Beranda Sejarah Mengenal Lebih Dekat Sistem dan Model Pemerintahan Dinasti Umayah

Mengenal Lebih Dekat Sistem dan Model Pemerintahan Dinasti Umayah

Harakah.id Dinasti Umayah menjadi salah satu penguasa di dunia Islam yang paling banyak dibicarakan dalam kitab Tarikh. Berumur sekitar seratus tahun, bagaimana sistem dan model pemerintahan Dinasti Umayah? Apa yang menyebabkan sistem dan model pemerintahan Dinasti Umayah runtuh?

Sistem dan model pemerintahan Dinasti Umayyah berdiri setelah Muawiyah bin Abi Sufyan, sang khalifah pertama Umayyah, memindahkan ibukota negara dari Madinah ke Damaskus. 

Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, dalam karyanya berjudul “As-Syiyasah As-Syariyah fi Islah Ar-Ra’iyah”, menyebutkan sistem pemerintahan Islam yang ada pada masa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun yang bersifat demokrasi berubah menjadi monarki heredetis, atau kerajaan turun temurun, setelah Muawiyah naik tahta. Sistem kepemimpinan turun temurun diduga kuat mengadopsi dari sistem kepemimpinan era pra Islam Timur Tengah. 

Bukti suksesi kepemimpinan  turun temurun dimulai ketika,  Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya, untuk menyatakan setia pada anaknya, Yazid. Tidak ada lagi kepemimpinan berdasar musyawarah di masa Daulah Umayyah, yang ada jabatan khalifah diwarisi oleh anggota keluarga Umayyah di luar angggota keluarga.  Tidak ada lagi kesempatan menjabat khalifah. Inilah  yang menjadi cirikhas Dinasti Umayyah. 

Ciri-ciri Khalifah Dinasti Umayyah

Metode pemilihan khalifah yang dilakukan Bani Umayyah, menurut Nourouzzaman Shiddiqie,  dalam bukunya berjudul,  “Pengantar Sejarah Muslim”,   yaitu: menggelar rapat yang terdiri dari anggota-anggota keluarga Bani Umayyah termuka. Pemilihan khalifah berdasar seorang yang  kuat dan berpengaruh dipastikan terpilih, tetapi putera mahkota yang terpilih bisa saja disingkirkan. 

Jika khalifah wafat, maka putera mahkota pertama yang menduduki jabatan khalifah, sedang khalifah kedua naik menjadi putera mahkota yang pertama. Putera mahkota kedua yang kosong kemudian dipilih lagi lewat rapat keluarga besar Bani Umayyah. Sistem dua putera mahkota ini sering terjadi sengketa keluarga di kalangan Dinasti Umayyah. 

Ciri-ciri khusus  khalifah di masa Kekhalifahan Umayyah sebagai berikut:

  1. Khalifah adalah jabatan sekuler, 
  2. Khalifah berfungsi sebagai kepala pemerintahan eksekutif, 
  3. Kedudukan khalifah sama seperti  kedudukan kepala suku menurut tradisi Arab, 
  4. Tulang punggung negara, adalah:orang-orang berdarah Arab, sedang kaum Muslimin non Arab (Mawali) tidak mendapat kesempatan, 
  5. Hakim atau qadli mempunyai kebebasan dalam memutuskan perkara, 
  6. Pengelolaan pemerintahan negara ialah Byzantium. 

Dari ciri-ciri khalifah ini dapat dilihat orang-orang yang berada di luar garis keturunan Muawiyah, tidak memiliki ruang, dan kesempatan, sebagai pemimpin. Hal ini, akibat sistem dinasti hanya untuk kekhalifahan dipimpin oleh keturunannya. Cara hidup para khalifah Umayyah disebut jauh meninggalkan cara hidup Muhammad SAW yang terkenal hidup sederhana, menjadi imam masjid, sebagai orang biasa. Sebagian besar para khalifah bergaya hidup bergelimang harta mewah, senang berfoya-foya, Mereka mengadopsi tradisi sistem kerajaan pra Islam di Timur Tengah, yaitu;  menjaga jarak dengan rakyat, karena tinggal di istana yang megah dikelilingi para pengawal dan memiliki kekuasaan mutlak

Sistem pemerintahan yang demikian itu mengundang kritik keras, terutama datang dari golongan Khawariji dan Syiah. Tidak heran, para khalifah Bani Umayyah kerap kali terlihat sibuk menekan kelompok oposisi. Mereka juga terkenal fanatisme terhadap Bahasa Arab yang digunakan sebagai bahasa resmi. Fanatisme terhadap bahasa Arab begitu tinggi  membuat mereka memandang rendah orang non Arab. Kondisi tersebut menimbulkan kebencian penduduk non Muslim kepada Bani Umayyah. 

Konsolidasi terus dilakukan oleh para khalifah dalam mempertahankan keamanan, dan antisipasi terhadap setiap gerakan pemberontakan, karena khawatir dengan berakhirnya kekuasaan. Setidaknya ada 5 diwan yang menompang suksesnya konsolidasi yang dilakukan Muawiyah, yaitu: Urusan kemiliteran, urusan administrasi dan surat, urusan keuangan, urusan pos, serta urusan dokumentasi. 

Gubernur di era dinasti Umayyah berperan penting dalam bidang pemerintahan. Pada masa pemerintahan  Hisyam bin Abdul Malik, seorang gubernur mempunyai wewenang penuh dalam hal administrasi politik dan militer dalam provinsinya. Di masa itu, gubernur Irak, Hajjaj bin Yusuf melakukan perbaikan sistem irigasi dari air sungai Trigis dan Eufrat ke seluruh pelosok negeri Irak. 

Kemajuan yang dicapai Dinasti Umayyah tidak disukai oleh kelompok-kelompok yang merasa puas terhadap pemerintahan Umayyah, seperti: Khawarji, Syiah dan Mawali. Tidak ada kejelasan sistem dan ketentuan pergatian khalifah menjadi penyebab ketidakpuasan tersebut. 

Kedua belah di antara keluarga kerajaan  saling bersaing secara tidak adil dan berebut dalam pemerintahan memicu adanya konflik. Selain itu, gaya hidup yang glamour, mewah sebagian keluarga di lingkungan khalifah membuat mereka tidak mampu menanggung beban negara yang berat. Konflik antar etnis atau suku Arab (Bani Qays) dan Arab Selatan (Bani Kalb) menjadi faktor penyebab keruntuhan Dinasti Umayyah. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...