Mengenal Muslim Ibnu Khalid Al-Zanji, Orang yang Berada di Balik Kesuksesan Imam Syafi’i

0
Imam Syafi'i belajar kepada Muslim Ibnu Khalid di Mekah. Jasa terbesar Muslim Ibnu Khalid adalah mendidik Imam Syafi'i dalam ilmu fiqh.

Nama lengkap beliau adalah Muslim Ibnu Khalid Ibnu Muslim Al-Qurasyi Al-Makhzumi. Beliau sebenarnya berasal dari Syam, kemudian digelari dengan Al-Zanji karena warna kulit beliau yang kemerah-merahan. Beliau merupakan seorang ulama besar pada masanya, digelar sebagai mufti dan imamnya negeri Mekah. Konsentrasi keilmuan beliau lebih didominasi oleh kajian fikih dibandingkan kajian hadis. Beliau wafat pada tahun 179 H di Mekah.

Muslim Ibnu Khalid termasuk kategori Tabi’ut Tabiin. Beliau berguru pada beberapa tokoh tabiin besar Mekah seperti Atha’, Mujahid, ‘Ikrimah dan Ibnu Juraij.

Muslim Ibnu Khalid adalah guru Imam Syafi’i saat di Mekah. Di antara guru-guru di Mekah saat itu, Imam Syafi’i paling intens bermajelis dengan Muslim Ibnu Khalid Al-Zanji. Bahkan jika dibandingkan dengan Ibnu ‘Uyainah sekalipun. Tidak heran jika Imam Nawawi ketika menjelaskan profil Imam Syafi’i dan guru-guru beliau, nama Muslim Ibnu Khalid disebutkan pertama sebelum nama Imam Malik. Hal ini menyiratkan bahwa peran Muslim Ibnu Khalid dalam karir keilmuan Imam Syafi’i tidak kalah dibandingkan peran Imam Malik, atau malah dapat dikatakan lebih besar.

Peran besar Muslim Ibnu Khalid tentu bukan dengan mengajarkan tema-tema masail fikih yang pelik, karena interaksi keduanya tentu terjadi saat Imam Syafi’i masih sangat muda dan berada dalam fase awal belajar. Peran besar beliau adalah sebagai pendidik dan pengarah kepribadian dan karakter Imam Syafi’i hingga dapat menjadi ulama besar di kemudian hari.

Al-Baihaqi menyebutkan sebuah keterangan dari Imam Syafi’i bahwa Muslim Ibnu Khalid adalah orang yang sangat keras sejak awal mengarahkan Imam Syafi’i untuk giat mengkaji fikih dibandingkan ilmu-ilmu yang lain. Muslim Ibnu Khalid berkeyakinan suatu hari Imam Syafi’i akan menjadi seorang faqih besar. Pada awalnya Imam Syafi’i sangat tertarik untuk fokus mendalami bahasa Arab dan beliau juga sangat berbakat dalam bidang itu. Imam Sayfi’I bahkan sampai hidup dan bergaul bersama orang-orang Arab Badui agar terbiasa bicara dengan kefasihan dan kemurnian bahasa Arab. Setelah mendengar nasihat gurunya tersebut, Imam Syafi’i mengubah tujuan belajar bahasa agar itu dapat menjadi perangkat mempelajari ilmu fikih.

Muslim Ibnu Khalid juga telah memberi izin Imam Syafi’i untuk berfatwa sejak usia beliau 15 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa Muslim Ibnu Khalid benar-benar memproyeksikan Imam Syafi’i agar kelak menjadi mujtahid (ahli hukum Islam). Pengalaman ini sangat besar pengaruhnya dalam diri Imam Syafi’i, sebelum kemudian Imam Syafi’i pindah ke Madinah dan Iraq untuk belajar bersama guru-guru yang lain. Jika mengacu pada keterangan beliau meninggal pada tahu 179, dapat disimpulkan beliau meninggal saat Imam Syafi’i berusia 29 tahun.