Mengenal Kembali Sejarah, Identitas dan Karakter Lima Kelompok Khawarij, Mungkinkah Mereka Masih Ada Hari Ini?

0
773
Mengenal Kembali Sejarah, Identitas dan Karakter Lima Kelompok Khawarij, Mungkinkah Mereka Masih Ada Hari Ini?

Harakah.idLima kelompok Khawarij yang akan dibahas dalam kesempatan kali ini adalah pecahan kelompok dalam sejarah perkembangan sekte Khawarij. Siapa sajakah mereka, dan apa karakternya?

Lima kelompok Khawarij adalah konsekuensi historis dalam sejarah perkembangan Khawarij maupun kelompok-kelompok teologis dalam Islam.

Dalam sejarah umat Islam, terdapat kelompok bernama Khawarij. Pada mulanya, mereka adalah pengikut Ali bin Abi Thalib yang membelot. Mereka tidak setuju dengan keputusan Ali bin Abi Thalib yang menerima proses arbitrase sebagai jalan menyelesaikan persengketaan dengan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Khawarij berasal dari kharaja yang berarti keluar. Nama itu diberikan kepada mereka, karena mereka keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib. Tetapi ada pula pendapat yang mengatakan bahwa pemberian nama tersebut didasarkan pada Qs. Al-Nisa’: 100, “Keluar dari rumah lari menuju Allah dan rasul-Nya”. Kaum Khawarij memandang dirinya meninggalkan rumah dan kampung halamannya untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kaum Khawarij juga menyebut diri dengan sebutan Syurah yang berasal dari kata yasyri (menjual sebagaimana disebutkan dalam Qs. Al-Baqarah: 207, “Ada manusia yang menjual dirinya untuk memperoleh keridaan Allah.” Maksudnya, mereka adalah orang yang rela mengorbankan diri untuk Allah.

Nama lain Khawarij adalah Haruriah dari kata Harurah. Sebuah desa di dekat kota Kufah, Irak. Di tempat ini, mereka yang berjumlah 12 ribu orang berkumpul setelah memisahkan diri dari barisan Ali bin Abi Thalib. Mereka mengangkat pemimpin bernama Abdullah bin Abi Wahb Al-Rasidi, sebagai ganti Ali bin Abi Thalib. Dalam pertempuran besar melawan Ali bin Abi Thalib mereka mengalami kekalahan besar. Namun, pengikut Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam berhasil membunuh Ali bin Abi Thalib.

Sekalipun telah kalah perang, kaum Khawarij masih dapat bertahan sekalipun telah berganti penguasa. Baik pada masa Dinasti Umayyah maupun Dinasti Abbasiyah. Dalam perkembangannya, kaum Khawarij terpecah ke dalam lima kelompok besar.

Pertama, Muhakkimah. Golongan Khawarij asli dan terdiri dari pengikut-pengikut Ali bin Abi Thalib. Bagi mereka, Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, Abu Musa Al-Asy’ari, dan semua orang yang setuju pada arbitrase (tahkim) bersalah dan menjadi kafir. Hukum kafir ini kemudian belakangan diperlukan sehingga memasukkan semua Muslim yang melakukan dosa besar.

Kedua, Azariqah. Golongan ini muncul setelah kehancuran kelompok Muhakkimah. Nama ini diambil dari nama pemimpin mereka, Nafi’ bin Azraq. Azariqah mengangkat Nafi’ bin Azraq sebagai amir al-mu’minin. Nafi’ mati dalam sebuah pertempuran di Irak pada tahun 686 M. Pengikutnya mencapai 20 ribu orang. Azariqah lebih ekstim dibanding Muhakkimah. Selain mengkafirkan pelaku dosa besar, mereka juga menghukumi musyrik –istilah yang berarti lebih buruk dibanding kafir, orang yang enggan berhijrah ke wilayah yang mereka kuasai. Mereka menyebut wilayah kekuasaannya sebagai darul Islam. Wilayah di luar mereka sebut darul kufri.

Ketiga, Al-Najdat. Nama ini berasal dari nama pemimpin kelompoknya, Najdah bin Amir Al-Hanafi. Najdah dan pengikutnya berpusat di Yamamah. Pada mulanya, Najdah ingin bergabung dengan kelompok Azariqah yang mewajibkan pengikutnya berhijrah ke wilayahnya. Namun, tiga pengikut Azariqah di antaranya Abu Fudaik, Rasyid Al-Thawil, dan Atiah Al-Hanafi membelot dan mengajak Najdah membuat kelompok sendiri. Mereka menentang paham Azariqah yang menghukumi musyrik orang yang enggan berhijrah ke wilayah mereka.
 
Ketiga, Ajaridah. Diambil dari nama pemimpinnya yang bernama Abdul Karim bin Ajrad. Abdul Karim bin Ajrad adalah kawan berpengaruh Atiah Al-Hanafi. Ajaridah bersifat lebih lunak karena dalam paham mereka, hijrah bukan sebuah kewajiban yang dapat menyebabkan orang yang enggan berhijrah menjadi musyrik sebagaimana paham golongan Azariqah.

Keempat, Sufriyah. Diambil dari nama pemimpinnya, Ziad bin Asfar. Paham golongan ini hampir sama dengan kaum Azariqah yang tidak mewajibkan pengikutnya berhijrah ke wilayah mereka. Kelompok ini lebih lunak karena meyakini bahwa orang yang melakukan dosa besar tidak perlu dikafirkan. Dalam paham mereka, pelaku dosa besar dibagi dua macam. Pertama, dosa besar yang ada sanksinya di dunia seperti zina dan mencuri. Kedua, dosa besar yang tidak ada sanksinya di dunia seperti shalat dan puasa. Yang menjadi kafir hanya orang yang melaksanakan dosa jenis kedua. Daerah golongan Islam yang tidak sepaham dengan mereka bukan darul harb, yaitu daerah yang harus diperangi. Yang boleh diperangi hanya mu’askar dan pusat pemerintahan. Anak-anak dan perempuan tidak boleh dijadikan tawanan. Kufur mereka bagi menjadi dunia. Kufr bi inkar al-ni’mah, mengingkari rahmat Tuhan dan kufr bi inkar al-rububiyyah, yaitu mengingkari Tuhan. Dengan demikian, kafir tidak selamanya harus berarti keluar dari Islam.

Kelima, Ibadiah. Golongan Khawarij paling moderat. Diambil dari nama pemimpinnya Abdullah bin Ibad. Ia memisahkan diri dari golongan Azariqah. Dalam paham mereka, orang Islam di luar kelompoknya bukan mukmin dan bukan musyrik, tetapi kafir. Muslim-kafir boleh diadakan hubungan perkawinan dan perwarisan. Syahadat mereka diterima. Dan membunuh mereka haram. Daerah orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka merupakan dar al-tauhid, daerah orang-orang yang mengesakan Tuhan. Tak boleh diperangi. Kecuali pusat pemerintahan dan muaskar/militer yang mereka sebut dar al-kufr. Orang Islam yang berbuat dosa besar adalah orang yang bertauhid (muwahhid), tetapi bukan mukmin dan bukan kafir non-muslim (kafir al-millah). Sederhananya, Muslim pelaku dosa besar tidak keluar dari Islam. Saat ini, kaum Khawarij Ibadiah masih bertahan di beberapa negara seperti Zanzibar, Afrika Utara, Umman dan Arabia Selatan.