Beranda Sajian Utama Hewan-Hewan Peliharaan Nabi; Mengenal Kuda, Unta dan Keledai Milik Nabi Muhammad

Hewan-Hewan Peliharaan Nabi; Mengenal Kuda, Unta dan Keledai Milik Nabi Muhammad

Harakah.id Hewan peliharaan Nabi Muhammad terdiri dari beberapa kuda, unta dan keledai. Hewan-hewan ini digunakan oleh Nabi sebagai tunggangan dalam berbagai kondisi, termasuk perang.

- Advertisement -

Sudah menjadi sesuatu yang lumrah jika Rasulullah SAW memiliki sejumlah peliharaan seperti kuda, unta dan keledai. Nabi Muhammad SAW, dan sebagaimana orang Arab pada umumnya, hidup di sebuah wilayah dan konteks sosial yang menjadikan unta, kuda maupun keledai sebagai sesuatu yang niscaya untuk dimiliki. Tak hanya sebagai komoditas, hewan-hewan tersebut juga difungsikan sebagai kendaraan pribadi, hewan pengangkut barang dan tunggangan perang. Tak hanya itu, dalam konteks kehidupan masyarakat Arab kala itu, kepemilikan atas hewan-hewan tersebut juga melambangkan status sosial seseorang.

Fungsi dan pentingnya hewan-hewan tersebut tentu tidak terlepas dari karakter masyarakat Arab yang nomaden dan tribal. Perekonomian yang sepenuhnya bergantung pada sektor perdagangan, turut memberikan sebab mengapa hewan-hewan tersebut penting untuk dipelihara, diternak dan dimiliki. Tak terkecuali Nabi Muhammad SAW. Dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad diketahui memiliki beberapa hewan peliharaan yang terdiri dari kuda, unta maupun keledai. Hewan peliharaan Nabi ini, sedikit banyak berkontribusi dalam dakwah Nabi; ada yang dibawa ke medan perang, berkunjung ke sebuah wilayah maupun sebagai wasilah untuk memutuskan perkara-perkara yang penting.

Nah kali ini kita akan mengenal hewan peliharaan Nabi Muhammad SAW;

Kuda-Kuda Milik Nabi Muhammad SAW

Hewan peliharaan Nabi Muhammad yang pertama adalah Kuda. Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Imam al-Nasa’i disebutkan bahwa Sahabat Anas bin Malik pernah berkata;

لم يكن شيء أحب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد النساء من الخيل

Di dalam kitab Imta’ul Asma’ bima Lin-Nabi minal Ahwali wal Amwali wal Hafadati wal-Mata’, al-Maqrizi menyebutkan bahwa Rasulullah memiliki beberapa ekor kuda; 1) al-Murtajiz, 2) al-Luhaif, 3) Al-Lizaz, 4) al-Dzarb, 5) al-Sakb, 6) al-Sabhah, 7) al-Ward. Ini adalah nama-nama kuda Rasulullah yang tersepakati oleh para ulama.

Al-Murtajiz adalah kuda berwarna abu-abu milik Rasulullah. Dinamakan al-Mutajiz karena suara ringkikannya yang menawan. Seolah-olah, ketika sedang meringkik, al-Murtajiz bersenandung layaknya seorang penyanyi mengeluarkan cengkoknya. Dalam riwayat lain, al-Murtajiz juga dikenal dengan nama al-Tharf dan al-Najib yang bermakna kuda mulia. Rasulullah membeli al-Murtajiz dari seorang A’rabi dari Bani Murrah.

Al-Luhayf adalah kuda yang didapatkan Rasulullah dari pemberian Rabi’ah bin Abi al-Barr. Dinamakan al-Luhayf karena ekornya yang seolah-seolah menyelimuti tanah. Ia adalah kiasan mengenai betapa bagus ekor al-Luhayf.

Al-Lizaz adalah kuda yang didapatkan Rasulullah dari pemberian al-Muqawqis. Dinamakan al-Lizaz, karena kuda tersebut ajeg dan cepat. Artinya, meskipun tengah berlari dalam kecepatan maksimum, al-Lizaz mampu memberikan penunggangnya stabilitas dan ritme yang konsisten.

Al-Dzarb adalah kuda yang didapatkan Rasulullah dari pemberian Furwah bin Umayr al-Judzami. Dinamakan al-Dzarb karena postur kuda tersebut besar dan kuat.

Al-Sakb adalah unta yang dibeli Rasulullah seharga 10 uqiyah di Madinah dari seseorang Bani Fazarah. Al-Sakb adalah unta yang dipakai Rasulullah ketika Perang Uhud. Menurut Ibn Abbas, al-Sakb adalah unta hitam legam yang memiliki kecepatan layaknya tumpahan air. Ketika berlari, al-Sakb seakan-akan melayang; kecepatan yang dikombinasikan dengan kesenyapan.

Sabhah adalah unta yang didapatkan Rasulullah sebagai barang gadai. Dinamakan Sabhah karena ia adalah kuda yang mudah dikendalikan dan memiliki kecepatan serta ketenangan.

Al-Ward adalah kuda yang didapatkan Rasulullah dari pemberian Tamim al-Dari. Unta yang kemudian diberikan Rasulullah kepada Umar bin al-Khattab. Al-Ward adalah unta tunggangan yang seringkali dipakai Umar bin Khattab ketika jihad fi sabilillah.

