Mengenal Kitab Adab Al-‘Alim wal Muta’allim, Karya Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari yang Wajib Jadi Pegangan Para Guru dan Murid

0
346
Mengenal Kitab Adab Al-‘Alim wal Muta’allim, Karya Hadratussyeikh Hasyim Asy'ari yang Wajib Jadi Pegangan Para Guru dan Murid

Harakah.idKitab Adab Al-‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari adalah satu kitab yang wajib jadi pegangan para guru dan murid. Di dalamnya, Kiai Hasyim berbicara banyak soal etika pendidikan.

Salah satu karya monumental yang dihasilkan oleh Kiai Hasyim Asy’ari dan masih eksis dikaji di lembaga pesantren, adalah kitab Adab Al-‘Alim wal Muta’allim. Kitab ini merupakan karya Mbah Hasyim dalam bidang pendidikan (pendidikan akhlak untuk guru dan murid), yang beliau didedikasikan untuk lembaga pendidikan, baik lembaga pendidikan pesantren maupun pendidikan non-pesantren (umum), agar dijadikan sebagai pedoman dalam proses pembentukan akhlak (pendidik dan peserta didik).

Nama Kiai Hasyim sendiri sudah tak asing di telinga kita, selain sebagai sosok kiai karismatik dan ulama kesohor dari Jawa Timur, beliau juga merupakan pendiri organisasi sosial-keagamaan terbesar di dunia, yakni Nahdlatul Ulama (NU).

Kendati sebagai ulama kesohor di Nusantara, namun selama ini tidak banyak yang mengetahui bahwa beliau adalah tokoh pemikir pendidikan Islam (pendidikan akhlak). Hal ini dapat dilacak dari perjalanan hidup beliau, di mana Kiai Hasyim tidak sekadar mendirikan pesantren dan mengajar tiap hari hingga akhir hayatnya, tetapi beliau juga menulis beberapa karangan berupa kitab, sekitar 20 karangan lebih yang sudah terlahir dari jari-jemarinya.

Dalam kitabnya (Adab Al-‘Alim wal Muta’allim), Kiai Hasyim mengupas secara lugas perihal pentingnya menuntut ilmu, menghormati ilmu dan guru. Pun juga yang tak kala pentingnya adalah: beliau memberi kiat pada kita tentang cara bagaimana suatu ilmu dapat dengan mudah dan cepat dipahami secara baik, serta memberi pencerahan perihal mencari dan menjadikan suatu ilmu benar-benar bermanfaat pada diri sendiri dan masyarakat.

Salah satu contoh yang diberikan oleh Kiai Hasyim kepada kita, bahwa ilmu akan lebih mudah diserap dan diterima tatkala seseorang yang menuntut ilmu dalam keadaan suci; dari segala kepalsuan, dengki, iri hati, akhlak tercela, dan berwudu terlebih dahulu sebelum menuntut ilmu.

Tak hanya itu, Kiai Hasyim juga menjelaskan bahwa tujuan dari sebuah ilmu pengetahuan, adalah mengamalkannya. Sebagaimana adagium yang sudah masyhur kita kenal “Ilmu yang tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari layaknya sebuah pohon yang tidak berbuah”. Dengan kata lain, menurut Kiai Hasyim buah dari suatu ilmu pengetahuan adalah dengan mengamalkan apa yang telah diperoleh dari ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Kitab Adab Al-‘Alim wal Muta’allim ini, terdiri dari 8 (delapan) bab pembahasan, yaitu; Pertama, keutamaan ilmu, si pemiliknya, dan keutamaan menyebarluaskannya (mengajarkannya). Kedua, adab (akhlak) pelajar terhadap dirinya sendiri. Ketiga, adab pelajar terhadap pendidik/orang yang berilmu. Keempat, adab seorang pelajar terhadap ilmu yang dipelajarinya. Kelima, adab orang yang berilmu terhadap dirinya sendiri. Keenam, adab pendidik/orang yang berilmu dalam proses belajar-mengajar. Ketujuh, adab seorang guru kepada murid-muridnya. Kedelapan, adab menyalin dan mengarang kitab.

Dalam kolofonnya, Kiai Hasyim Asy’ari menyebutkan jika karya ini diselesaikan pada hari Ahad, 22 Jumadil Akhir tahun 1343 Hijriah, tepatnya pada tanggal 18 Januari 1925 Masehi. Setelah beliau wafat, Adab Al-‘Alim wal Muta’allim menjadi salah satu kitab babon selain kitab Ta’limul Muta’allim karya al-Zarnuji (w. 591) yang juga diwajibkan dipelajari di pesantren.

Hal ini karena, sedari awal kitab yang beliau tulis tidak ada maksud dan tujuan lain kecuali untuk memberikan penjelasan serta pedoman perihal urgensi akhlak, baik untuk seorang guru maupun anak didik, sehingga output dari proses belajar-mengajar tidak hanya melahirkan seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan luas, namun juga memiliki akhlak mulia yang sesuai dengan nilai-nilai atau norma-norma ajaran Islam.