fbpx
Beranda Keislaman Akhlak Mengenal Nabi Muhammad, Sang Cahaya Purnama Kekasih Tuhan

Mengenal Nabi Muhammad, Sang Cahaya Purnama Kekasih Tuhan

Harakah.id Banyak yang mengaku cinta pada Nabi Muhammad SAW. Namun, nyatanya hanya sedikit yang membuktikan cintanya, dan selebihnya hanya sekadar mengaku saja.

Banyak yang merasa sudah kenal dengan Nabi Muhammad SAW. Namun, nyatanya hanya sedikit yang benar-benar mengenalnya, dan selebihnya hanya merasa saja. Sama halnya, banyak yang mengaku cinta pada Nabi Muhammad SAW. Namun, nyatanya hanya sedikit yang membuktikan cintanya, dan selebihnya hanya sekadar mengaku saja.

Selama ini, mungkin kita hanya sekadar kenal Muhammad adalah hamba dan rasul Allah. Namun, tak pernah benar-benar mengenal sosok Nabi Muhammad SAW. Kita harus menyadari ini, sehingga keinginan untuk benar-benar mengenal Nabi Muhammad SAW akan muncul.

Rasanya sungguh merupakan sebuah penyesalan, bila dalam hidup ini tak mengenali sosok manusia sempurna–Nabi Muhammad SAW–yang purnama pun malu padanya, sebab cahaya wajahnya mengalahkan indahnya cahaya purnama.

“Cahaya Purnawa Kekasih Tuhan”, demikian judul buku yang merupakan terjemahan dari kitab “Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin” karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Sebagaima judulnya, buku ini menyajikan gambaran Nabi Muhammad SAW–sosok manusia sempurna yang cahayanya melebihi purnama. Buku yang sangat cocok untuk kita yang mau mulai belajar benar-benar mengenal Nabi Muhammad SAW.

Semua orang tahu bahwa Nabi Muhammad SAW adalah keturunan Nabi Ibrahim AS. Namun, hanya sedikit yang tahu nasab Nabi SAW sampai ke Nabi Ibrahim.

Dalam buku “Cahaya Purnawa Kekasih Tuhan”, Kiai Hasyim mengenalkan nasab Nabi Muhammad SAW: Sayyidina Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushoy bin Kilab bin Murroh bin Ka’ab bin Lu’ai bin Gholib bin Fahr bin Malik bin an-Nadlir bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhor bin Nizar bin Ma’d bin Adnan.” Adnan adalah putra Nabi Ismail as. Dan Nabi Ismail as adalah putra Nabi Ibrahim as.

Nabi Muhammad SAW merupakan manusia yang sangat baik akhlaknya pada istri-istri dan keluarganya. Tak pernah melepas tangan–memukul–istri-istrinya, bahkan sekadar membentak pun tidak pernah. Beliau selalu memuliakan istri-istrinya.

Manusia mulia yang suka mengenakan pakaian warna putih ini, sangat sederhana dalam hidup. Tak suka berlebih-lebihan. Selalu membantu orang yang membutuhkan, sekali pun Nabi SAW sendiri dalam keadaan membutuhkan. Makan dengan amat sederhana, dari memulai makan dengan Basmalah dan makan pakai tangan–tanpa sendok. Tak pernah mencela makanan, dan tak pernah makan dengan berlebihan.

Abu Hurairah RA berkata: “Rasulullah SAW keluar dari dunia dan perut beliau belum pernah kenyang dengan roti gandum. Pernah selama satu bulan atau dua bulan di salah satu rumah beliau tidak menyala api dapurnya. Beliau mau memakan hadiah dan tidak mau memakan sedekah, dan membalas hadiah itu. Beliau pernah menyengkal perutnya dengan batu karena lapar, dan pernah bermalam bersama keluarganya selama beberapa malam dengan keadaan lapar.”

Membaca perkataan Abu Hurairah ra ini, saya seakan merasa ditampar. Betapa selama ini terlalu berfoya-foya, makan berlebihan, tapi kok pede amat mengaku paling mencintai Nabi SAW. Padahal hidup sangat jauh dari teladan hidupnya Nabi SAW.

Nabi Muhammad SAW adalah pembela kemanusiaan yang sangat pantas bicara membela penderitaan orang-orang miskin. Sebab, walau Nabi SAW kaya, namun memilih hidup sederhana dan juga banyak membantu orang-orang miskin. Nabi SAW tak sekadar peduli dengan orang miskin, namun juga ikut merasakan beban mereka lewat kesederhanaannya dalam menjalani hidup. Sungguh Nabi SAW adalah manusia yang tak pernah berlebih-lebihan (foya-foya) dalam menjalani hidup.

Dalam buku “Cahaya Purnama Kekasih Tuhan”, Kiai Hasyim juga mengingatkan bahwa mengimani, taat, mengikuti, dan mencintai Nabi Muhammad SAW adalah wajib untuk muslim. Menurut Kiai Hasyim bahwa tanda mencintai Nabi SAW adalah mengambil suri teladan Nabi SAW, menjalankan sunnahnya, mengikuti sabdanya, moncontoh perbuatannya, menjauhi larangannya, dan berakhlak dengan akhlaknya.

Membaca penjelasan di atas, saya kok rasanya masih sangat jauh untuk mengaku mencintai Nabi SAW, sebab akhlak masih sangat jauh dari akhlak Nabi SAW. Salah satu akhlak Nabi SAW adalah Nabi SAW tak pernah berkata-kata kasar pada orang lain. Sementara banyak yang mengaku cinta pada Nabi SAW justru sangat suka berkata kasar–baik pada sesama muslim maupun nonmuslim. Bahkan, ironisnya, banyak yang menyebarkan kebencian dengan memakai nama Nabi SAW.

