Beranda Khazanah Mengenal Ilmu Qira'at Al-Quran; Dari Definisi, Jenis dan Macam-Macamnya

Mengenal Ilmu Qira’at Al-Quran; Dari Definisi, Jenis dan Macam-Macamnya

Harakah.idIlmu qira’at al-Quran adalah ilmu yang tak kalah penting dibanding ilmu-ilmu yang lain. Bahkan, Ilmu qira’at al-Quran sampai kini masih dianggap sebagai ilmu yang cukup rumit untuk dipelajari.

Secara garis besar ilmu qira’at al-Quran adalah ilmu yang mempelajari sistem dokumentasi tertulis dan artikulasi lafal al-Quran. Hanya saja, ilmu qira’at tidak begitu populer di kalangan kaum muslim. Masyarakat muslim lebih akrab dengan  ilmu “tajwid” sebagai ilmu yang berkaitan dengan bacaan ilmu al-Quran ketimbang ilmu qira’at. Tak heran jika kebanyakan kaum muslim banyak yang tidak mengetahui “Madzhab Qira’atul Qur’an” yang dibaca setiap hari.

Definisi Ilmu Qira’at Al-Quran

Secara terminologi qira’at adalah salah satu Madzhab “aliran” pengucapan al-Quran yang dipilih oleh salah seorang Imam Qurra’ sebagai suatu madzhab yang berbeda dengan dengan mazhab lainnya. Banyak dari kalangan para Ulama yang mendefinisikan Ilmu Qira’at, oleh karena itu ada beberapa pendapat Ulama yang penting untuk diperhatikan antara lain:

  1. Abu Syamah al-Dimasqi 

Menurut Abu Syamah al-Dimasqi ilmu qira’at adalah:

عِلم القراءت علم بكيفية أداء كلمات القرآن واختلافها معزوّا لناقله

Artinya: Ilmu qira’at adalah disiplin ilmu yang mempelajari cara melafalkan kosa kata al-Quran dan perbedaannya yang disandarkan pada perawi yang mentransmisikannya.

  1. Al-Zarkasyi 

Menurut Al-Zarkasyi ilmu qira’at adalah:

القراءات هى اختلاف ألفاظ الحي المذكور في كتابه الحروف أوكيفيتها من تخفيف و تثقيل و غيرهما

Artinya: Perbedaan beberapa lafal wahyu (Al-Quran) dalam hal penulisan huruf maupun cara artikulasinya, baik secara takhfif “membaca tanpa tasydid”, tatsqil “membaca dengan tasydid”, dan lain sebagainya.  

  1. Ali Ash-Shabuni

Menurut Ali Ash-Shabuni ilmu qira’at adalah:

القراءت مذهب من مذاهب النطق في القرآن يذهب به إمام من الأئمّة القرّاء مذهبا يخالف غيره في النطق بالقرآن الكريم و هي ثابتة بأسانيد ها إلى رسول الله صلّى الله عليه وسلّم

Artinya: Qira’at adalah salah satu mazhab dari beberapa madzhab artikulasi (kosa kata) al-Quran yang dipilih oleh salah seorang Imam Qira’at yang berbeda dengan madzhab lainnya serta berdasar pada sanad yang bersambung pada Rasulullah saw.

Dari uraian di atas dapat diketahui aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi disiplin ilmu qira’at. Obyek kajian ilmu qira’at adalah al-Qur’anul al-Karim. Dari segi perbedaan lafal dan cara artikulasinya, dan epistemologinya ialah berasal dari riwayat Rasulullah saw. Sedangkan aksiologinya, untuk mempertahankan keaslian materi yang disampaikan. Hal ini dipertegas dengan pernyataan al-Zarqani di dalam kitabnya Manahil al-Irfan yang menyebutkan bahwa, nilai guna al-Quran sebagai salah satu instrumen untuk mempertahankan orisinalitas, sekaligus juga bermanfaat sebagai kunci untuk memasuki disiplin Ilmu Tafsir. 

