Beranda Tokoh Mengenal Ibnu ‘Asyur dan Pemikiran Maqasidus Syariahnya

Mengenal Ibnu ‘Asyur dan Pemikiran Maqasidus Syariahnya

Harakah.idBagi kalangan akademisi terutama yang fokus pada bidang fiqih dan ushul fiqh, sosok Ibnu ‘Asyur seharusnya sudah tidak asing lagi. Beliau adalah seorang ulama ushul fiqh kontemporer yang lahir pada tahun 1296 H atau 1879 M.

Bagi kalangan akademisi terutama yang fokus pada bidang fiqih dan ushul fiqh, sosok Ibnu ‘Asyur seharusnya sudah tidak asing lagi. Beliau adalah seorang ulama ushul fiqh kontemporer yang lahir pada tahun 1296 H atau 1879 M.

Nama lengkapnya adalah Muhammad at-Tahir bin Muhammmad bin Muhammad Tahir bin Muhammad bin Muhammad Syazili bin ‘Abd al-Qadir bin Muhammad bin ‘Asyur.

Keluarga ‘Asyûr adalah keluarga yang terhormat di Tunis, karena memiliki posisi ilmiah dan jabatan di pemerintahan. kakeknya yaitu Muhammad Tahir bin Muhammad bin Muhammad Syazili adalah seorang ahli nahwu, ahli fikih, dan pernah menjabat sebagai ketua qadhi di Tunisia pada tahun 1851 M dan menjadi mufti negara pada tahun 1860 M.  Berangkat dari latar belakang yang demikianlah Ibnu ‘Asyur tumbuh menjadi sosok yang mencintai ilmu pengetahuan. Pendidikanya sangat diperhatikan oleh ayah, ibu, dan kakeknya.

Baca juga: Maqasid Syariah, Ibnu Asyur dan Cara Agar Islam Bisa Tampil Rahmatan Lil Alamin

Salah satu disiplin ilmu yang lahir dari pemikiran Ibnu ‘Asyur adalah maqashid. Maqashid menjadi akar dari interdisipliner studi Islam, karena interdisipliner dalam studi Islam sebenarnya telah dilakukan oleh para ulama Islam terdahulu atau klasik. Studi Islam Interdisipliner sendiri merupakan pengembangan dan penjabaran dari tiga topik yaitu pendekatan filsafat, sosiologi dan sejarah yang penekanannya lebih diarahkan pada aspek aplikasinya. Pendekatan interdisipliner memberikan peluang untuk mendukung ilmu-ilmu yang dapat membantu memahami Islam secara lebih komprehensif.

Ibnu Asyur adalah satu diantara ulama besar Islam yang mempunyai kiprah besar dalam dunia Islam. Yang tidak hanya menguasai satu disiplin keilmuan saja, tetapi juga menguasasi disiplin keilmuan di bidang lainnya. Lewat karyanya yang bernama Maqasid Syari’ah Islamiyah dan at-Tahrir wa Tanwir, Ibnu Asyur menjadi salah satu tokoh penting dalam diskursus Maqasid Syari’ah dan Tafsir. Ibn ‘Asyur wafat pada tahun 1393 H atau 1973 M dengan meninggalkan berbagai harta karun dan pemikiran lewat k zarya-karya yang diulisnya dalam berbagai macam disiplin ilmu seperti tafsir, Maqasid Syari’ah, dan lain sebagainya.Berbagai karya tulis itulah, menjadi hukti akan luasnya keilmuan yang ia miliki.

Bapak Maqasid Kontemporer, begitulah gelar yang disematkan kepada Ibnu ‘Asyur. Seorang cendekiawan muslim yang berhasil menghidupkan kembali obor maqashid yang padam selama 6 abad melalui karyanya yang monumental Maqasid asy-Syari’ah al-Islamiyyah. Dari segi konsep keilmuan, pemikiran maqasid al-syari’ah baru saja terbangun secara sistematis sebagai sebuah disiplin ilmu di tangan al-Shatiby (w. 790 H) melalui kitabnya al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-syari’ah.

Prestasi ini membuat al-Shatiby dikenal dunia sebagai bapak pertama maqashid al-syari’ah. Sedangkan melalui bukunya maqasid al-shari‘ah al-Islāmiyyah, telah berhasil mengembangkan maqasid dengan menyempurnakan konsep maqasid al-shari‘ah milik asy-Syatiby. Lebih jauh lagi, Ibnu ‘Asyur bahkan menjadikan maqashid al-syari’ah sebagai disiplin ilmu yang mandiri. Beliau meyakini bahwa semua hukum syari’at harus memuat maksud dan tujuan syari’ dalam bentuk hikmah dan kemaslahatan. Secara makro, hukum syari’at mengandung tujuan global, yaitu memelihara ketertiban umat dan melanggengkan kemaslahatan bagi mereka.

