hewaninya.

Lebih dari itu untuk sampai pada ma’rifah, manusia harus uzlah (menjauhi masyarakat sama sekali). Menjauhi masyarakat dalam perspektif Ibnu Bajjah bukan berarti menjauhi manusia, melainkan tetap berhubungan dengan masyarakat. Hanya saja, ia harus selalu menguasai dirinya serta hawa nafsunya sendiri dan tidak terbawa oleh arus keburukan masyarakat. Tentu sangat asyik kalau kita tarik pertanyaan: bagaimana sebenarnya konsep uzlah Ibn Bajjah? Apa yang dikritiknya dari Al-Ghazali?

Profil Ibnu Bajjah

Nama lengkap beliau Abu Bakar Muhammad Bin Yahya, Ibn Bajjah yang dikenal dengan nama julukan Ibnul-Sha’igh (Anak Tukang Emas), sedangkan di Eropa terkenal dengan nama sapaan (Avenpace), Ibnu Bajjah merupakan filsuf pertama di dunia islam belahan barat, ia muncul pada tiga atau empat sepuluh tahun pertama abad ke-12 di Andalusia atau saat ini dikenal dengan Spanyol.

Ibn Bajjah lahir di Saragosa abad ke-5 H, banyak orang  yang tak mengetahui tanggal lahirnya. Al-Bajjah berasal dari keluarga At-tujib, karenanya ia juga dikenal sebagai At-tujibi. Kendatipun kehidupan Ibn Bajjah tidak diketahui secara pasti, beliau juga adalah seorang sarjana bahasa dan sastra Arab yang tekun serta menguasai dua belas macam ilmu pengetahuan ketika beliau pergi ke Granada (Spanyol).

Banyak diantara karyanya yang hanya berupa risalah (catatan singkat) dan komentar pendek, serta banyak di antaranya yang tidak berjudul. Salah satunya adalah Tadbir al-Mutawahhid (tingkah laku sang penyendiri). Kitab dalam bahasa Arab telah dicetak Ceres Editions di Tunisia pada tahun 1994.  Isi kitab ini mirip dengan kitab al-Farabi, al-Madinah al-Fadilah. Hanya ia lebih menekankan kehidupan individu dalam masyarakat, yang disebut mutawahhid.

Kritik Ibnu Bajjah

Ibn Bajjah menempatkan akal dalam posisi yang sangat penting. Dengan perantaraan akal, manusia dapat mengetahui segala sesuatu, termasuk dalam mencapai kebahagiaan dan masalah Ilahiyat. Akal, menurut Ibnu Bajjah terdiri dari dua jenis:

  1. Akal Teoretis: Akal ini diperoleh hanya berdasarkan pengalaman terhadap sesuatu yang konkret atau abstrak.
  2. Akal Praktis: Akal ini diperoleh dengan melalui penyelidikan (eksperimen) sehingga menemukan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, pengetahuan yang diperoleh akal ada dua jenis pula: pertama, yang dapat dipahami, tetapi tidak dapat dihayati, dan yang kedua, yang dapat dipahami dan dapat pula dihayati.

Berbeda dengan Al-Ghazali, menurut Ibn Bajjah, manusia dapat mencapai puncak ma’rifah hanya dengan melalui akal saja, bukan dengan jalan sufi, alih-alih melalui jalan al-qalb atau al-zauq. Manusia kata Ibnu Bajjah, setelah bersih dari sifat kerendahan dan keburukan masyarakat, akan dapat bersatu dengan akal aktif dan ketika itulah ia akan memperoleh puncak ma’rifah karena limpahan dari Allah SWT.

Tak hanya itu, dalam bukunya yang berjudul tadbir al-mutawahhid, Ibnu Bajjah mengkritik konsep uzlah tasawuf Al-Ghazali. Pengasingan diri secara total dari masyarakat tentu bertentangan dengan tabiat manusiawi sebagai makhluk sosial. Bagi Ibn Bajjah, uzlah yang tepat adalah uzlah falsafi, yakni tetap hidup dan tetap berhubungan dengan masyarakat. Namun, ia wajib meninggalkan segala sifat-sifat yang tercela dari masyarakat dan sanggup mengendalikan diri dari perbuatan yang dapat menyesatkan.

Konkritnya, uzlah itu bukanlah menjauhi manusia, melainkan tetap juga berhubungan dengan masyarakat, hanya saja ia dituntut harus bisa menguasai dirinya sendiri dari hawa nafsunya, dan tidak terbawa oleh arus keburukan-keburukan kehidupan masyarakat. Dengan kata lain ia harus tetap kokoh pendirian, harus berpusat pada dirinya sendiri dan juga selalu merasa bahwa dirinya sedang menjadi panutan dan pembuat aturan-aturan bagi masyarakat, bukan malah tenggelam di dalamnya.

Perlu dijelaskan lagi, bahwa manusia penyendiri (uzlah) yang dimaksud oleh Ibnu Bajjah adalah uzlah aqliyyah, berbeda dengan uzlah sufiyah yang dikemukakan oleh Al-Ghazali. Bahkan, Ibn Bajjah mengkritik habis uzlah yang dimaksud Al-Ghazali, karena dinilai sangat bertentangan dengan tabiat atau watak manusia sebagai makhluk sosial. 

Filsafat Ibnu Bajjah ini banyak terpengaruh oleh pemikiran islam dari kawasan Timur, seperti Al-Farabi dan Ibn Sina. Hal ini disebabkan kawasan islam di timur lebih dahulu melakukan penelitian ilmiah dan kajian filsafat dari kawasan islam di barat (Andalusia). Tentunya, sangat wajar kalau filsafat Ibnu Bajjah lebih mendasarkan pemikirannya pada hal yang realitas, karena ibn bajjah adalah penganut filsafat dan logika karya-karya Al-Farabi, meskipun Ibn Bajjah sudah berhasil memberikan sejumlah besar penambahan dalam karya-karya Al-Farabi. 

Lebih dari itu, dasar filsafat Ibnu Bajjah adalah lebih condong terhadap filsafat Aristoteles, terutama dalam ilmu metafisika dan psikologi yang disandarkan pada ilmu fisika, dan itulah sebabnya tulisan-tulisan Ibnu Bajjah penuh dengan wacana mengenai fisika. Secara umum, kendatipun pandangan-pandangan filsafat Ibn Bajjah tidak begitu sempurna, namun beliau (Ibn Bajjah) telah melapangkan jalan bagi pemikiran filsafat Ibnu Thufail dan juga Ibn Rusyd. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...