Macam-Macam Qira’at

Dari segi jumlah, qira’at terbagi menjadi tiga, antara lain:

  1. Qira’at as-Sab’ah (qira’at tujuh) yang dinisbatkan kepada 7 (tujuh) imam qira’at yang terkenal yaitu: Nafi, Ashim, Hamzah, Abdullah ibn Amir, Abdullah ibn Katsir, Abu Amru ibn al-Ala, dan Ali al-Kassa’i.
  2. Qira’at al-Asyarah (sepuluh), qira’at yang dinisbatkan kepada imam qira’at tujuh di atas ditambah dengan 3 (tiga) imam qira’at yaitu: Abu Ja‘far, Ya‘qub dan Khalaf.
  3. Qira’at al-Arba’ah, yaitu imam qira’at yang sepuluh ditambah dengan 4 (empat) Imam qira’at yaitu: Imam Hasan al-Basri, Ibn Muhaisin, Yahya al-Yazidi dan al-Syambuzi.

Sedangkan dari segi sanad qira’at terbagi menjadi lima macam atau tingkatan berikut:

  1. Mutawatir, yaitu qira’at yang diriwayatkan oleh banyak orang (periwayat) yang tidak mungkin sepakat untuk berdusta, dan sanadnya bersambung sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Kategori ini menurut jumhur Ulama adalah qira’at sab’ah. Contohnya: QS. al-Fatihah 1:4 ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ)) Imam Ashim membacanya dengan tanwin dhammah pada huruf kaf كُ sedang yang lain membaca sebagaimana dalam teks.
  2. Masyhur, yaitu qira’at sahih sanadnya sampai kepada Rasulullah saw, tetapi tidak mencapai derajat mutawatir, hanya diriwayatkan oleh seorang atau beberapa orang yang adil dan tsiqah, sesuai dengan bahasa Arab dan sesuai dengan rasm Utsmani serta terkenal dikalangan ahli qira’at. Qira’at macam ini dapat digunakan dan boleh dibaca pada waktu shalat atau diluar shalat. Adapun bacaan al-Qur’an pada tingkatan ini adalah bacaan yang dibangsakan kepada tiga imam qira’at, yaitu Abu Ja’far ibn Qa’qa al-Madani, Ya’qub Khadrami, dan Khalaf ibn Hisyam al-Bazzar. Contoh QS. al-Fatihah 1:7  صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَYa’qub al-Hadrami membacanya dengan dhammah pada huruf mim غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمُ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ  tersebut. Sedangkan yang lain membacanya seperti yang tertulis dalam teks lafal aslinya.
  3. Ahad, yaitu qira’at yang sahih sanadnya, tetapi menyalahi (tidak sesuai) dengan rasm Utsmani dan kaidah bahasa Arab serta tidak terkenal seperti kedua tingkatan qira’at di atas. Qira’at macam ini tidak dapat digunakan dan tidak wajib meyakininya.
  4. Syaz, yaitu qira’at yang sanadnya cacat (tidak sahih) dan tidak bersambung sanadnya kepada Rasulullah saw. Qira’at ini tidak bisa dijadikan pegangan dalam membaca al-Qur’an.
  5. Maudhu’, yaitu qira’at yang tidak ada asalnya, dibuat-buat dan dinisbatkan kepada seseorang tanpa dasar. Qira’at ini juga tidak diakui keabsahannya.
  6. Mudraj, yaitu qira’at di dalamnya terdapat tambahan qira’at sebagai penafsiran al-Qur’an seperti qira’at Sa‘ad ibn Abi Waqqas  وَلَهُ اَخٌ اَوْ اُخْتٌdengan menambahمِنْ اُمٍّ  pada akhir kalimat tersebut.

Jadi macam-macam dan tingkatan qira’at di atas yang termasuk bacaan yang sahih dan boleh diamalkan bacaannya adalah qira’at mutawatir dan masyhur, sementara qira’at ahad, syadz, maudhu’, dan mudraj adalah yang tidak sahih dan tidak boleh diamalkan bacaannya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...