Beranda Khazanah Mengenal Kitab "Pelajaran Ilmu Nahwu", Kitab Pengantar Struktur Bahasa Arab Karya KH....

Mengenal Kitab “Pelajaran Ilmu Nahwu”, Kitab Pengantar Struktur Bahasa Arab Karya KH. Abdurrahman Nawi

Harakah.id Kitab Pelajaran Ilmu Nahwu karya KH. Abdurrahman Nawi adalah satu dari sekian banyak kontribusi ulama nusantara di bidang nahwu. Mengingat pentingnya ilmu nahwu dalam proses pembelajaran di pesantren, maka kitab ini juga berperan penting sebagai pengantar yang disajikan secara populer dan ringkas.

Di dalam kitab Mukhtasor Jiddan, karya Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, dijelaskan bahwa hukum mempelajari ilmu nahwu dan ilmu bahasa Arab adalah wajib kifayah untuk suatu penduduk, dan wajib ain bagi mereka yang ingin mendalami ilmu tafsir dan hadis. Abuya KH. Abdurrahman Nawi dalam kitab Pelajaran Ilmu Nahwu, hadir untuk menjembatani mereka yang ingin mengkaji ilmu nahwu dan ilmu bahasa Arab.

Dengan terang Abuya menjelaskan dalam mukaddimahnya, bahwa tujuan dari pembuatan kitab ini adalah untuk memudahkan orang-orang yang ingin mempelajari ilmu nahwu, tetapi belum menguasai bahasa Arab. Abuya berharap kitabnya tersebut menjadi modal para pengkaji ilmu nahu untuk mempelajari ilmu tersebut di kitab-kitab berbahasa Arab.

Seperti kitab-kitab karangan Abuya lainnya, kitab Pelajaran Ilmu Nahwu ini dijelaskan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang ditulis dengan tulisan arab-melayu. Hal tersebut senada dengan apa yang Abuya harapkan dalam mukaddimahnya, yaitu untuk memudahkan mereka yang ingin belajar ilmu nahwu, namun belum menguasai bahasa Arab.

Dalam mukaddimahnya, Abuya juga menyajikan riwayat-riwayat, kaul ulama serta syair-syair perihal pentingnya mempelajari ilmu nahwu dan bahasa Arab. Di antaranya adalah:

تعلموا العربية فإنها تزيد في العقل والمروءة

“Pelajarilah ilmu bahasa Arab, maka ia dapat menambah kecerdasan akal dan keberanian.”

النحو يصلح من لسان الألكن # والمرء تكرمه إذا لم يلحن

“Ilmu nahwu itu dapat membetulkan lidah yang gagap # dan seorang itu kamu muliakan apabila ia tidak cedera (salah bacaan).”

والنحو أولى أولا أن يعلما # إذ الكلام دونه لن يفهما

“Ilmu nahwu itu ilmu, ilmu yang lebih utama (untuk) pertama kali dipelajari # Karena kalam tanpa ilmu nahu itu tidak dapat dipahami.”

كلام بلا نحو طعام بلا ملح # ونحو بلا شعر ظلام بلا صبح

“Kalam tanpa ilmu nahwu itu sama halnya dengan makanan tanpa garam # dan ilmu nahwu tanpa syair itu sama halnya dengan gelap tanpa terang.”

Di dalam kitab ini terdapat dua belas pembahasan dasar-dasar ilmu nahwu. Kedua belas pembahasan itu adalah sebagai berikut:

1. Jumlah Mufidah/Kalam, 2. Pembagian Jumlah/Kalam, 3. Pengertian Isim, 4. Macam-macam Fiil, 5. Pengertian Huruf, 6. Pembagian Isim, 7. Pengertian dan Pembagian Jamak, 8. Pengertian Isim yang lima (al-Asma al-khamsah), 9. Isim Nakirah dan Makrifah, 10. Isim yang Akhirnya Terdapat Alif dan Lam, 11. Kata Muzakkar dan Muannas.

Masing-masing dari setiap bab, Abuya memberikan sub-bab secara runtut. Mulai dari pengertian, contoh, penjelasan, kesimpulan, kaidah, latihan-latihan, hingga kosa-kata yang mesti dihafalkan oleh pembaca.

Dalam bagian Kaidah, Abuya mengutipnya dari kitab an-Nahwu al-Wadhih, karangan Syekh Ali Al-Jarim dan Syekh Mustafa Amin. Selain itu dari setiap contoh yang disajikan, Abuya selalu menyertakan artinya. Jadi selain mendapatkan pelajaran mengenai ilmu nahwu, para pembaca kitab Pelajaran Ilmu Nahwu ini juga mendapatkan kosakata-kosakata baru bahasa Arab.

Meski mengambil contoh dari kitab an-Nahwu al-Wadlih, metode penyajian materi ilmu nahwu yang digunakan Abuya dalam kitabnya itu berbeda. Bila kitab an-Nahwu al-Wadlih menggunakan metode induktif / الطريقة الإستنباطية (at-Thariqah al-Istinbatiyah), yaitu suatu penyajian materi yang dimulai dengan memberikan contoh-contoh dahulu lalu diikuti dengan kaidah serta pengertiannya. Sedangkan Abuya di dalam kitab Pelajaran Ilmu Nahwu-nya menggunakan metode deduktif / الطريقة القياسية (at-Thariqah al-Qiyasiyah), yaitu suatu metode penyajian materi yang dimulai dengan memberikan suatu pengertian materi yang akan diajarkan, lalu diikuti dengan pemberian contoh-contoh.

Kitab ini sangat cocok dipelajari oleh para pemula. Baik dari pengertian, contoh, hingga penjelasan, semua dijelaskan dan diterangkan dengan sangat sederhana oleh Abuya. Di pondok pesantren Al-Awwabin, kitab ini dipelajari oleh para santri tingkat Madrasah Ibtidaiyah hingga kelas satu Madrasah Tsanawiyah. Berbekal kitab sederhana ini, para santri mampu memahami materi-materi ilmu nahu pada kitab-kitab berbahasa Arab di jenjang yang lebih tinggi.

Sekian. Teruntuk Abuya KH. Abdurrahman Nawi, Alfatihah…

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...