Beranda Tokoh ­Mengenal Ibnu Sina, Perintis Ilmu Kedokteran Modern dalam Sejarah Peradaban Islam

­Mengenal Ibnu Sina, Perintis Ilmu Kedokteran Modern dalam Sejarah Peradaban Islam

Harakah.id Ibnu sina merupakan seorang dokter dan ahli filsafat pada masa Abbasiyah. Pada masa itu ia termasuk dalam dokter dan filsuf  yang sangat famous dalam dunia Islam.

Sains telah berkembang sangat cepat pada zaman Daulah Abbasiyah. Oleh sebab itu zaman Daulah Abbasiyah disebut sebagai zaman keemasan, karena tolak ukur zaman keemasan yakni pada kemajuan sains nya. Kedokteran adalah salah satu cabang sains yang dikembangkan pada masa itu. Bahkan Khalifah pada masa Abbasiyah telah membangun rumah sakit (bimaristan).

Begitupun dengan Ibnu Sina yang mengikuti jejak khalifah pada masa Abbasiyyah. Ibnu sina merupakan seorang dokter dan ahli filsafat pada masa Abbasiyah. Pada masa itu ia termasuk dalam dokter dan filsuf  yang sangat famous dalam dunia Islam.

Gagasan-gagasan cermelang dari Ibnu Sina berkontribusi cukup baik bagi semua kalangan ilmuwan, baik dari ilmuwan Muslim maupun non-Muslim. Kepopuleran dari Ibnu Sina jangan diragukan lagi. Apalagi dari penemuan Ibnu Sina dalam bidang ilmu kedokteran, hal ini bisa kita lihat dari karyanya yang sangat popular yakni Kitab Qanun fi al-Thib, serta banyak berkontribusi di bidang ilmu kedokteran.

Tulisan ini akan membahas secara rinci biografi Avicenna. Dalam artikel ini tidak hanya membahas biografi Avicenna, tetapi juga pendidikan Avicenna, penemuan dan karya-karya Avicenna, serta Ilmu Kedokteran Avicenna.

Biografi Ibnu Sina

Ibnu Sina memiliki nama lengkap yang jarang diketahui beberapa orang, yaitu Abu Ali al-Husayn bin Abdullah bin Sina. Adapun nama latin dari Ibnu Sina yakni Avicenna, Bahasa latin yang terdistorsi dari bahasa Hebrew Aven Sena. Ibnu Sina merupakan seorang ahli filsuf, dokter, ahli matematika dan juga seorang ensiklopedis. Bahkan dibeberapa daerah Avicenna lebih ­famous sebagai sastrawan dibandingkan seorang filsuf. Orang-orang Arab memanggil Avicenna dengan sebutan asy-Syaikh ar-Rais.

Ibnu Sina lahir pada tahun 980 M di Afsyanah, Bukhara yang sekarang menjadi Uzbekistan, Transoxiana (Persia Utara). Ibnu Sina lahir dalam keluaraga yang bermahzab Syi’ah. Orang tua Ibnu Sina ialah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Samaniyyah. Avicenna dilahirkan oleh sesosok wanita yang bernama Satareh, dan ayahnya bernama Abdullah, berasal dari kota kuni di Balkh. Lalu pada saat berusia 5 tahun Avicenna memiliki adik yang bernama Mahmoud.

Pada saat Avicenna berusia 20 tahun, ayahnya telah meninggal dunia. Musibah yang ia alami menimbulkan beban berat atas kehidupan Avicenna, sehingga ia pergi meninggalkan Bukhara lalu menuju Jurjan. Dan pada saat ia telah di Jurjan, Avicenna bertemu dengan Abu ‘Ubaid al-Juzani, dan kemudian menjadi murid Avicenna dan menulis sejarah hidupnya. Namun pada saat di Jurjan Avicenna tidak menetap begitu lama di kota tersebut, karena di kota tersebut telah terjadi kekacauan politik. Sehingga Avicenna memilih pergi dari Jurjan dan pindah menuju ke Hamazan. Nah, pada saat itu Hamazan dipimpin oleh Raja yang bernama Raja Syamsuddaulah. Lalu pada saat Avicenna tinggal di Hamazan ia telah berhasil menyembuhkan penyakit yang dimiliki oleh Raja Syamsuddaulah, sehingga Raja Syamsuddaulah mengangkat Avicenna menjadi Menteri.

Ibnu sina wafat di usia 58 tahun, pada bulan  Juni, tahun 1037, Ibnu Sina dimakamkan di Hamadan, Iran. Ia meninggal dunia karena penyakit keras yang selama ini ia miliki yakni penyakit usus besar. Walaupun usia nya hanya 58 tahun, namun kontribusi Avicenna bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan sangat luar biasa bahkan sampai saat ini karya dan pengetahuan-pengetahuan dari Avicenna tetap abadi.

