Beranda Khazanah Mengenal Pemikir Kontemporer Hasan Hanafi Beserta Pemikirannya

Mengenal Pemikir Kontemporer Hasan Hanafi Beserta Pemikirannya

Harakah.id Hasan Hanafi memandang bahwa teologi bukanlah pemikiran murni yang hadir dalam kehampaan kesejarahan, melainkan merefleksikan konflik-konflik social politik.

Hasan Hanafi, siapa yang tidak mengenal beliau. Beliau adalah sosok pemikir kontemporer yang harum namanya, banyak pemikiran atau karya yang telah dilahirkan oleh beliau. Salah satunya adalah pemikirannya Ilmu kalam yang akan dibahas pada kesempatan kali ini.

Hasan Hanafi lahir pada 13 Februari 1935 di kota Kairo, Mesir. Ia memiliki darah Maroko, karena kakeknya berasal dari Maroko dan neneknya berasal dari bani Mur (Mesir). Pada saat Hasan Hanafi berumur 5 tahun, ia sudah hafal Al-Qur’an. (Achmad Baidhowi, Tafsir Tematik Menurut Hasan Hanafi, jurnal studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Vol. 10, No. 1, 2009, Hal. 38.)

Kritik terhadap teologi tradisional

Dalam gagasan tentang rekonduksi Teologi Tradisional, Hanafi menegaskan perlunya mengubah orientasi perangkat konseptual system kepercayaan (Teologi) sesuai dengan perubahan kontek politik yang terjadi. Teologi tradisional lahir dalam konteks sejarah ketika inti keislaman system kepercayaan, yakni transedensi tuhan, diserang oleh wakil dari sekte dan budaya lama. Teologi itu dimaksudkan untuk mempertahankan doktrin utama dan memelihara kemurniannya.

Hasan Hanafi memandang bahwa teologi bukanlah pemikiran murni yang hadir dalam kehampaan kesejarahan, melainkan merefleksikan konflik-konflik social politik. Menurut Hanafi teologi sesungguhnya bukan ilmu tentang tuhan,yang secara itimologis berasal dari kata Theos dan logos melainkan ilmu tentang kata(ilm al-kalam) karena tuhan tidak tunduk kepada ilmu, Tuhan mengungkapkan diri dalam sabdanya yang berupa wahyu. Ilmu kata adalah tafsir yaitu ilmu hermeneutic yang mempelajari analisis wacana (discourse analisys), bukan saja dari segi bentuk-bentuk murni ucapan melainkan dari segi konteksny,yakni pengertian yang merujuk kepada dunia.

Secara praksis, Hanafi juga menunjukan bahwa teologi tradisional tidak dapat menjadi sebuah “pandangan yang benar-benar hidup”dan member motivasi tindakan dalam kehidupan kongkret umat manusia. Secara praksis teologi tradisional gagal menjadi semacm ideology yang sungguh-sungguh fungsional bagi kehidupan nyata masyarakat muslim. Ia menyatakan, baik secara individual maupun social, umat ini dilanda keterceraiberaian dan terkoyak-koyak. Secara individual fikiran manusia terputus dengan kesadaran.perkataan maupun perbuatannya.

Secara historis, teologi telah meyikap adanya benturan berbagai kepentingan dan sarat  dengan konflik social-politik. Teologi telah gagal pada dua tingkat:

  1. Tingkat teoretis,yaitu gagal mendapat pembuktian ilmiah dan filosofis.
  2. Tingkat praksis,yaitu gagal karena hanya menciptakan apatisme dan negativism.(Didin Saefuddin,Pemikiran modern dan postmodern islam:Jakarta,PT.Grasindo,2003 hal.186)

Rekontruksi Teologi

Untuk memfungsikan teologi menjadi ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi masa kini. Hasan Hanafi melakukan kontruksi dan revisi serta membangun kembali epistemology lama yang rancu dan palsu menuju epistemology baru yang sahih dan lebih signifikan. Tujuan rekontruksi teologi hanafi adalah menjadikan teologi tidak sekedar dogma-dogma keagamaan yang kosong,melainkan menjelma sebagai ilmu tentang pejuang social,yang menjadikan keimanan-keimanan memiliki fungsi secara actual sebagai landasan etik dan motivasi manusia.

