Beranda Headline Mengenal Konsep Pribumisasi Islam Menurut KH. Abdurrahman Wahid

Mengenal Konsep Pribumisasi Islam Menurut KH. Abdurrahman Wahid

Harakah.idSalah satu isi dari konsep Pribumisasi Islam adalah tentang pengaplikasian nash yang berkaitan dengan budaya yang ada di Indonesia.

Nama lengkapnya adalah Abdurrahman Wahid al-Dakhil yang lebih familiar dipanggil Gus Dur. Beliau lahir di Jombang tepatnya pada bulan Agustus tanggal 4 tahun 1940. Ayahnya bernama Wahid Hasyim putra dari KH. Hasyim Asy‘ari pendiri organisasi Nahdatul Ulama (NU) yang merupakan salah satu organisasi terbesar di Indonesia.

Gus Dur anak pertama dari enam bersaudara. Ibunya bernama Hj. Sholehah putri dari KH. Bisri Syamsuri tokoh besar Nahdatul Ulama (NU) yang menjadi Rois Am Syuriah Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) setelah KH. Abdul Wahab. Secara genetik, Gus Dur memiliki garis keturunan ―darah biru menurut Clifford Gertz beliau termasuk golongan santri dan priyai.

Semenjak kecil Gus Dur oleh sang ayah memang sudah dibiasakan membaca buku, ayahnya yang menguasai berbagai macam bahasa tersebut memberikan bacaan-bacaan yang luas cakupannya tidak hanya tentang Islam akan tetapi tentang non muslim juga diberikannya untuk membuka wawasannya lebih luas lagi.

Setelah tamat SD Gus Dur melajutkan studinya ke SMP yang terletak di Jakarta. Namun di tahun pertama tidak naik kelas dikarenakan Gus Dur lebih banyak membaca buku diluar mata pelajarannya, termasuk hobi menonton bola. Sehingga pada tahun 1954 ibunya mengirim Gus Dur ke Yogyakarta agar melanjutkan studinya di SMP sambil mondok di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Setelah menamatkan Sekolahnya Gus Dur menggunakan waktunya untuk belajar di Pesantren NU seperti Pondok Tegal Rejo Magelang (1957-1959). Kemudian pindah ke Pondok Pesantren Muallimat yang ada di Tambak Beras, Jombang Jawa Timur (1959-1963). Pada tahun 1963 Gus Dur mengambil program beasiswa belajar ke Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.

Tidak lama kemudian beliau pindah ke Fakultas Seni Universitas Bagdad (1966-1977), Karena di Kairo beliau merasa tidak puas dengan sistem pembelajarannya. Di Bahgdad Gus Dur menemukan sesuatu yang sesuai dengan passionnya yang modernis. Selama di Bagdad beliau kembali bersentuhan dengan karya-karya orientalis Barat, namun beliau juga mendalami ajaran tasawuf Imam Junaid al-Bahgdadi, salah satu pendiri aliran tasawuf yang diikuti oleh mayoritas jamaah NU.

Di sinilah Gus Dur menemukan sumber spritualnya. Selepas dari Bahgdad Gus Dur melanjutkan studinya ke Eropa, karena kemampuannya menguasai berbagai macam bahasa, kemudian beliau tinggal di Belanda selama kurang lebih enam bulan kemudian mempelopori pendirian perkumpulan pelajar muslim Malaysia dan Indonesia yang ada di Eropa.

Pada tahun 1971 perjalanan studi Gus Dur berakhir. Beliau kembali ke Jawa dan memulai kehidupan yang baru yaitu kembali kedunia pesantren. Dari tahun 1972-1974. Beliau dipercaya menjadi dosen/pengajar dan menduduki jabatan dekan fakultas ushuluddin Universitas Hasyim Asy‘ari Jombang. Tahun 1974-1980 diberi amanat untuk menjadi sekretaris umum Pesantren Tebuireng Jombang.

Pemikiran-pemikiran Gus Dur

Gus Dur yang merupakan sosok cerdas dan berwawasan luas mengajukan pembaruan Islam dengan menegaskan keharusan Islam untuk menerima pluralitas situasi lokal, serta mengakomodasikannya. Dalam konteks agenda-agendanya untuk mempertimbangkan situasi lokal tersebut, Gus Dur menyuarakan banyak gagasan fenomenal salah satunya adalah konsep Pribumisasi Islam. Salah satu isi dari konsep Pribumisasi Islam adalah tentang pengaplikasian nash yang berkaitan dengan budaya yang ada di Indonesia.

Mengembangkan Aplikasi Nash

Karena adanya prinsip-prinsip yang keras dari hukum Islam, maka adat tidak bisa mengubah nash itu sendiri melainkan hanya mengubah atau mengembangkan aplikasinya saja, dan memang aplikasi itu akan berubah dengan sendirinya. Misalnya, Nabi tidak pernah menetapkan beras sebagai benda zakat, melainkan gandum. Lalu ulama yang mendefinisikan gandum sebagai qutul balad, makanan pokok. Dan karena definisi itulah, gandum berubah menjadi beras untuk Indonesia.

Sebagai contoh di dalam sebuah musyawarah ulama terbatas muncul soal sterilisasi. Pertanyaan mendasar pun muncul tentang pemilik hak menciptakan anak. Tuhankah atau manusia? Jawaban yang diberikan adalah bahwa hak menciptakan anak dan meniupkan ruh dalam rahim adalah milik Tuhan, sebagai tanda kekuasaan-Nya.