Terlepas dari hal tersebut ada beberapa faktor yang memang mempengaruhi pemikiran Ibnu Asyur sendiri, antara lain:

Faktor Pribadi: sebagai seorang akademisi, beliau memiliki kemampuan unntuk menganalisa dan memahami dengan seksama masalah dan kelemahan yang dia temui. Kemudian hati nuraninya mendorongnya untuk memikirkan jalan reformasi pendidikan. Apa yang dia pikirkan tentang ide dan pandangannya tentang pendidikan, kemudian dia tuangkan ke dalam karya-karyanya.

Faktor Lingkungan: Ibn ‘Asyur menemukan momentum untuk mempersiapkan reformasi yang digagasnya menjadi lingkungan dan tempat yang mendukung. Di kampus ia bertemu dengan guru-guru yang memiliki semangat reformasi dan dukungan dengan adanya beberapa wacana reformis yang dilakukan oleh beberapa politisi reformis, seperti pendirian sekolah militer yang digagas oleh Ahmad Bay pada tahun 1840 M.

Faktor Eksternal: pengaruh Muhammad ‘Abduh, pengaruh gerakan reformasi di Tunisia sendiri, kesadaran para tokoh dan ulama berpengaruh untuk mereformasi sistem pendidikan, pengaruh pemikiran Ibn Khaldun, pengaruh filsafat Yunani seperti pemikiran Plato, Socrates, dan Aristoteles.

Dalam setiap karyanya, Ibnu ‘Asyur menggunakan ilmu maqashid sebagai landasan teorinya. Sebagaimana dalam berbagai bukunya, seperti al-Tahrir wa al-Tanwir (bidang tafsir), Usul al-Nizam al-Ijtima’iy fi al-Islam (bidang sosial) dan Alaysa al-Subh bi Qarib (bidang pendidikan). Ibnu ‘Asyur memaparkan pemikiran Islam dalam bidang tafsir, masyarakat sosial dan pendidikan dalam perspektif ilmu maqashid berdasarkan empat prinsip maqasidnya yang sangat populer, yaitu al-Fitrah, al-Samahah, al-Musawah dan al-Hurriyyah.

Terdapat korelasi antara pemikiran maqashid Ibnu ‘Ashur dengan kajian Islam interdisipliner, dimana dalam keempat bukunya ilmu maqasid digunakan sebagai pendekatan dalam kajian Islam pada tiga tema:

Ilmu maqasid dalam kajian tafsir. Dalam tema ini beliau menegaskan keabsahan tafsir bi al-ra’yi, selain itu metodologi tafsir yang berlandaskan maqashid, melalui kitab al-Tahrir wa al-Tanwir Ibn ‘Asyur juga menetapkan tujuan al-Al-Qur’an diturunkan (Maqasid al-Qur’an) sebagai teori yang harus dipahami oleh penafsir dalam proses menafsirkan al-Qur’an.

Ilmu maqasid dalam pemikiran pendidikan. Dalam tema ini beliau merasa sistem pendidikan di dunia Islam tidak bisa membawa kemajuan bangsa. Beliau ingin mengubah sistem pengajaran konservatif menuju pendidikan yang mengadopsi kemajuan-kemajuan yang terjadi di zaman modern ini. Ibnu ‘Asyur memberikan konsep hurriyah (kebebasan) sebagai salah satu prinsip dasar maqashid yang bersinggungan langsung dengan dunia pendidikan. Hurriyah sendiri terbagi menjadi Hurriyyah al-Aqwal (kebebasan berpendapat), Hurriyyah at-Ta ‘lim (kebebasan mengajar), Hurriyyah at-Ta’lif (kebebasan menulis), dan Hurriyyah al-Fikr (kebebasan berfikir).

Ilmu maqashid dalam masyarakat sosial. Ibnu ‘Asyur dalam kitabnya Ushul al-Nizam Ibn ‘Ashur membagi maqasid agama untuk memperbaiki keadaan (islah) menjadi dua bagian utama, yaitu al-Islah al-Fardiy (perbaikan individu) dan al-Islah al-Ijtima’iy (perbaikan masyarakat). Dalam pengantar kitabnya, Ibnu ‘Ashur lebih banyak menjelaskan tentang peran agama dalam memperbaiki kondisi suatu umat yang dalam hal ini menjadi pokok bahasan perubahan al-Qur’an.

Imam Ibnu ‘Asyur punya memiliki karakter yang sangat kuat pengaruh dan pemikirannya. Sebab dari konsep maqashid baru yang ia ciptakan berhasil menciptakan sebuah disiplin ilmu baru yang manfaatnya sangat serasa, terlebih di dunia akademik. Seperti yang banyak kita lihat, berbagai macam penelitian menggunakan pendekatan maqashid. Tidak hanya iu, ketika orng-orang awwam memahami konsep maqashid ini pun mereka akan merasa memiliki tujuan baru, sehingga mereka akan lebih baik lagi dalam menjalankan kewajiban sebgai seorang hamba. Ketika pemikiran-pemikiran tersebut diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat pun saya kira tidak ada hal buruk yang akan terjadi.

Artikel kiriman dari Hanifah Muwakhidatul Ummah, Mahsantri Putri IIHS Darus Sunnah Jakarta

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...