Langkah-langkah melakukan rekontruksi teologi dilatarbelakangi oleh:

  1. Kebutuhan akan adanya ideology yang jelas ditengah-tengah pertarungan global antara berbagai ideology.
  2. Pentingnya ideology baru ini bukan semata pada sisi teoritisnya,melainkan juga terletak pada kepentingan praktis untuk secara nyata mewujudkan ideology sebagai gerakan dari sejarah.salah satu kepentingan teologi ini adalah  memecahkan problem kependudukan tanah di Negara-negara muslim.
  3. Kepentingan teology yang bersifat praktis(amaliyah fi’liyah)yaitu secara nyata mewujudkan dalam realitas melalui realisasi tauhid dalam dunia islam.hanafi menghendaki adanya “teology dunia”yaitu teologi baru yang dapat mempersatukan umat islam dibawa satu orde.

Menurut Hanafi rekontruksi teologi merupakan salah satu cara yang mesti ditempuh jika mengharapkan agar teologi dapat memberikan sumbangan yang konkret bagi sejarah kemanusiaan. Selanjutnya Hanafi menawarkan dua hal untuk memperoleh kesempurnaan teori ilmu dalam teologi Islam, yaitu:

Analisis Bahasa

Bahasa serta Istilah-Istilah dalam teologi tradisional adlah warisan nenek moyang dibidang teologi yang merupakan bahasa Khas yang seolah-olah menjadi ketentuan sejak dulu.teologi tradisional memiliki istilah-istilah khas seperti Allah, Iman, Akhirat. Menurut Hanafi semua ini sebenarnya meyingkapkan sifat-sifat dan metode keilmuan, ada yang empiric-rasional seperti iman, amal dan imamah,dan ada yang historis seperti nubuwah serta adapula yang metafisik seperti Allah dan Akhirat.

Analisis Realitas

Analisis ini dilakukan untuk mengetahui latar belakang historis-sosiologis munculnya teologi dimasa lalu,mendeskripsikan pengaruh-pengaruh nyata bagi kehidupan masyarakat dan bagaimana ia mempunyai kekuatan mengarahkan terhadap perilaku para pendukungnya.analisis realitas ini berguna untuk menentukan stressing kearah mana teologi kontemporer harus diorientasikan. (anwar,Rosihon,ilmu kalam,Bandung:cv.pusaka setia,2003 hal237)

Dialektika, Fenomenologi, Dan Hermeunetik

Tiga metode berfikir yang digunakan oleh Hasan Hanafi, antara lain: Dialektika, Fenomenologi dan Hermeunetik.

Pertama, Dialektika adalah metode pemikiran yang didasarkan pada asumsi bahwa proses perkembangan sejarah terjadi lewat konfrontasi dialektis saat tesis melahirkan antitesis dan selanjutnya melahirkan sintesis.

Kedua, Fenomenologi merupakan gagasan Husserl (1859-1938) yang merupakan metode berfikir untuk mencari hakikat sebuah fenomena atau realitas. Hakikat fenomena dapat dicapai menurut Husserl melalui tiga tahap reduksi, pertama reduksi fenomenologis, yaitu suatu objek dipandang apa adanya tanpa ada prasangka. Kedua reduksi eidetik, yaitu menyaring segala sesuatu yang bukan menjadi hakikat objek, untuk mencari dan mengenal fundamental struktur dari objek. Ketiga reduksi transendental, yaitu kesadaran murni, agar dengan objek tersebut seseorang bisa mencapai dirinya sendiri atau bagaimana ide atau gagasan tentang objek tersebut bisa dilaksanakan dalam upaya untuk kebaikan dan kesempurnaan hidup subjek. Tujuan, Hanafi menggunakan fenomenologi untuk menganalisis, memahami, dan memetakan realitas-realitas sosial, politik, ekonomi, realitas dunia Islam, dan relitas tantangan barat yang diatasnya dibangun sebuah revolusi.

Ketiga, Hermeneutik merupakan sebuah cara penafsiran terhadap teks atau simbol yang mensyaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan kondisi masa lalu yang tidak dialami kemudian dibawa pada masa sekarang. Aktifitas penafsirannya terdiri dari tiga segi yang saling berhubungan, teks, perantara/penafsir dan penyampaian kepada audiens. (A. Khudori Sholeh, Filsafat Islam).

Artikel kiriman Ahmad Fauzi, Mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam, UIN Sunan Ampel.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...