Beranda Headline Mengenal KH. Musleh Adnan, Dai Kondang Asal Pulau Garam yang Dikenal Jenaka

Mengenal KH. Musleh Adnan, Dai Kondang Asal Pulau Garam yang Dikenal Jenaka

Harakah.id KH. Musleh Adnan adalah salah satu dai dan sosok kiai yang cukup populer di media sosial, utamanya Youtube. Selain dikenal mudah dalam menyampaikan materi, Kiai Musleh juga dikenal sebagai sosok yang jenaka.

KH. Musleh Adnan adalah seorang penceramah asal Madura yang namanya kian melintang di Madura dan daerah tapal kuda. Gaya ceramahnya yang sederhana, santai dan menghibur tapi penuh dengan nasihat-nasihat agama membuat orang-orang mudah mencerna maksud yang disampaikan sehingga banyak orang yang antusias dengan ceramah Kiai Musleh.

Dibalik kesuksesannya menjadi penceramah, awalnya Kiai Musleh tak ada maksud ataupun kepikiran untuk menjadi seorang dai. Ia hanya ingin fokus pada bidang akademis yakni menjadi dosen. Meskipun pernah mejadi dosen di Universitas Islam Madura, jalannya menjadi seorang dai ternyata lebih sukses ketimbang menjadi dosen.

Masa Sulit KH. Musleh Adnan

KH. Musleh Adnan lahir di Jember 18 Oktober 1975. Ia bungsu dari empat saudara. Kedua orang tua Kiai Musleh telah bercerai sehingga ia bersama ketiga kakaknya ikut sang Ummi. Perceraian tersebut membuat Umminya harus berperan menjadi single parent untuk keempat anaknya dan menanggung semua kebutuhan anak-anaknya. 

Segala kebutuhan menjadi sangat susah belum lagi biaya kuliah kakak-kakaknya. Sebagai anak bungsu, Kiai Musleh muda saat itu lebih memilih untuk mengalah. Ia meminta izin kepada sang Ummi untuk mondok. Pesan sang Ummi agar ia memilih pondok yang dekat dengan pertimbangan tidak memiliki biaya. Maka dipilih pondok pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo sebagai tempat acuan ia mencari ilmu (1987-1997).

Pada tahun 1987, Kiai Musleh muda menjadi santri Nurul Jadid. Disinilah ujian Kiai Musleh muda dimulai. Ia pernah berbohong kepada Umminya ketika sang Ummi bertanya perihal biaya, maka ia menjawab “tidak usah dibiayai, cukup disambung dengan doa.”

Padahal pondok pesantren Nurul Jadid adalah salah satu pondok pesantren besar di Jawa Timur. Maka biaya yang dikeluarkan pun harus mencukupi kebutuhan. Namun tak menjadi penghalang bagi Kiai Musleh muda untuk bisa menimba ilmu di pondok pesantren Nurul Jadid. Ia memutar otak untuk bisa bertahan hidup di pesantren yang dikenal dengan trilogi dan panca kesadaran santri tersebut.

Kiai Musleh muda semasa mondok sangat jarang mendapat kiriman. Meskipun dikirim uang, uang itu ia gunakan sebagai uang spp sekolah. Karena sang Ummi hanya bisa membantu biayai spp.  Untuk masalah makan, ia selalu bertanya kepada teman-teman sekamarnya “adakah yang sudah makan?” jika dirasa ada yang belum makan, ia akan menjadi juru masak dengan harapan untuk bisa numpang makan dengan teman-temannya.

Dalam pengalamannya ia pernah mengambil jatah makan ustadznya. Namanya Ustadz Abdussomad (Alm) dari Bondowoso. Ustadz Abdussomad selalu mendapat jatah makan di kantin. Jatah tersebut diambil oleh Kiai Musleh muda kemudian dibawanya ke kamar dan lagi-lagi ia hanya numpang makan. Ustadz Abdussomad adalah orang yang berjasa bagi Kiai Musleh muda semasa mondok di Nurul Jadid. Kiai Musleh muda kalau mau pulang juga numpang biaya kepada ustadz Abdussomad.   

Meskipun harus bertahan hidup dengan selalu menumpang makan dengan teman-temannya, nyatanya ia dapat bertahan hingga 10 tahun mondok di pondok pesanten Nurul Jadid. Mulai dari SLTP, SLTA hingga kuliah. Di Nurul Jadid ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1997 dan menjadi salah satu mahasiswa terbaik. 