Pendidikan Ibnu Sina

Avicenna memiliki pendidikan yang sangat baik tentang semua mata pelajaran, Pada saat usia kesepuluh tahun, Avicenna telah menghafalkan Al-Qur’an. Lalu kemudian pada saat usia dia 13 tahun Avicenna mengkaji ilmu kedokteran dengan beberapa siswa, sehingga pada saat dia berusia 17 tahun ia telah dikenal sebagai doter. Karena pada saat itu, Avicenna, pernah mengobati Pangeran Nuh Ibnu Mansur, sampai sembuh. Sejak saat itulah, Avicenna, mendapat perlakuan baik sekali dan ia juga bisa mengunjungi perpustakaan yang banyak sekali buku-buku yang selama ini sukar ia dapati.

Selanjutnya, Avicenna melanjutkan untuk mengkaji fiqh, dan ilmu-ilmu syariat Islam. Setelah itu, Avicenna berguru kepada Abu Abdullah an-Naqili serta mengkaji “kitab Ishaguji” yaitu ilmu logika. Kemudian, Avicenna melanjutkan belajar secara autodidak dalam ilmu matematika, sampai-sampai Avicenna berhasil mengusai dan memahami buku “Almagest” yang di karang oleh Plotemaeus. Tidak hanya ilmu matematika, pada saat itu juga Avicenna menguasai pengetahuan alam serta teologi. Setelah itu, Avicenna melanjutkan dan memulai mengkaji ilmu kedokteran dan berguru kepada, Abu Mansur Al-Qamari, pengarang “Kitab Al-Hayat Wa Al-Maut,” dan guru selanjutnya yaitu Abu Sahal Isa bin Yahya Al-Jurjani, pengarang ensiklopedia kedokteran yang dikenal dengan “Al-Kitab Al-Mi’ah Fi Shina’atith Thib.”

Karya-Karya Ibnu Sina

Dalam catatan sejarah, tertulis bahwa ia telah berhasil menulis sekitar 276 karya. Karya Avicenna yang  famous dan sangat bersejarah adalah Al-Qanun fith Thib (Canon of Medicine), ensiklopedi kedokteran. Buku sudah diterjemahkan dalam bahasa Latin dan menjadi rujukan di Eropa selama ratusan tahun.

Saat Avicenna berada di Bukhara, Avicenna dibawah pengaruh Al-Farabi. Dan di Bukhara lah Avicenna menciptakan dua karyanya. Karya pertama yakni Ringkasan tentang Jiwa (Maqala fi’l-nafs), adalah risalah singkat yang didedikasikan untuk penguasa Samaniyah yang menetapkan inkorporealitas jiwa atau kecerdasan rasional tanpa menggunakan desakan Neoplatonik pada pra-keberadaannya.

Yang kedua adalah karya besar pertamanya tentang metafisika, Filsafat untuk Prosodist (al-Hikma al-‘Arudiya) yang ditulis untuk seorang sarjana lokal dan upaya sistematis pertamanya pada filsafat Aristotelian.

Adapun karyanya dalam bidang politik yaitu Risalah As-Siyasah. Dalam bidang Psikologi yakni an-Najat. Dalam bidang kedokteran yakni, al-Urjuzah fi at-Tibi, Sadidiyya. Dalam bidang fisika yakni, Fi Aqsami al-Ulumi al-Aqliyah. Sedangkan karya dalam bidang filsafat yaitu, Kitabu al-Insyaf, Kitabu al-Hudud, Hikmah al-Masyiriqiyyin, dan masih banyak lagi karya-karya Avicenna yang lainnya.

Ilmu Kedokteran Ibnu Sina

Ibnu Sina mengkaji ilmu kedokteran pada saat ia berusia 13 tahun. Pada saat ia mendalami ilmu kedokteran Ibnu Sina belajar pada Isa bin Yahya. Avicenna telah menguasai berbagai rahasia penyakit dan juga cara penyembuhannya. Lalu Avicenna mempratikkan ilmu yang ada di buku pada pasiennya. Dengan begitu, ilmu kedokteran Avicenna semakin meningkat hebat. Di usia yang memang sangat muda, Avicenna, telah menjadi seorang dokter yang sangat dikagumi. Avicenna merupakan dokter muda yang sangat cerdas dan rendah hati, Maksudnya, Avicenna tidak pernah serakah dengan harta benda, sebagai bukti Avicenna saat akan diberi hadia oleh pangeran yang telah ia sembuhkan ia hanya meminta agar Avicenna diperbolehkan memasuki perpustakaan kerajaan secara bebas dan sesukanya.

