Beranda Keislaman Tafsir Mengenal Muhammad Syahrur, Pakar Pondasi Bangunan yang Menyusun Teori Tafsir Kontemporer Nan...

Mengenal Muhammad Syahrur, Pakar Pondasi Bangunan yang Menyusun Teori Tafsir Kontemporer Nan Kontroversial

Harakah.id Mengenal Muhammad Syahrur, pakar pondasi bangunan yang teori tafsirnya seringkali menunai perdebatan. Kontroversi dan keunikan yang ditimbulkan dari Muhammad Syahrur bukan tanpa alasan. Banyak yang menganggap teori tafsirnya menyalahi dan melangkahi kaidah tafsir umum yang sudah dirumuskan para mufassir.

Mengenal Muhammad Syahrur bisa dimulai dari fakta bahwa dia adalah seorang teknokrat sekaligus Guru besar di Bidang Teknik Sipil. Dilahirkan dari keluarga asli Damaskus pada 11 April 1938, Muhammad Syahrur al-Dayyub hidup dan tumbuh di dalam sebuah keluarga yang mentradisikan berpikir kritis dalam beragam. Apa yang akan dipikirkannya kelak mengenai konsep pembacaan al-Qur’an, dekonstruksi Sunnah dan Fiqih, adalah ekses yang sejatinya terbentuk sejak Syahrur kecil.

Salah satu pembentuk model berpikir dan sikap keberagamaan Syahrur adalah ayahnya sendiri. Beberapa literatur menggambarkan bahwa ayah Syahrur adalah sosok yang memiliki keterbukaan wawasan dan sadar bahwa realitas kehidupan itu bergerak.  Hal yang sama juga diakui oleh Syahrur, yang menyebutkan bahwa ayahnya-lah yang pertama kali mengajarkan bahwa beragama harus beriringan dengan pemahaman dan ketundukan kita pada konteks realitas yang membentuknya, alam semesta dan segala hal yang bergerak dalam kosmos. Syahrur ingat, ayahnya sering berkata, “kalau kamu kedinginan, jangan baca al-Qur’an, tapi nyalakan api di tungku pembakaran!”

Baca Juga: Mufassir Perempuan yang Amat Langka Itu Bernama Aisyah Bintu Syathi’

Secara formal Syahrur memang tidak melalui pendidikan yang fokus pada kajian keislaman (islamic studies). Konsentrasinya adalah bidang teknik, sampai akhirnya dia mendapat gelar doktor di Bidang Mekanika Pertanahan dan Fondasi (Mikanika Turbat wa Asasat). Status pendidikan Syahrur inilah yang seringkali dijadikan obyek kritik oleh para kritikusnya, khususnya ketika ada satu pendapat Muhammad Syahrur yang tidak sesuai dengan apa yang dipahami selama ini.

Namun bukan berarti Syahrur tidak pernah mengenyam pendidika agama. Sebagai seorang Muslim yang hidup di Damaskus, setidaknya Syahrur menguasai beberapa ilmu dasar yang kelak dijadikannya bekal untuk menafsirkan al-Qur’an. Selain fasih berbahasa Arab, Muhammad Syahrur juga menguasai Bahasa Inggris dan Rusia. Pandangan keagamaannya semakin kental kala Rusia menjadi tempat perantauannya untuk mendalami ilmu teknik. Syahrur merasakan ada gejolak, baik secara teologis maupun sosiologis, dengan sebuah pemandangan masyarakat yang memiliki kultur begitu berbeda dengan dirinya.

Perjalanan intelektualnya di Moskow adalah periode yang mengantarkan Syahrur berkenalan dengan teori-teori dan konsep Marxisme. Ia juga mulai akrab dengan tradisi kajian strukturalisme linguistik yang digagas Ferdinand de Saussure. Perhatiannya terhadap bidang teknik, tidak mengahalanginya untuk mendalami disiplin ilmu lain seperti: filsafat, linguistik al-Qur’an, studi agama, dan lainnya. Perhatiannya pada kajian al-Qur’an pun semakin besar setelah bertemu dengan Ja’far Dakk al-Bab di Irlandia, rekan satu almamater sekaligus teman seprofesinya sebagai dosen di Universitas Damaskus. Sebagai seorang yang ahli dalam kajian linguistik, Syahrur banyak belajar darinya.

