Beranda Keislaman Tafsir Mengenal Konsep Badi’ Tauriyah, Bohong Tapi Tak Bohong

Mengenal Konsep Badi’ Tauriyah, Bohong Tapi Tak Bohong

Harakah.idSalah satu gaya bahasa Al-Quran adalah tauriyah. Tauriyah merupakan salah satu uslub (gaya bahasa) yang sangat dikenal dalam cara berbicara bangsa Arab. Al-Quran menggunakan gaya semacam ini dalam beberapa bagian ayatnya.

Salah satu gaya bahasa Al-Quran adalah tauriyah. Badi’ Tauriyah merupakan salah satu uslub (gaya bahasa) yang sangat dikenal dalam cara berbicara bangsa Arab. Al-Quran menggunakan gaya semacam ini dalam beberapa bagian ayatnya.   

Secara bahasa, tauriyah diambil dari kata rawwa-yurawwi-tauriyah yang berarti menempatkan di belakang atau menutupi sesuatu dengan menampilkan sisi yang berbeda. Secara istilah, para ahli memiliki definisi yang berbeda-beda. Tetapi, ada yang mendefinisikan sebagai menggunakan kata yang multi makna, tetapi pengertian yang jauh yang sebenarnya dikehendaki. Imam Al-Suyuthi (w. 911 H.) berkata dalam syair Uqudul Juman Fi Ilmil Ma’ani Wal Bayan,

وَمِنْهُ الِايْهَامُ وَيُدْعَى التَّوْرِيَهْ … وَفَضَّلُوا ذَا النَّوْعَ ثُمَّ تَالِيَهْ

إِطْلاقُ لَفْظِ شِرْكَةٍ وَيُقْصَدُ … بَعِيدُهُ فَتَارَةً يُجَرَّدُ

Di antara badi’ adalah badi’ “iham” dan disebut tauriyah # para ahli balaghah mengunggulkan jenis badi’ ini, kemudian badi’ setelahnya.

(Badi’ tauriyah adalah) mengucapkan satu kata yang multi makna dan dikehendaki # makna jauhnya, terkadang dimurnikan (dari indikator makna dekatnya)

Syekh Abdul Aziz Atiq (w. 1396 H.) dalam kitab Ilmul Badi’ berkata,

 أن يذكر المتكلم لفظا مفردا له معنيان، قريب ظاهر غير مراد، وبعيد خفي هو المراد

Seorang pembicara menyebut kata yang punya dua makna. Makna yang dekat lagi jelas namun tidak dikehendakinya. Yang jauh lagi samar namun itulah yang dikehendakinya. (Ilmul Badi’, hlm. 122)

Istilah lain untuk menyebut badi’ tauriyah adalah “iham” (إيهام), memberi persepsi yang keliru. “Taujih” (التوجيه), mengarahkan kepada sebuah pengertian yang keliru. “Takhyir” (التخيير), memberikan pilihan makna kepada pendengar. Hal ini karena, dalam gaya bahasa tauriyah ada pengertian yang sebenarnya yang dikehendaki, namun secara sengaja ingin ditutupi oleh pembicara. Ada keinginan dari pembicara agar pendengar lebih menangkap pengertian tekstualnya dibanding pengertian yang dikehendaki pembicara. Penggunaan nama lain seperti “Iham”, “Taujih” dan “Takhyir” menguatkan dugaan ini. Mungkin muncul pertanyaan, apakah penggunaan tauriyah tidak sama saja dengan berkata bohong? Ada maksud untuk “menyesatkan” pemahaman pendengar?

Jika disebut bohong, hal ini tidak terlalu benar juga. Karena, senyatanya, kata yang digunakan memiliki dua kemungkinan pengertian. Satu yang dikehendaki, dan yang lain tidak dikehendaki. Sedangkan bohong sendiri, dalam pengertian definisinya, adalah perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan (al-waqi’). Dengan menggunakan kata yang ambigu seperti dalam gaya tauriyah, seseorang berupaya menyamarkan kehendaknya, tetapi dengan cara menggunakan kata yang memiliki pengertian ambigu. Pendengar yang dalam pikirannya sudah punya pra-asumsi, bisa menafsirkan sendiri dengan dasar asumsinya itu. Di sini, pembicara tidak bisa dikatakan berbohong seratus persen.

Dalam kajian fikih, penggunaan tauriyah berbeda dengan kebohongan (al-kadzbu). Berbohong, hukum dasarnya haram. Tetapi, dalam kondisi darurat diperbolehkan. Tauriyah, bukan kebohongan, karena itu hukum asalnya adalah mubah. Demikian penjelasan para fukaha.