Kemudian Kiai Musleh menikah dengan putri salah satu keluarga dari pesantren Nurul Jadid. Hingga akhirnya ia ditujuk oleh KH. Nur Khotim Zaini (Alm) untuk menjadi asisten dosen mata kuliah ilmu tafsir. 

Setelah menjadi asisten dosen, Kiai Musleh memutuskan untuk keluar dari Pondok pesantren Nurul Jadid dan membawa sang Istri ke Jember. Selang hanya lima bulan di Jember, pada tahun 1998 Kiai Musleh dan Istri berpindah ke Desa Blumbungan Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan. Hal ini karena mertuanya membutuhkan tenaganya untuk mengelola lembaga pendidikan Yayasan Al-Ghazali. 

Kemudian di tahun 2004 pindah ke Desa Plakpak Kecamatan Pegantengan Kabupaten Pamekasan. Kemudian mendirikan pondok pesantren Nahdlatul Ta’limiyah. Pondok pesantren asuhannya ini baru satu tahun didirikan. Fokus pada penghafalan Al-Qur’an. Dan santrinya masih berjumlah sekitar 100 orang. Berangkat dari kesusahannya selama di pondok, pondok ini tidak dipungut biaya dan makannya ditanggung pribadi. 

Menjadi Dai Kondang

Awal karirnya sebelum menjadi seorang dai kondang seperti sekarang ini, saat menginjakkan kaki di Pamekasan Kiai Musleh adalah seorang dosen di Universitas Islam Madura. selayaknya dosen pada umumnya ia megajar, mengisi seminar dan lainnya.

Ia juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan seperti koloman (pengajian), manaqiban, malam tanggal 11 dan lainnya. Awalnya hanya sekedar menjadi pranata acara atau Master Ceremony dan kemudian dipercayai untuk ceramah tapi dalam lingkup kecil.

Suatu ketika Kiai Musleh diberi kesempatan untuk ceramah di atas panggung dalam rangka acara maulid Nabi. Kebetulan acara tersebut tuan rumahnya adalah anggota dewan yang tertarik dengan ceramah Kiai Musleh. Sempat dikira tidak menghadiri acara oleh panitia padahal ia sudah lama datang di lokasi acara. 

Para jajaran Kiai yang hadir saat itu terheran-heran karena penceramahnya masih muda. Namun meskipun dihadapan para Kiai, Kiai Musleh mampu berceramah dengan santai dan lucu untuk mencairkan suasana. Sejak turun dari panggung tersebut, Kiai Musleh mendapat sambutan meriah. Kemudian beberapa dari hadirin meminta nomer Kiai Musleh dan itu masih berlangsung hingga saat ini. 

Dari situlah Kiai Musleh kemudian diundang dari satu tempat ke tempat lain untuk mengisi ceramah. Hingga saat ini Kiai Musleh tetap eksis sebagai penceramah baik di Madura maupun di luar Madura (daerah tapal kuda). 

Sumber: Wawancara majalah AULA edisi April 2021 berjudul “KH Musleh Adnan Pengalaman Hidup Prihatin Antarkan jadi Dai Kondang”

REKOMENDASI

Fatima Mernissi dan Sekelumit Problem Keperempuanan dalam Islam

Harakah.id - Fatima Mernissi adalah salah satu perempuan yang seringkali diacu dan dirujuk kala berbicara tentang peran perempuan dalam Islam. Dia...

Di Balik Keharamannya, Ini Sepuluh Efek Buruk Minum Khamr yang Mungkin Tidak Kamu Ketahui!

Harakah.id - Minum khamr melahirkan efek mabuk dan ngefly. Bagi sebagian orang, efek ini menjadi kenyamanan tersendiri karena dengan itu mereka...

Download Khutbah Jumat, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at

Harakah.id - Download Khutbah Jumat Juni, Hakikat Kewajiban Shalat Jum’at. Kutbah Pertama إِنّ...

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97: Kehidupan yang Baik dan Imbalan Untuk Orang yang Beriman

Harakah.id - Tafsir Surah an-Nahl ayat 97 menjelaskan perkara soal kehidupan yang baik berikut imbalan untuk orang yang beriman. Berikut penjelasannya...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...