Baca Juga: Teori Kutu Ala Gus Baha’ Ini Menjelaskan Tentang Apakah Bumi Itu Bulat atau Datar

Dari ulasan di atas bisa dilihat bagaimana intelektualitas Muhammad Syahrur sejatinya dibangun oleh dua unsur yang membentuk subyektifitasnya sebagai seorang pemikir; pertama Syahrur sebagai seorang Muslim dan Damaskus, yang kedua Syahrur sebagai seorang teknokrat. Kedua unsur ini saling mengisi dan mendorong Syahrur untuk menemukan satu pola pembacaan khusus terhadap al-Qur’an. Dari statusnya sebagai seorang Muslim Damaskus dan teknorat yang mengenyam pendidikan di Rusia sekaligus, maka lahirlah model pembacaan ala Syahrur yang dikenal hari ini, yang mengakomodasi teori-teori bahasa, sosial, sains dan lain sebagainya. Beberapa teorinya yang cukup populer antara lain: teori limit, differensial, integral, ta’wil ilmi dan termasuk yang paling populer adalah teori teori limit-matematis (nazariyat al-hudud).

Perpaduan minat intelektual Syahrur dalam bidang sains dan al-Qur’an mempengaruhi dan membentuk pola pikir, serta pilihan metodologi Shahrur dalam memahami teks-teks keagamaan (khususnya Al-Qur’an, Hadis, dan Fiqh). Dalam beberapa teori penafsiran al-Qur’an yang digunakannya, Shahrur terlihat memainkan kemahirannya dalam bidang sains, bahkan membentuk teori tafsir baru yang memadukan analisis sains dan tafsir. Beberapa teorinya banyak dikenal dalam studi al-Qur’an, seperti:

Dengan gagasan dan teori yang dimunculkan, pakar di bidang teknik sipil ini pada akhirnya tercatat sebagai pembaru kajian Al-Qur’an dan keislaman, baik secara teoritis maupun praksis. Karya yang dihasilkan dari “proyek” pembaharuan pemikiran keislaman kontemporer antara lain: 1) al-Kitab wa al-Qur’an: Qira’ah Mu’asirah (al-Kitab dan al-Qur’an: Pembacaan Kontemporer). 2) Dirasat Islamiyyah Mu’asirah fi al-Daulah wa al-Mujtama’ (Kajian Islam Kontemporer tentang Negara dan Masyarakat), berisi gagasan seputar tema-tema sosial dan politik terkait dengan persoalan warga negara (civil society) maupun Negara.

3) Al-Islam wa al-Iman: Manzumat Al-Qiyam (Islam dan Iman: Aturan-aturan Pelaksanaan), gagasan yang mencoba mendekonstruksi konsep klasik mengenai pengertian dan pilar-pilar (arkan) Islam dan Iman. 4) Nahwa al-Usul al-Jadidah li al-Fiqh al-Islami [Fiqh Almar’ah: al-Wasiyyah, al-Irts, al-Qiwamah al-Ta’addudiyah, al-Libas (Asas-asar baru untuk fikih Islami, fikih perempuan: wasiat, warisan, perwalian, pakaian), kitab adalah manifestasi pemikiran Ushul Fiqih Shahrur yang dipandang dari sudut feminisme. 5). Tajfif al-Manabi’ al-Irhab. Kitab ini berisikan kritikan dan bantahan Shahrur terhadap pembacaan al-Qur’an ditemuinya. Ia banyak membantah penafsiran konsep-konsep kunci dalam al-Qur’an yang ditawarkan oleh kalangan Islam radikal dan kelompok skripturalis-literalis.

Baca Juga: Mengenal Muhammad Rashid Ridha dan Kitab Tafsir Al-Manar

Dan terakhir, 6) The Qur’an, Morality, and Critical Reason: The Essential Muhammad Shahrur (Qur’an, Moral, dan Alasan kritis: pikiran-pikiran inti Muhammad Shahrur). Buku yang diselesaikan atas bantuan dari Andreas Chrisman ini berisikan percikan pemikiran Syahrur, mulai dari masalah iman dan Islam, sunnah Nabi, wahyu, teori batas, kedudukan perempuan dalam hukum Islam dan masalah politik Islam.

Inilah hal-hal yang harus diketahui untuk mengenal Muhammad Syahrur, seorang teknorat pakar teknik sipil yang menulis teori tafsir.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...