Beranda Tokoh Mengenal KH. Muhammad Yunus Utsman Parung, Pengasuh Pesantren Daarussalaam Parung Bogor

Mengenal KH. Muhammad Yunus Utsman Parung, Pengasuh Pesantren Daarussalaam Parung Bogor

Harakah.idKH. Muhammad Yunus lahir pada 28 Agustus 1965, di bilangan Senayan, Jakarta Pusat. Mendirikan Pesantren Daarussalaam, Parung, Bogor.

Pesantren ini dirintis oleh keluarga H. Utsman. Seorang juragan Betawi yang punya kepedulian terhadap dakwah Islam, khususnya di Parung. H. Untuk mendukung dakwah Islam, H. Utsman mewakafkan tanahnya di Desa Pamegarsari untuk dibangun musalla, pondok pesantren, dan lembaga pendidikan. Pondok pesantren ini kemudian hari dinamakan Daarussalaam.

Lembaga ini dipimpin dan diasuh oleh dua orang putera H. Utsman, yaitu KH. Ali Nurdin dan KH. Muhammad Yunus. Kedua kiai inilah yang merintis dan mengasuh pesantren yang berdiri pada tahun 1989 tersebut.

KH. Muhammad Yunus lahir pada 28 Agustus 1965, di bilangan Senayan, Jakarta Pusat.

Bersama 6 orang saudaranya, Abi Yunus menjalani masa kecil di Jakarta dalam lingkungan keluarga Betawi yang dekat dengan agama. Kehidupan religius semacam ini tidak hanya menjadi tradisi keluarga, tetapi juga masyarakat Betawi pada umumnya. Religiusitas ini dikembangkan lebih lanjut dalam pendidikan anak-anak H. Utsman dengan dimasukkannya anak-anak beliau ke pondok pesantren. Termasuk Muhammad Yunus muda. H. Utsman mengirimnya mengikuti pendidikan ilmu agama di sejumlah pondok pesantren. 

Tercatat bahwa Abi Yunus pernah belajar di Pondok Pesantren As-Syafi’iyyah Jakarta, Ponpes Sunanul Huda, Cikaroya, Sukabumi, Pesantren Al-Masthuriyyah Tipar, Sukabumi, Pesantren Suryalaya Tasikmalaya.

Dari berbagai pesantren Jawa Barat tersebut, dapat diketahui bahwa Abi Yunus berguru kepada sejumlah ulama, yaitu Mama KH. Uci Sanusi Cikaroya, Buya KH. Dadun Sanusi Cikaroya, Buya KH. Encep Sholahuddin Al-Ayyubi Sanusi Cikaroya, Mama KH. Masthuro Al-Masthuriyyah, KH. Endin Fachruddin Masthuro, KH. Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom) Suryalaya, dan Buya KH.  Dimyathi Pandeglang Banten.

Di antara guru beliau yang pernah penulis temui adalah Prof. Dr. KH. Mukri Aji, ulama sepuh Parung yang juga ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor. Menurut penuturan guru besar syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, Kiai Muhammad Yunus adalah muridnya dan kenal sangat dekat semasa almarhum masih hidup.

KH. Muhammad Yunus Utsman Parung mencintai para ulama. Hal ini dibuktikan dengan penamaan sebagian anaknya dengan nama ulama terkemuka, Prof. Dr. Said Agil Husain al-Munawar. Seorang habaib yang menguasai multi disiplin keilmuan Islam dan menjadi guru besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Selesai menjalani pendidikan ilmu agama bersama para ulama kharismatik di Jawa Barat, KH. Muhammad Yunus kemudian mulai berdakwah di Desa Pamegarsari, Parung, Bogor pada tahun 1985. Tujuh tahun setelah itu, KH. Muhammad Yunus menikah dengan seorang perempuan bernama Mamas Muslihat. Pernikahan ini dikarunia tiga orang anak. Dua orang laki-laki, dan satu orang perempuan.

KH. Muhammad Yunus Utsman Parung sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Baik pendidikan agama maupun ilmu pengetahuan umum. “Di dalam mendidik putra putrinya, beliau selalu mencurahkan kasih sayang dengan mengarahkan kepada pendidikan, baik umum, terlebih pendidikan agama.” Demikian penuturan narasumber kami, Said Agil Husain, yang merupakan putera Abi Yunus.

Sekalipun tidak ditemukan catatan bahwa KH. Muhammad Yunus Utsman Parung adalah pengurus organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Parung, tetapi beliau adalah salah satu pilar Ahlus Sunnah Wal Jamaah di kawasan ini. Hal ini bisa dilihat dari amalan yang beliau senangi dan ajarkan kepada murid-muridnya. Abi Yunus memiliki sejumlah wirid yang sangat beliau senangi, di antarnaya: Dzikir Asmaul Husna, Dzikir Bismillah, Rotib Al-Idrus, Rotib Al- Atthos, Rotib Al-Haddad, Sholawat Nariyyah dan Sholawat Syifa. Sampai sekarang, Rotib Al-Idrus, Al-Atthos dan al-Haddad menjadi amalan yang dilestarikan di kalangan santri pesantren Daarussalaam. Para santri biasanya membacanya setelah shalat Maghrib.

Setelah dua puluh tahun mendidik para santri dan berkiprah di masyarakat, KH. Muhammad Yunus dipanggil ke haribaan ilahi rabbi pada 13 Februari 2013. Meninggalkan tiga orang anak dan satu orang istri. Serta pondok pesantren yang masih membutuhkan keberadaan beliau. Sebagai orang yang humoris dan hangat, kepergian beliau menjadi kesedihan yang mendalam bagi banyak orang di sekitar beliau. Beliau adalah sosok yang rela mendedikasikan diri untuk memajukan agama dengan mendidik santri serta masyarakat melalui pondok pesantren.

Sumber: Lukmanul Hakim, Said Agil Husain.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...