Avicenna merupakan dokter pertama yang menemukan cara perawatan pada pasien dengan menginjeksi obat ke lapisan bawah kulit. Avicenna juga penemu sistem pernapasan yang dimasukkan ke kerongkongan. Dia menciptakan gambar anatomi organ pernapasan dan memaparkan semua fungsinya persis seperti yang kita kenal masa kini. Avicenna mungkin juga telah menggambarkan anatomi otak, mekanisme kerjanya, sarafnya, dan kemungkinan gangguan. Dia juga membahas jenis-jenis batuk, TBC dan metode pengobatan secara rinci.

Dalam mengobati penyakit dalam Avicenna dapat membedakan antara mulas pada lambung dan mulas pada ginjal, dan Avicenna adalah orang yang pertama kali berhasil menyembuhkan dan mengobati kram pada perut yang disebabkan faktor psikologis. Tidak hanya itu, Avicenna juga bisa membedakan antara radang paru-paru dengan peradangan pada lapisan otak. Avicenna merupakan orang yang pertama mendiagnosis pneumonia dan hepatitis. Avicenna juga mengkaji secara mendalam tentang bisul atau borok pada perut.

Ibnu Sina memiliki karya yang berkaitan dengan ilmu kedokteran yang berhasil ia kaji dan masyhur hingga saat ini, yaitu al-Qanun al-Thibb (Kanun Kedokteran). Dalam buku ini ada sekitar setengah juta kata, buku ini berjilid-jilid dan membahas ilmu kedokteran dari saman kuno sampai saat itu. Dalam buku ini adalah murni pemikiran dan pandangan dari Avicenna sendiri. Contohnya, Avicenna menemukan bahwa penyakit tuberkolosis itu menular, dan penyakit itu bisa menyebar melalui tanah atau air. Lalu selanjutnya Avicenna juga menjelaskan bahwa emosi seseorang bisa mempengaruhi kesehatannya. Avicenna juga menyadari bahwa dalam saraf itu bisa menyalurkan rasa sakit dan signal konraksi pada otot. Dalam buku Al-Qanun ini juga berisi uraian tentang 760 macam obat-obatan dan sebab itulah buku ini menjadi panduan para dokter hingga saat ini.

Penutup

Ibnu Sina merupakan Bapak Kedokteran, Ia lahir pada tahun 980 M di Afsyanah, Bukhara yang sekarang menjadi Uzbekistan, Transoxiana (Persia Utara). Dia meninggal pada tahun 137 di Iran.  Avicenna adalah nama lati dari Ibnu Sina. Avicenna adalah orang yang sangat cerdas dan bijaksana.

Avicenna menghafal seluruh Al-Qur’an sebelum dia berusia lebih dari 10 tahun. Avicenna juga suka dalam mengkaji ilmu pengetahuan, ilmu alam ilmu matematika, ilmu psikologi, dana ilmu filsafat. Dalam bidang keagaman Avicenna juka mengkaji tentang Fiqh dan ilmu syariat-syariat Islam.

Avicenna menulis begitu banyak buku dalam bidang kedokteran dan filsafat. Dalam catatan sejarah, tertulis bahwa ia telah berhasil menulis sekitar 276 karya. Karyanya yang masyhur hingga saat ini adalah buku Al-Qanun Al-Thibb (Kanun Kedokteran). 

Avicenna mengkaji ilmu kedokteran pada saat ia berusia 13 tahun. Pada saat ia mendalami ilmu kedokteran Ibnu Sina belajar pada Isa bin Yahya. Avicenna telah menguasai berbagai rahasia penyakit dan juga cara penyembuhannya. Lalu Avicenna mempratikkan ilmu yang ada di buku pada pasiennya. Di usia yang memang cukup muda, Avicenna, telah menjadi seorang dokter yang sangat dikagumi. Avicenna merupakan dokter muda yang sangat cerdas dan rendah hati. Avicenna adalah dokter pertama yang merawat pasien dengan menyuntikkan obat ke lapisan bawah kulit. Ia juga penemu sistem pernapasan yang dimasukkan ke kerongkongan. Avicenna juga bisa membedakan antara radang paru-paru dengan peradangan pada lapisan otak. Dalam hal diagnosis, Avicenna ialah orang yang pertama mendiagnosis pneumonia dan hepatitis. Serta masih banyak lagi penemuan-penemuan dan diagnosis dari Avicenna yang lainnya.

Artikel kiriman dari Maulidya Ratri Azzahra, Mahasiswi Prodi Pendidikan Agama Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...