Karena itu semua bentuk intervensi terhadap hak ini, yaitu dalam bentuk menghilangkan kemampuan seorang ibu untuk melahirkan, berarti melanggar wewenang Tuhan. Dengan demikian mafhum mukhalafah (implikasi kebalikannya) adalah diperbolehkannya pembatasan kelahiran dengan cara membuat sterilisasi yang tidak permanen. Dengan demikian pula, melaksanakan vasektomi yang oleh dokter dijamin akan bisa dipulihkan kembali, tanpa mempersoalkan persentase jaminan itu, hukumnya diperbolehkan.

Sebuah hadis Nabi memerintahkan umat beliau agar memperbanyak pernikahan dan kelahiran, karena di hari kiamat beliau akan membanggakan mereka di hadapan nabi-nabi yang lain. Pada mulanya, kata “banyak” dipahami sebagai jumlah, karena itu memang zaman penuh kesulitan dalam memelihara anak. Dengan tingginya angka kematian anak, maka ada kekhawatiran bahwa jumlah umat Islam akan dikalahkan oleh jumlah umat yang lain.

Akan tetapi alasan demikian pada saat ini tidak bisa dipertahankan lagi, ketika penonjolan kuantitas sudah tidak dibutuhkan. Jumlah anak yang terlalu banyak justru akan menimbulkan bahaya, ketika kemampuan masyarakat untuk menampung mereka ternyata tidak memadahi. Maka terjadilah perubahan, ukuran-ukuran itu dititikberatkan pada kualitas. Sejumlah kaidah fiqh pun ikut terlibat. Dalam kasus tersebut jelas telah dipergunakan kaidah dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil-mashalih (menutup kemungkinan bahaya harus didahulukan sebelum upaya memperoleh kemaslahatan).

Apa yang disebut dengan islamisasi pada umumnya barulah pada arabisasi budaya, yaitu semakin banyaknya dipakai terminologi Arab yang berasal dari nash. Sebutan ‘saudara-saudara’, ‘kelompok’ atau ‘kolega’ diganti dengan ‘ikhwan’. Istilah ‘sembahyang’ yang telah berabad-abad dipakai di negeri ini yang sebenarnya telah berkonotasi Islam, walaupun kata itu sendiri berasal dari ‘nyembah Sang Hyang’, diganti dengan ‘shalat’, sambil berpendirian bahwa sembahyang bukanlah shalat. Dan ‘langgar’ pun diubah menjadi ‘mushala’. Hal-hal yang bersifat ’embel-embel’ malahan menjadi perhatian pokok. Kecenderungan ini akan berlanjut terus selama proses identifikasi diri kaum muslimin belum terselesaikan dengan baik.

Konsep Pribumisasi Islam tersebut dipakai Gus Dur sebagai usaha untuk melaksanakan pemahaman terhadap nash atau ayat-ayat al-Quran yang dikaitkan dengan masalah-masalah di Indonesia. Upaya ini dilakukan untuk merekonsiliasi antara budaya lokal dan agama.

Titik tolak dari upaya rekonsiliasi ini menuntut agar wahyu dipahami dengan mempertimbangkan faktor-faktor kontekstual termasuk kesadaran hukum dan rasa keadilannya. Dengan demikian, Pribumisasi Islam gagasan Gus Dur adalah bagaimana mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal di dalam merumuskan hukum-hukum agama, tanpa mengubah hukum itu sendiri.

Gus Dur menegaskan bahwa Pribumisasi Islam bukan dimaksudkan sebagai upaya Jawanisasi atau sinkretisme. Dalam proses Pribumisasi ini, pembauran antara agama dan budaya tidak boleh terjadi, karena akan menghilangkan sifat-sifat asli agama. Al-Quran dalam bershalat harus tetap dalam bahasa Arab, karena hal ini telah merupakan norma.

Terjemahan al-Quran hanyalah dimaksudkan untuk mempermudah pemahaman, bukan menggantikan al-Quran itu sendiri. Oleh karena itu, Pribumisasi Islam bukan upaya meninggalkan norma demi budaya, tetapi agar norma-norma itu menampung kebutuhan-kebutuhan budaya dengan mempergunakan peluang yang disediakan oleh variasi pemahaman nash, dengan tetap memberikan peranan kepada fiqih dan ushul fiqh.

Pernyataan di atas dapat dipahami bahwa Pribumisasi Islam merupakan kesadaran akan penghargaan dan akomodasi atas kebutuhan lokal di dalam perumusan hukum Islam.

Oleh karena itu, Pribumisasi Islam bukan upaya meninggalkan norma demi budaya melainkan akomodasi kebutuhan budaya melalui metode pengembangan penafsiran atas nash yang sesuai dengan kebutuhan realitas yang telah disediakan oleh fiqh dan ushul fiqh. Untuk mempertahankan terwujudnya proses Pribumisasi Islam tersebut, Gus Dur memberikan dua alasan

Pertama, alasan historis. Bahwa Pribumisasi Islam merupakan bagian dari sejarah Islam, baik di negeri asalnya maupun di negeri lain, termasuk di Indonesia. Proses interaksi Islam dengan realitasrealitas historis tidak akan mengubah Islam itu sendiri, tetapi hanya akan mengubah manifestasi agama Islam dalam kehidupan.

Kedua, proses Pribumisasi Islam terkait erat antara fiqih dan adat. Dalam kaidah fiqih dikenal, misalnya al-’adat muhakkamah (adat istiadat bisa menjadi hukum). Namun perlu diingat bahwa adat tidak dapat mengubah nash, melainkan hanya mengembangkan aplikasinya saja.

Artikel kiriman dari Siti Zahrotul Hayati, Mahasantri Putri International Institute for Hadith Sciences Darus-Sunnah Jakarta.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...