Lalu, mengapa orang menggunakan gaya bahasa tauriyah? Salah satunya adalah karena kondisi terdesak. Jika harus berbohong, maka bisa jadi terjatuh dalam perbuatan dosa. Tetapi, dengan menggunakan bahasa yang ambigu, seseorang tidak tergolong berdosa, tetapi tidak juga berbicara yang secara terus terang. Dengan gaya bahasa semacam ini, seseorang dapat terlepas dari tekanan.

Ada beberapa model tauriyah yang ditemukan para ulama.

Pertama, tauriyah mujarradah. Artinya, tauriyah yang tidak ada indikator yang mendukung pengertian jauh maupun pengertian dekat.

Kedua, tauriyah murasysyahah. Jenis tauriyah yang disertai indikasi yang menunjuk kepada pengertian dekat.

Ketiga, tauriyah mubayyanah. Jenis tauriyah yang disertai indikasi yang menunjuk kepada pengertian jauh.

Keempat, tauriyah muhayya’ah. Jenis tauriyah yang tidak terwujud jika tidak ada kata sebelum atau sesudahnya yang mendukung adanya tauriyah.

وَمَنْ يُهاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُراغَماً كَثِيراً وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهاجِراً إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً

Siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. An-Nisa’ : 100)

Dalam penjelasan Syekh Ibnu Asyur, dalam ayat ini terdapat tauriyah. Titik fokusnya adalah pada frasa “berhijrah di jalan Allah”.

Kata “Yuhajir” (berhijrah) yang secara tekstual berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kata “Sabil” merupakan bentuk kata yang multi makna. Bisa jadi “Fi Sabilillah” (di jalan Allah) berarti jalan secara fisik. Tetapi, bisa juga kata “Sabil” bermakna “Jalan hidup” atau “Agama Allah”. Dengan demikian, “Sabil” merupakan kata yang multi makna. Kata tersebut, nyatanya tidak mungkin dikehendaki pengertian dekatnya, yaitu “Jalan fisik”. Sekalipun ada indikasi dalam kata “Yuhajir” (berhijrah) sebelumnya. Berhijrah seakan menggiring imajinasi pendengar bahwa yang dimaksud “Sabilillah” adalah jalan fisik. Tetapi, imajinasi ini tidaklah tepat. Di sinilah, terjadi tauriyah. Menutupi makna dekat, menghendaki makna jauh. Al-Quran tidak menghendaki pengertian jalan fisik, tetapi menghendaki sabilillah sebagai agama Allah.

Dengan demikian, kita harus memaknai “Fi sabilillah” dengan “Karena melaksanakan ajaran agama Allah.”

tidak dikehendaki pengertain tekstualnya. Maksud “Sabil” dalam ayat ini adalah “Agama”. “Sabilillah” artinya “Agama Allah”. Syekh Ibnu Asyur berkata,  

وَالْمُهَاجَرَةُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ هِيَ الْمُهَاجَرَةُ لِأَجْلِ دِينِ اللَّهِ. وَالسَّبِيلُ اسْتِعَارَةٌ مَعْرُوفَةٌ، وزادها قبولا هُنَا أَنَّ الْمُهَاجَرَةَ نَوْعٌ مِنَ السَّيْرِ، فَكَانَ لِذِكْرِ السَّبِيلِ مَعَهَا ضَرْبٌ مِنَ التَّوْرِيَةِ

Berhijrah di jalan Allah adalah berhijrah untuk agama Allah. Sabil adalah bentuk isti’arah yang populer. Pengertian itu bisa lebih diterima di sini karena berhijrah adalah bentuk perjalanan. Maka menyebutkan kata sabil bersama “berhijrah” adalah bentuk tauriyah. (Tafsir Al-Tahrir Wa Al-Tanwir, jilid 5, hlm. 180).   

Jika dipotret menggunakan teori tauriyah, dalam ayat tersebut digunakan tauriyah murasyahah. Dimana dalam rangkaian kaliamat disebutkan satu kata yang mendekatkan dengan pengertian dekat. Kata “Yuhajir” adalah mendekatkan kepada pengertian dekat kata “Sabil” yaitu jalan fisik. Sekalipun jalan fisik itu ternyata tidak dikehendaki.

Dengan menggunakan tauriyah, Al-Quran ingin memberikan gambaran yang lebih kongkret tentang sebuah amalan, yaitu berpindah dari tempat ke tempat lain demi melaksanakan perintah Allah. Seperti seseorang yang sedang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya melalui sebuah jalan. Beramal itu sesuai agama Allah itu seperti meniti suatu jalan beneran.

Demikian sedikit ulasan tentang konsep badi’ tauriyah. Badi’ tauriyah merupakan salah satu gaya bahasa Al-Quran. Semoga ulasan tentang Badi’ Tauriyah ini menambah wawasan kita bersama.  

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...