Ketujuh kuda Rasulullah ini banyak diabadikan dalam syair-syair, salah satunya adalah sebuah syair Muhammad bin Ishaq bin Jama’ah al-Syafi’i;

والخيل سكب لحيف سبحة ظرب # لزاز مرتجز ورد لها أسرار

Selain itu, sebenarnya masih ada kuda-kuda lain yang diduga milik Rasulullah SAW. Antara lain; al-Ablaq, Dzul ‘Iqal, Dzul Lammah, al-Murtajal, al-Murawih, al-Sarhan, al-Ya’sub, al-Ya’bub, al-Bahr, al-Adham, al-Syahha’, al-Sajl, Mulawih, al-Tharf, dan al-Najib. Namun demikian, para ulama masih berselisih pendapat, apakah benar kuda-kuda tersebut miliki Rasulullah SAW atau nama-nama kuda tersebut adalah nama lain dari ketujuh kuda yang masyhur dikenal sebagai kuda-kuda milik Nabi Muhammad SAW

Unta Nabi Muhammad SAW

Hewan peliharaan Nabi Muhammad yang kedua adalah Unta.

Unta Rasulullah yang paling terkenal bernama al-Qashwa’. Ia adalah unta yang ditunggangi Rasulullah ketika masuk ke Madinah dan memilih tanah lokasi kediaman beliau sekaligus lokasi pendirian masjid. Al-Qashwa’ juga merupakan unta yang ditunggangi Rasulullah ketika masuk ke Mekkah pada peristiwa Fathu Makkah. Ia adalah unta yang dibeli Abu Bakar al-Shiddiq dari Bani Qusyair bin Ka’ab bin Rabi’ah bin Amir seharga 400 dirham. Unta tersebut kemudian hendak dihadiahkan kepada Nabi, tapi Nabi menolak menerimanya dengan gratis. Nabi pun membeli al-Qashwa dengan harga yang sama ketika Abu Bakar pertama kali membelinya dari Bani Qusyair.

Menurut al-Maqrizi dalam Imta’ul Asma’, semenjak Nabi Muhammad SAW wafat, al-Qashwa tetap dirayat oleh para sahabat; susunya tidak pernah diminum lagi dan ia tidak disembelih untuk dimakan dagingnya. Menurut al-Waqidi, al-Qashwa’ mati di masa kekhalifahan Abu Bakar al-Shiddiq.

Selain al-Qashwa’, para sejawaran menduga kalau Rasulullah memiliki unta yang lain. Ada dua nama unta yang kemudian mengemuka dan disebut dalam kitab-kitab Tarikh, al-Jad’a’ dan al-‘Adhba’. Namun menurut al-Waqidi dan al-Maqrizi, kedua nama unta tersebut adalah nama lain dari unta al-Qashwa.

Himar atau Keledai Nabi Muhammad SAW

Hewan peliharaan Nabi selanjutnya adalah Keledai. Rasulullah tercatat pernah memiliki keledai. Dalam sebuah riwayat Abu Dawud disebutkan;

عن معاذ بن جبل قال كنت ردف النبي صلى الله عليه وسلم على الحمار يقال له عفير

Penamaan keledai Nabi dengan al-‘Ufayr memang masih menjadi perdebatan di kalangan para ulama. al-Bukhari dan beberapa imam hadis lain misalnya, menemukan bahwa riwayat yang disampaikan Abu Dawud memang ada, tapi tidak ada penjelasan soal nama al-‘Ufayr. Sedangkan riwayat soal keberadaan keledai yang ditunggai oleh Rasulullah memang banyak. Tapi sekali lagi, al-‘Ufayr tidak pernah muncul dalam riwayat, kecuali riwayat Abu Dawud tersebut.

Menurut al-Waqidi, ‘Ufayr adalah himar yang didapatkan Rasulullah dari pemberian al-Muqawqis. Rasulullah juga pernah mendapatkan hadiah berupa keledai dari Farwah bin Amr al-Judzami bernama Ya’fur. Namun ada ulama yang berpendapat, kalau keledai pemberian Farwah bin Amr  justru yang bernama ‘Ufayr, sedangkan Ya’fur adalah keledai pemberian al-Muqawqis.

Itulah beberapa informasi seputar hewan-hewan peliharaan milik Nabi Muhammad SAW.

REKOMENDASI

Di Bulan Ramadan, Bekerja Untuk Menafkahi Keluarga Tetap Lebih Baik Daripada I’tikaf Di Masjid

Harakah.id – I'tikaf di masjid memang menjadi opsi ibadah yang dianjurkan dilakukan di Bulan Ramadan. Tapi, yang harus jadi catatan, bekerja...

Pas Sahur, Masih Bolehkah Kita Makan dan Minum Ketika Imsak Sudah Diumumkan? Ini Penjelasan...

Harakah.id - Ketika Imsak sudah diumumkan, mungkin sebagian dari kita masih bertanya; masih bolehkah kita menelan makanan dan menyeruput minuman? Apa...

Orang Mulia Meninggal Di Bulan Mulia, Ini Daftar Ulama-Ulama Nusantara yang Wafat di Bulan...

Harakah.id - Wafat di Bulan Ramadan konon merupakan keberkahan tersendiri bagi seseorang. Meninggalkan dunia di waktu mulia adalah satu tanda kemuliaan...

Larangan Berpuasa di Hari Syak, Hari Meragukan Apakah Ramadan Sudah Masuk Atau Belum

Harakah.id - Berpuasa di hari syak adalah praktik berpuasa yang dilarang oleh Islam. Hal itu dikarenakan, hari syak adalah hari yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...