Beranda Keislaman Hikmah Mengenal Kitab Hikmatut Tasyri’ Wa Falsafatuhu, Menguak Makna Filosofi Syariat

Mengenal Kitab Hikmatut Tasyri’ Wa Falsafatuhu, Menguak Makna Filosofi Syariat

Harakah.id Dalam kitab ini beliau mencoba mengkombinasikan cara pandang kontemporer dan klasik. Cara pandang kontemporer dapat kita lihat dalam kasus hikmah puasa dari segi kesehatan, zakat sebagai jaminan keamanan, dan perbandingan peradilan Islam dan sekuler.

Penulisnya bernama lengkap Ali Ahmad Al-Jurjawi. Seorang pengjar di Universitas Al-Azhar, Mesir. Karangan beliau yang terkenal adalah Hikmat Al-Tasyri’ Wa Falsafatuhu.

Dalam kitab ini beliau mencoba mengkombinasikan cara pandang kontemporer dan klasik. Cara pandang kontemporer dapat kita lihat dalam kasus hikmah puasa dari segi kesehatan, zakat sebagai jaminan keamanan, dan perbandingan peradilan Islam dan sekuler.

Bila diperhatikan, corak kajian Al-Jurjawi sangat mirip dengan Al-Dahlawi. Di mana keduanya secara langsung mengkaji unsur-unsur hikmah yang terkait dengan syariat.

Walaupun Al-Jurjawi dan Al-Dahlawi tidak populer sebagai ulama ushul, namun karya mereka merupakan bentuk aplikasi kaidah maqashid yang merupakan tema khusus kajian ushul. Sangat tepat memasukkan mereka beserta karya tulis mereka dalam mata rantai maqashid.

Dengan alasan ini pula, kita dapat memasukkan karya Al-Qaffal Al-Syasyi, dan Al-Hakim Al-Tirmidzi dalam rangkaian tema maqashid.

Dalam ushul fikih, kajian tentang maqashid ini sangat terkait dengan kajian hikmah karena secara tidak langsung maqashid merupakan hikmah itu sendiri. Dengan mengetahui kesejarahan kajian maqashid, maka kita juga telah mencoba melacak segi kesejarahan kajian hikmah, terutama dalam ranah ushul fikih.

Dalam ranah ushul fikih, pada awalnya hikmah merupakan bagian dari kajian qiyas. ‘Illat yang menjadi titik temu antara dua persoalan; lama dan baru, harus mengandung hikmah-kemaslahatan.

Hal ini berdasarkan pendapat mayoritas ulama bahwa Allah tidak memberlakukan sebuah ketentuan, kecuali untuk kebaikan hamba-Nya. Kebaikan itu dapat berupa menarik sebuah kemanfaatan atau menghindarkan dari mara bahaya yang mengancam.

Menarik manfaat atau menghindarkan dari mara bahaya adalah tujuan puncak dan agung dari sebuah penerapan hukum, yang dalam bahasa sederhana disebut dengan hikmah. Namun demikian, ketika hikmah cenderung tidak pasti dan relatif, maka dibutuhkan standar pasti yang dapat menyertai sebuah hukum.

Ketika standar itu ada maka timbullah hukum, ketika standar itu hilang maka hukum juga hilang. Standar itu dikenal dengan nama ‘illat. Dengan demikian, hukum tidak lagi terkait dengan hikmah, melainkan dengan ‘illat¬-nya. Hukum akan terwujud dengan adanya ‘illat tersebut, walaupun mungkin sudah tidak lagi terdapat hikmah di dalamnya. яндекс

Namun, menurut Abdul Wahhab Khalaf, di antara syarat ‘illat yang telah disepakati para ulama adalah adanya kesesuaian antara sifat yang diplot sebagai ‘illat, dengan tujuan hukum atau hikmah.

Hal ini karena pada dasarnya, yang menjadi tujuan penetapan sebuah hukum adalah hikmah itu sendiri yang berupa menarik manfaat dan menghidarkan dari kerusakan. Sehingga sudah menjadi kewajaran, bahkan keharusan, akan adanya kesesuaian antara keduanya.

Melakukan qiyas dengan berdasar pada sifat (yang ditetapkan sebagai ‘illat) yang tidak memiliki keserasian dengan tujuan hukum dianggap tidak sah. Sifat semacam ini sering disebut sebagai sifat-sifat yang terbuang (al-aushaf al-thardiyyah). Melakukan qiyas dengan menggunakan sifat yang sesuai dengan tujuan hukum, namun ternyata dalam sebagian kasus terdapat hal baru yang merusak kesesuaian itu, maka juga dianggap tidak sah.

*Artikel ini diambil dengan sedikit perubahan dari buku Kearifan Syariat: Menguak Rasionalitas Syariat dalam Perspektif Filosofis, Medis dan Sosio-Historis. Buah pena Forum KALIMASADA, Ponpes Lirboyo, 2009.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...