Suka menyinggung sesama muslim, mengatai sesama muslim sebagai ahli bidah, musyrik, kafir. Dan tak menjaga hubungan baik dengan nonmuslim. Lantas mengaku cinta pada Nabi SAW. Kalau benar cinta, maka teladani akhlaknya. Nabi SAW orang yang tak suka berkata kasar plus sangat suka membantu orang lain–baik muslim maupun nonmuslim. Jadi, kalau benar mencintai Nabi SAW, maka jaga hubungan baik dengan sesama muslim plus perbagus toleransi antar umat beragama.

Di akhir buku “Cahaya Purnama Kekasih Tuhan”, Kiai Hasyim menjelaskan kebolehan amalan yang banyak dilakukan umat Islam Nusantara dalam mencintai Nabi SAW, yaitu tawasul, istighosah, dan meminta syafaat dengan perantaraan Nabi SAW, para wali, dan orang-orang saleh. Kiai Hasyim menjelaskan bahwa tawasul itu terbagi 2: pertama, tawasul dengan amal-amal saleh, yang disepakati kebolehannya oleh umat Islam. Kedua, tawasul dengan orang-orang yang memiliki keutamaan, yang kebolehannya masih terdapat perbedaan, mayoritas umat Islam membolehkannya dan sebagian melarangnya.

Imam Taqiyuddin as-Subki berkata: “Ketahuilah, bahwa boleh dan baik sekali bertawasul, beristighosah, dan memohon syafaat dengan Nabi SAW untuk memohon kepada Tuhannya Yang Maha Suci dan Maha Agung….”

Salah satu dalil yang memperkuat ini adalah hadis dari Umar bin Khattab ra, yang menjelaskan bahwa saat Nabi Adam as melakukan kesalahan. Nabi Adam as meminta ampun pada Allah swt dengan nama Nabi Muhammad SAW: “Wahai Tuhanku, aku memohon kepadaMu dengan kebenaran Muhammad, ampunilah dosaku.”

Dan masih banyak lagi hadis-hadis sebagai dalil kebolehan tawasul, istighosah, dan syafaat Nabi SAW yang terdapat dalam buku “Cahaya Purnama Kekasih Tuhan.”

Kiai Hasyim menjelaskan bahwa, “… yang dimintai di dalam doa-doa ini adalah Allah Yang Maha EsaYang tiada sekutu bagi-Nya, dan yang dimintai sebagai perantara itu berbeda, dan tidak menetapkan bahwa itu menyekutukan Allah atau memohon kepada selain Allah….” Jadi, tawasul, istighosah, dan memohon syafaat itu tidak syirik. Sebab pada dasarnya tetap bermohon pada Allah SWT.

Buku “Cahaya Purnama Kekasih Tuhan” cocok untuk kita yang mau mengenal sosok Nabi Muhammad SAW. Selain penjelasannya yang ringkas dan ringan (mudah dipahami), buku ini juga menyajikan dalil-dalil dan penjelasan atas amaliyah–tawasul, istighosah, dan mohon syafaat–yang biasa dilakukan umat Islam Nusantara. Amaliyah yang termasuk bagian dari sikap mencintai Nabi Muhammad SAW.

“… barangsiapa menghidupkan sunnahku, maka dia benar-benar telah mencintaiku, dan barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku di surga.” Semoga kita semua termasuk dalam kelompok yang mencintai Nabi Muhammad SAW.

Judul : Cahaya Purnama Kekasih Tuhan
Judul Asli : Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin
Karya : Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari
Penerjemah : Tim Dosen Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Pesantren Tebuireng
Penerbit : Pustaka Tebuireng
Cetakan : II, Maret 2019
Tebal : xv + 189
ISBN : 978-602-880-539-1

Resensi ditulis oleh Moh. Rivaldi Abdul, Aktivis dan Penulis, Alumni S1 PAI IAIN Sultan Amai
Gorontalo. Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

REKOMENDASI

Mertuaku Adalah Bapak Tiriku, Tentang Hukum Pernikahan Besan dan Sebab Mahram Musaharah

Harakah.id - Penyebab lain dari munculnya hubungan mahram adalah akad pernikahan antara suami dan istri. Pernikahan ini membuat masing-masing kedua mempelai...

Syarat Jadi Wali Itu Harus Berilmu, Rekaman Dialog Quraish Shihab Ft. Gus Baha’

Harakah.id - Dalam sebuah talkshow yang dipandu Najwa Shihab, Gus Baha dan Quraish Shibab terlibat dalam dialog yang seru. Salah satu...

Takbiran Setiap Selesai Shalat Fardhu Sampai Penghujung Hari Tasyrik, Bagaimana Hukumnya?

Harakah.id - Mulai sejak Hari Arafah, Kaum Muslimin punya kebiasaan takbiran setiap selesai Shalat Fardhu. Takbiran ini dilakukan sampai selesai Hari...

Download Khutbah Ringkas Idul Adha 2020

Mampu Sholat, Tapi Belum Tentu Mampu Berqurban Allâhu akbar Allahu akbar Allahu akbar la ilaha illallâhu wallâhu akbar, Allâhu akbar wa lillahil hamd... Allahu akbar kabîra wal hamdu lillahi katsîra wa subhanallahi...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Harakah.id - Sunnah hukumnya bagi laki-laki untuk mencukupkan satu istri saja, sekalipun pada dasarnya ia diperbolehkan untuk menambahnya lagi.

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...