Beranda Tokoh Mengenal KH. Ali Nurdin Usman, Pengasuh Pesantren Daarussalaam Parung Bogor

Mengenal KH. Ali Nurdin Usman, Pengasuh Pesantren Daarussalaam Parung Bogor

Harakah.idSejarah awal Pesantren Daarussalaam Parung tidak dapat dilepaskan dari keluarga besar H. Usman. Khususnya, Allah yarham KH. Ali Nurdin Utsman. Pengasuh pertama sekaligus putera H. Usman.

Pondok Pesantren Daarussalaam Parung merupakan salah satu pondok pesantren yang cukup berpengaruh bagi masyarakat sekitar Parung, Bogor, Jawa Barat.

Berdiri pada tahun 1989, Pesantren Daarussalaam memiliki dua jenjang pendidikan utama setingkat SMP dan SMA.

Selain mengadakan program pembelajaran secara formal melalui Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah, Pesantren Daarussalaam Parung juga mengadakan pendidikan keagamaan melalui program madrasah diniyah dan pengajian kitab kuning.

Sejarah awal Pesantren Daarussalaam Parung tidak dapat dilepaskan dari keluarga besar H. Usman. Khususnya, Allah yarham KH. Ali Nurdin Utsman. Pengasuh pertama sekaligus putera H. Usman.

KH. Ali Nurdin dikenal sebagai seorang ulama yang berpengetahuan luas dan aktif menjadi suluh bagi masyarakat sekitar. Kebesaran Pesantren Daarussalaam Parung tidak dapat dilepaskan, secara khusus, dari ketokohan beliau di tengah masyarakat Parung, Bogor.

KH. Ali Nurdin lahir pada 10 September 1962, di Jakarta. Tepatnya di kawasan Senayan, Jakarta Pusat. Beliau adalah putera dari H. Utsman bin H. Muhammad bin H. Na’im. H. Utsman memiliki perhatian yang besar terhadap agama. Ini dibuktikan dengan dimasukkannya putera-puteri beliau ke sejumlah pondok pesantren. Termasuk Ali Nurdin muda yang dipondokkan ke Pondok Pesantren Daarurrahman, Jakarta. Selanjutnya, Ali Nurdin muda dipesantrenkan di Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang dan Pesantren Al-Arbain Al-Asyiratus Syafi’iyyah, Jakarta.

Beberapa ulama yang menjadi guru beliau adalah KH. Syukron Makmun, KH. Syafi’i Hadzami, KH. Abdurrahman Nawi, dan KH. Munfasir, Banten. Beliau juga pernah bertabaruk dengan beberapa ulama Timur Tengah, di antaranya Syaikh Wahbah Az-Zuhaili. Seorang ahli fikih dari Damaskus, Suriah.

Setelah mengikuti menjalani proses belajar yang panjang, beliau kemudian memutuskan untuk terjun ke masyarakat pada tahun 1980-an. Kiprah kemasyarakatan beliau dimulai dengan mendirikan Musalla kecil di Desa Pamegarsari, Parung, Bogor. Dari Musalla kecil inilah cikal bakal pesantren yang terkenal itu dimulai. Dakwah KH. Ali Nurdin mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Tidak heran jika beliau juga sering mendapat undangan mengisi mauizah hasanah di masyarakat sekitar. Baik dalam momentum pernikahan maupun peringatan hari besar Islam.

Selain sibuk mengajarkan kitab kuning dan menjadi pendakwah, KH. Ali Nurdin dikenal pula sebagai seorang organisatoris. Ini dibuktikan dengan keterlibatan beliau dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ketua tanfidziyah Majelis Wakil Cabang (MWC) Parung, kepemimpinan tertinggi kepengurusan NU di tingkat kecamatan.

KH. Ali Nurdin setelah berkiprah di masyarakat hampir sepuluh tahun, baru pada tahun 1999, beliau menikah. Seorang perempuan yang beruntung itu bernama Maspupah. Dari pernikahan dengan Bu Nyai Maspupah ini, KH. Ali Nurdin dianugerahi dua orang putera. Satu laki-laki dan satu perempuan.

Pada masa kepemimpinan beliau, Pondok Pesantren Daarussalaam mencapai tingkat perkembangan yang luar biasa. Hampir seribu santri memilih belajar di pondok pesantren ini. Mereka berasal dari desa-desa di lingkungan kecamatan Parung dan kecamatan di sekitar Parung, Bogor, seperti Gunungsindur dan Depok.

Pada tahun 2016, Allah SWT berkehendak lain. Bertepatan dengan 4 April 2016, Allah SWT memanggil beliau dalam usia yang relatif masih muda, yaitu 54 tahun. Kepergian beliau menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga besar Pesantren Daarussalaam. Juga masyarakat sekitar. Dikisahkan bahwa guru beliau, KH. Syukron Makmun, pengasuh PP. Darur Rahman, Jakarta, datang ke Parung untuk menshalatkan murid tercitanya. KH. Ali Nurdin Utsman dimakamkan bersama ayahanda dan keluarga besar H. Usman di komplek pemakaman Pesantren Daarussalaam, Parung, Bogor.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...