Beranda Fikih Hukum Pre Order (PO) Menurut Fikih, Mengenal Istihsan, Definisi, Kehujjahan dan Contohnya

Hukum Pre Order (PO) Menurut Fikih, Mengenal Istihsan, Definisi, Kehujjahan dan Contohnya

Harakah.id Salah satu sumber hukum Islam adalah istihsan. Istihsan berarti “menilai baik” atas sesuatu. Sedangkan secara istilah, terdapat perbedaan pendapat mengenai definisinya.

Salah satu sumber hukum Islam adalah istihsan. Istihsan berarti “menilai baik” atas sesuatu. Sedangkan secara istilah, terdapat perbedaan pendapat mengenai definisinya.

Pertama, tarjih ahad al-qiyasaini ‘ala al-akhar. Yaitu menilai lebih unggul salah satu hasil qiyas atas hasil qiyas yang lain.

Kedua, istitsna’ hukmin min al-qa’idah li mashlahatin li anna istimrar al-qa’idah wa tathbiqaha ‘ala ba’dh al-furu’ fihi fasad wa haraj. Artinya, mengecualikan hukum sesuatu kasus dari kaidah umum karena adanya suatu maslahat. Yaitu ketika pemberlakuan dan penerapan kaidah umum atas kasus-kasus tertentu akan berakibat pada kerusakan dan kehancuran.  

Contohnya; terjadi sebuah kasus hukum yang belum ada status hukumnya dalam syariat. Kasus ini punya dua sisi yang berbeda. Pertama, dimensi yang jelas bagi seorang mujtahid. Kedua, dimensi yang samar yang membutuhkan penjelasan hukum yang lebih detail. Seorang mujtahid tidak akan sampai pada kesimpulan tersebut kecuali setelah melakukan penalaran dan penelaahan yang mendalam. Lalu, sang mujtahid menilai lebih unggul hukum yang pada mulanya dianggap samar karena adanya argumen tertentu mengalahkan hukum yang jelas.

Misalnya, hukum Pre Order (PO) yang tergolong akad pemesanan barang. Pre order adalah sistem dimana pembeli memesan dan membayar barang terlebih dahulu, walaupun belum ada produknya. 

Akad pemesanan ini sejatinya tidak memenuhi prinsip-prinsip jual-beli syar’i. Dimana ketika terjadi akad, barang belum ada. Transaksi atas barang yang belum ada dinilai batal dalam syariat. Tetapi, dalam konteks ini, pemesanan merupakan kebutuhan mendesak. Nabi Muhammad SAW sendiri membolehkan akad semacam ini. Karena alasan inilah, akad pemesanan diperbolehkan dan dinilai sah; sekalipun pada dasarnya bila memandang kaidah umum jual-beli, ia tidak sah. Di sini terjadi dilema; antara mematuhi hukum dasar jual-beli yang sudah jelas atau mematuhi kebutuhan mendesak masyarakat (al-hajah) dan penjelasan Nabi Muhammad SAW. Ketika seorang mujtahid menilai akad pemesanan adalah transaksi yang sah, maka ia telah melakukan istihsan.   

Para ulama Islam berbeda pendapat tentang otoritas atau kehujjahan istihsan. Apakah ia dapat menjadi salah satu sumber hukum syariat atau tidak. Ada dua pendapat.

Pertama, kelompok yang menyatakan bahwa istihsan adalah salah satu hujjah syar’iyyah. Dasarnya adalah Qs. Al-Zumar: 55 dan Qs. Al-Zumar: 18. Qs. Al-Zumar: 55 mengatakan, wa ittabi’u ahsana ma anzalan ilaikum min rabbikum (Kaum beriman mengikuti perkataan yang paling baik dari apa yang diturunkan dari Tuhan mereka). Qs. Al-Zumar: 18 mengatakan, al-ladzina yastami’una al-qaula fa yattabi’una ahsanah (Yaitu orang-orang yang mendengarkan ucapa dan mereka mengikuti yang paling baik). Kedua ayat ini menyatakan bahwa kaum beriman adalah orang yang mengikuti apa yang terbaik menurut pandangan mereka. Dalam sebuah riwayat dikatakan, ma ra’ahu al-muslimun hasanan fahuwa ‘indallahi hasanun, apa yang dipandang baik oleh umat Islam, maka ia baik di sisi Allah. Pandangan ini diwakili mazhab Hanafi dan Hanbali.

Kedua, kelompok yang mengatakan bahwa istihsan bukan dalil syar’i. Ia bukan sumber hukum Islam. Menurut kelompok ini, menggunakan istihsan sama dengan menjadikan selera, hawa nafsu dan keinginan pribadi sebagai sumber hukum. Kelompok ini, diwakili oleh mazhab Syafi’i dan Maliki.  

Menurut Syekh Muhammad Mustafa Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab Al-Wajiz Fi Ushul Al-Fiqh Al-Islami, sejatinya tidak ada perbedaan di antara dua kelompok ini jika dilihat secara substantif. Karena, kedua kelompok sama-sama menggunakan istihsan, baik istilah maupun praktiknya, sebagai dasar hukum syariat. Hal ini dapat ditemui dalam kasus kasus istihsan al-maslahah, istishna’ lil mashlahah dan lainnya.

Demikian ulasan tentang istihsan, definisi, kehujjahan dan contohnya. Semoga bermanfaat.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...